Selasa, 09 Juni 2015

bendrio sibarani: Bacaan Alkitab: Yesaya 48: 18-19

bendrio sibarani: Bacaan Alkitab: Yesaya 48: 18-19: Bacaan Alkitab: Yesaya 48: 18-19 Tema: Mendengar dan melakukan Firman Tuhan Saudara-saudara, Pemuda Yang Dikasihi Oleh Tuhan Yesus...

Bacaan Alkitab: Yesaya 48: 18-19



Bacaan Alkitab: Yesaya 48: 18-19
Tema: Mendengar dan melakukan Firman Tuhan
Saudara-saudara, Pemuda Yang Dikasihi Oleh Tuhan Yesus Kristus,
            “Damai sejahtera” merupakan kata yang sangat sering kita dengar dalam kehidupan keberimanan kita sebagai orang Kristen. Kata Damai sejahtera atau “Syalom” dalam bahasa Ibrani, secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu keadaan tanpa permusuhan antara bangsa-bangsa (Band. 1Raj 5:12). Damai sejahtera adalah karunia Allah (Band. Yes 54:10) atau kondisi kehidupan yang di dalamnya tidak ada lagi persoalan, ketakutan, pertikaian, ketidakpastian, permusuhan, iri hati benci dan kemelaratan, dll, secara holistik (menyeluruh). Suasana hidup seperti ini pastilah dambaan dan kerinduan semua orang, termasuk kita para pemuda yang sedang berjuang meraih mimpi dan cita-cita kita. Persoalannya ialah suasana hidup seperti ini tidaklah mudah atau dengan gampang terjadi dalam hidup seseorang. Sebab hidup seperti ini bukanlah semata-mata ciptaan manusia dengan berbagai upaya dalam kehidupannya, melainkan ini adalah merupakan kasih karunia Tuhan Allah.
Umat Israel, zaman Firman ini dituliskan oleh Deutroyesaya, sedang dalam proses pembebasan dari pembuangan dan masa pemulihan menuju kehidupan yang dijanjikan Tuhan Allah. Artinya mereka sedang menuju masa depan yang Tuhan Allah persiapkan. Mereka sedang berjalan ke arah masa depan, masa dan suasana hidup yang baru dan dibaharui Allah. Melalui Deutroyesaya, Allah mengingatkan umat-Nya itu bagaimana dan apa yang perlu mereka lakukan untuk dimungkinkan meraih apa yang mereka impikan ke depan, yakni hidup dalam Damai Sejahtera Allah, hidup yang berkelanjutan dan terpelihara oleh Allah.
Saudara-saudara Pemuda Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
             “Memperhatikan Perintah-Perintah-Ku”, inilah sikap yang sangat dituntut oleh Tuhan Allah dari umat-Nya itu sebagai syarat untuk dimungkinkan menikmati Damai sejahtera, menikmati hidup yang dijamin kelangsungannya oleh Allah. Memperhatikan perintah-perintah Allah, dapat diartikan suatu tindakan yang dilakukan seseorang merespon perintah-perintah Allah dengan melibatkan seluruh kehidupannya, bukan hanya mendengar dengan indera saja, melainkan dari lubuk hatinya yang paling dalam ia merasakan apa yang didengarkan dan kemudian lahirlah dorongan dari dalam diri untuk berbuat seperti apa yang didengar dan dirasakannya. Jadi memperhatikan perintah-perintah Tuhan Allah, dalam hal ini melibatkan seluruh keberadaan hidup manusia tanpa terkecuali. Maka jika demikian halnya, dapat dipahami bahwa ini bukanlah tindakan yang mudah untuk dilakukan. Itulah sebabnya, damai sejahtera itupun demikian mahalnya, jaminan hidup yang kelangsungan dan keberlanjutannya pun tidak murah harganya. Kenapa demikian? Jawabannya ialah, “memperhatikan” butuh perjuangan keras dan tekad serta kesungguhan hati. Setuju atau tidak, siapapun kita akan menghadapi tantangan dan godaan ketika kita sedang berusaha untuk memperhatikan perintah-perintah Tuhan. Ada godaan yang datang dari dalam diri kita sendiri, apakah itu berupa khayalan atau angan-angan tentang sesuatu yang kita inginkan, juga godaan yang datang dari luar yang menggiurkan berupa kenikmatan duniawi, kesenangan sesaat yang tak sesuai dengan kehendak Tuhan. Perhatian kita mungkin saja dibuyarkan oleh gemerlapnya kemajuan dunia dengan segala assesoris duniawi di dalamnya yang membuat kita terbuai dan hanyut dalam impian semu yang tak bermakna di hadapan Tuhan Allah.
Saudara-saudara Pemuda Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Harus kita akui bahwa zaman di mana kita hidup adalah zaman kompetitif, zaman persaingan yang selalu melahirkan yang kalah dan yang menang. Zaman di mana orang-orang berlomba-lomba untuk meraih segala mimpi dengan berusaha mengalahkan orang lain disekitarnya. Tidak sedikit orang yang berjuang matian-matian tanpa kenal lelah berupaya meraih hidup yang menurutnya penuh damai sejahtera, hidup yang menurutnya terjamin kelangsungan dan keberlanjutannya, tanpa menyadari bahwa semua itu hanya bersumber dari Tuhan Allah saja. Karena itu, saat Firman ini diberitakan kepada kita, kita sebagai pemuda yang sedang berjuang meniti, menata dan meraih masa depan, kita diingatkan, bahwa yang pertama dan terutama kita lakukan dalam rangka meraih impian indah dan masa depan yang cemerlang, hidup yang berdamai sejahtera, hidup yang dijamin kelangsungannya, hidup yang dijamin keberlanjutannya (artinya bukan hidup sesaat atau sekejap), adalah “Memperhatikan perintah-perintah Tuhan”. Yakni mendengar dengan hati, melakukannya dengan segenap hati. Janji ini, bukanlah janji-janji palsu, bukan janji kampanye dalam pentas politik, tapi janji ini adalah janji yang amat manis dari Dia yang tak pernah ingkar janji, yaitu Tuhan Allah kita. terpujilah Dia. Amin














Bacaan Alkitab: Matius 7: 24- 27
Mendengar dan Melakukan-Nya
Saudara-saudara, Pemuda yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
             Di zaman postmodern yang kita sedang jalani saat ini, di era banyak orang yang terjebak dengan rutinis kerja, berusaha setiap hari karena tuntutan hidup yang semakin kompleks, bermunculan banyak motivator dalam bentuk yang baru. Jika di era sembilan puluhan pola motivator yang dilaksanakan adalah terjun ke tengah-tengah masyarakat dan bersama melakukan apa yang menjadi maksud dan tujuan, tapi sekarang ini banyak motivator yang bermunculan dengan pola baru, yakni hanya dengan kata-kata atau teori, apakah itu hasil pengalaman hidup sang motivator ataukah itu bagian dari ilmu yang dimilikinya. Yang jelas kata-kata yang mereka sampaikan sungguh memukau, membuat kita terkesima, bahkan kagum. Lihat misalnya motivator sekelas Mario Teguh, yang sangat banyak memiliki fans, baik dalam siaran televisi maupun dalam media sosial seperti facebook ataupun twitter, dll. Kata-kata motivasi yang disampaikan para motivator tersebut sungguh mengena dengan kehidupan kita, bahkan memang masuk akal. Persoalannya adalah apakah dari sekian banyak pendengar itu melakukan apa yang mereka dengarkan? Ataukah yang mereka dengar hanya “sorga telinga”? atau hanya sekedar untuk menenangkan perasaan? Memang Harus diakui bahwa “mendengar itu mudah, tapi melakukan yang didengar itulah yang sulit”. Padahal apalah artinya jika sekedar mendengar tetapi tidak melakukan, apakah terjadi atau terlaksana seperti yang didengar? Tetapi bagi sang motivator seperti sekarang ini, yang terpenting bagi mereka ialah apa yang mereka sampaikan ada yang mendengarnya, mau dilakukan atau tidak, itu tidak menjadi masalah, yang terpenting bagi mereka adalah acara mereka laku, mereka memiliki fans yang banyak dan rating program mereka tinggi di televisi.
Saudara-saudara, Pemuda yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Perihal mendengar dan melakukan apa yang didengar, menjadi perhatian serius Tuhan Yesus. Bagi Tuhan Yesus antara mendengar dan melakukan merupakan dua sikap atau tindakan yang tidak terpisahkan satu dengan yang lain. Bagi Tuhan Yesus, setiap orang yang mendengar dan melakukan dalam hal ini Firman Tuhan, ia sama seperti orang yang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu, apabila turun hujan dan datang banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh. Tetapi jika hanya sampai pada titik mendengar saja maka seseorang itu seumpama orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir, ketika hujan turun, angin melanda, maka rubuhlah rumah itu. Tidak sulit mengerti perkataan Tuhan Yesus ini, dengan mudah dapat dimengerti kenapa rumah yang dibangun di atas batu tidak rubuh ketika hujan, angin badai melanda, sebab pondasinya kokoh atau kuat, berbeda dengan rumah yang didirikan di atas pasir, tentulah rubuh jika hujan dan angin melanda karena pondasinya tidak kuat atau tidak kokoh. Dapat ditarik kesimpulan bahwa bagi Tuhan Yesus, pondasi itu sangat penting dan sangat menentukan eksistensi dan keberlangsungan hidup setiap orang. Sebab pondasi merupakan dasar bagi berdirinya sebuah bangunan, menjadi penopang keseluruhan bangunan. Bukan hanya dalam bangunan, dalam hal apapun pondasi itu sangat penting dan menentukan, dalam persaingan bisnis misalnya, besarnya modal atau asset sipebisnis akan menentukan kekuatan bisnisnya, dalam kompetisi atau perlombaan dalam bidang apapun, pondasinya adalah skill, kemampuan, sangat menentukan kemungkinan untuk bisa menang dalam perlombaan. Bagaimana dengan pondasi hidup kita sebagai orang percaya? Inilah yang menjadi perhatian serius Tuhan Yesus.
Saudara-saudara, Pemuda yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Bagi Tuhan Yesus, mendengar dan melakukan Firman Allah merupakan pondasi kehidupan yang membuat manusia itu kuat dan kokoh dalam menjalani kehidupannya. Dalam hal ini, sesungguhnya Tuhan Yesus mengetahui persis bahwa yang namanya kehidupan akan diperhadapkan pada berbagai pergumulan, tantangan, rintangan, duka, akan ada angin, hujan bahkan badai. Nah untuk itu Tuhan Yesus menegaskan bahwa kunci utama agar mampu menghadapi semua itu, setiap orang harus seperti orang yang bijaksana, yakni mendirikan rumah di atas batu, yaitu dengan cara mendengar dan melakukan Firman Allah. Sekali lagi mendengar dan melakukan Firman Allah adalah tindakan yang tidak terpisahkan. Bagaimana mungkin kita tahu melakukan Firman Allah jika kita tak mendengarkannya?atau jika kita hanya mendengar, maka kita akan sama dengan orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir, akan lekas rubuh. Untuk dapat mendengar Firman Allah, respon dan sikap dari kitapun juga dituntut, yakni tentunya penting untuk memberi diri bersekutu di dalam Tuhan di mana Firman-Nya diberitakan. Ingat bahwa Firman Allah itu bukanlah sekedar sorga telinga, yang hanya menentramkan hati dan perasaan kita, tapi Firman itu harus diaplikasikan dalam kehidupan. Janji Tuhan Yesus, bahwa orang yang mendengar dan melakukan Firman-Nya maka pondasi hidupnya akan kokoh dan kuat. Maka jangan pernah kuatir kalaupun ada tantangan yang kita hadapi, janganlah kuatir kalaupun kita diputus pacar, kita tidak lulus test, gagal meraih yang direncanakan, dan lain-lain. Kita tidak akan rubuh, kita akan tetap eksis dengan keberhasilan yang Tuhan rancang dan rencanakan. Percayalah saudaraku, pondasi hidup yang kokoh dan kuat sangat menentukan masa depan kita, sangat menentukan kesuksesan kita dalam melewati segala macam bentuk tantangan dan rintangan hidup. Percayalah selalu, bahwa masa depan, cita-cita dan cinta yang kita impikan sungguh akan sangat bernilai dan dapat kita raih dengan pondasi hidup yang kokoh dan kuat, kita tidak akan mudah menyerah dan mengaku kalah, kita tidak akan mudah putus asa, melainkan kita akan kuat berdiri menghadapi semuanya. Maka karena itu, seharusnya kita mesti  ingat, kita adalah prajurit Kritus, yang harus selalu mendengar dan melakukan Firman-Nya dengan berkata: “Siap, lakukan”. Amin.






Bacaan Alkitab: Amsal 13: 13- 16
Menghargai Firman dan Menaati Perintah-Nya
Saudara-saudara, Pemuda yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Kitab Amsal merupakan kitab yang mendengungkan selalu hikmat atau kebijaksanaan. Dalam tradisi masyarakat Timur Tengah, pada zamannya menempatkan hikmat atau kebijaksanaan pada posisi tertinggi dalam kehidupan. Hikmat diyakini berasal dan bersumber dari Sang Pencipta. Hikmat atau kebijaksanaan meliputi tekhik, teori dan etika kehidupan. Hikmat itu meliputi seluruh sendi kehidupan. Dalam kitab Amsal, hikmat juga berisi etika keagamaan dan menempatkan Allah sebagai pusat pemikiran. Hikmat juga berisi pengajaran, didikan, arahan, nasehat, dan lain-lain, tentang bagaimana manusia seharusnya berhubungan dengan manusia lainnya dan sesama ciptaan dan juga bagaimana manusia hidup dengan bijaksana di hadapan Tuhannya. Karena hikmat diyakini hanya bersumber dari Allah pencipta, maka wajar jika hikmat atau kebijaksanaan itu dipuja-puja dan ditinggikan.  Dalam hal keberimanan, atau dengan kata sederhana, dalam hidup beragama, hikmat atau kebijaksanaan menempati posisi yang penting. Ukuran seseorang dalam hidup beriman akan nampak melalui kebijaksanaan atau hikmat yang dimilikinya. Dalam hal ini, sikap atau respon seseorang dalam hal menerima Firman Tuhan menjadi ukuran bagaimana seseorang itu dapat disebut berhikmat atau bijaksana dalam hidupnya sebagai orang beriman. Orang berhikmat atau bijaksana sangat ditentukan oleh sikapnya terhadap Firman Tuhan atau terhadap perintah atau ajaran Tuhan. Maka dengan demikian, umur atau strata seseorang bukanlah faktor yang menentukan bijak atau berhikmatnya seseorang, melainkan sikapnya terhadap Firman Tuhannya.
Saudara-saudara, Pemuda yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Bacaan Alkitab saat ini juga berbicara tentang sikap seseorang dalam merespon Firman Tuhan dan perintah Tuhan. Dikatakan bahwa siapa yang meremehkan Firman, akan menanggung akibatnya. “meremehkan” dapat diartikan sebagai sikap seseorang yang merendahkan, mengabaikan, menganggap tidak penting, menganggap rendah. Sikap seperti ini sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan yang menginginkan setiap orang berhikmat dan bijaksana di hadapan-Nya. Karena itu, orang yang berperilaku seperti ini menurut pengamsal akan menanggung akibatnya. Demikian pula halnya dengan sikap taat akan perintah Allah, akan mendapatkan balasan. Maka, dapat disimpulkan bahwa setiap sikap dalam merespon Firman Allah selalu mengandung konskwensi yang akan diterima. Tergantung sikap seperti apa yang dilakukannya. Kalau dalam versi Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari Ams 13:13  berbunyi demikian: Orang yang meremehkan ajaran TUHAN, mencelakakan dirinya; orang yang taat kepada hukum Allah akan mendapat upahnya.    
Maka jelas bagi kita, bahwa akibat dari meremehkan Firman adalah kecelakaan, dan ketaatan kepada perintah Allah akan mendatangkan upah. Ini bukanlah sebuah kata-kata yang sekedar menakut-nakuti kita sebagai orang-orang percaya, melainkan ini mengajar kita supaya sebagai pemuda-pemudi Kristen, kita mengerti dan mengetahui bagaimana seharusnya kita bersikap sehingga kita tidak mencelakakan diri kita di masa muda kita ini. Kita harus sadar, bahwa tidak sedikit dari pemuda-pemudi di masa kini yang akhirnya hidup dalam penyesalan karena sikap mereka yang meremehkan Firman dan tidak taat kepada perintah Tuhannya. Tidak sedikit yang akhirnya mengakhiri masa mudanya dengan menikah tanpa perencanaan yang matang yang kemudian cerai, ada yang hamil di luar nikah dan melakukan aborsi, menjadi singgle parents, (punya anak tanpa menikah dan tak punya suami), ada yang terjebak pada ketergantungan minuman keras, narkoba, hidup tanpa masa depan yang jelas, ada yang menjomblo sampai tua karena tak mempunyai penghasilan hidup, karena kehilangan percaya diri akibat ketergantungan pada narkoba di masa silam, akibat seks bebas dan lain sebagainya. Harus dengan berani dikatakan, bahwa orang-orang seperti ini, pastilah orang-orang yang meremehkan Firman Tuhan dan tidak taat pada perintah Tuhannya. Orang-orang seperti telah mencelakakan dirinya karena mereka tidak menghargai dan tidak mengindahkan Firman Tuhan serta tidak taat pada perintah Tuhan. Akhir dari hidupnya hanyalah penyesalan belaka.
Pemuda-pemudi Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Zaman di mana kita hidup saat ini, sungguh harus disadari sangat berbeda dengan kehidupan orang-orang tua kita dulu. Perkembangan ilmu dan teknologi yang serba canggih sekarang ini tidak melulu berdampak positif bagi kehidupan kita, melainkan ada banyak dampak negatif yang jika tidak disikapi dengan bijaksana akan membuat kita terjebak di dalamnya yang pada akhirnya kita bisa menjadi orang-orang yang menyesal di kemudian hari. Nilai-nilai kearifan semakin terkikis habis, demikian juga dengan nilai-nilai etis di dalam berkomunikasi, juga tentang penghargaan pada nilai-nilai agama. Tidak sedikit pemuda-pemudi sekarang ini, terjerumus pada nikmatnya dunia media sosial yang menggiurkan bisa melakukan apapun dengan bebas selagi tidak mengandung kriminalitas, padahal tidak sesuai dengan Firman dan perintah Tuhannya.  Maka mengetahui semua ini, sebagai pemuda-pemudi Kristen, kepada kita diberikan pelajaran berharga melalui kitab kebijaksanaan saat ini, bahwa penghargaan pada Firman Tuhan akan membuat kita terbebas dari sikap mencelakakan diri, dan ketaatan kepada perintah Tuhan Allah akan membuat kita menerima upah. Semua hal yang sedang berlaku dan terjadi dalam kehidupan kita dan di sekitar kehidupan kita saat ini, akan dapat kita hadapi, nikmati dan jalani dengan mengambil setiap hal positif darinya tanpa kita terjebak pada sikap meremehkan Firman Allah dan melalaikan perintah-Nya. Kuncinya ialah selalu menyadari identitas diri kita sebagai pemuda-pemudi Kristus, yang telah ditebus dan diselamatkan, dikuduskan, yang diberi tugas untuk menjadi garam dan terang. Maka percayalah saudaraku, penghargaan kita kita Firman Allah, dalam meresponnya dan ketaatan kita dalam melakukan perintah-Nya akan menjadikan kita sebagai orang-orang muda yang memiliki masa depan yang cerah dan cemerlang. Jika sekiranya kita pernah jatuh pada kesalahan ini, maka saatnya bangkit dan kembali kepada Dia yang berfirman dan taat pada Perintah-Nya, maka hidup akan dipulihkan-Nya dan kebahagiaan menjadi milik kita. Amin.


Bacaan Alkitab: 1 Tessalonika 2: 13-20
Memaknai Firman Allah Melalui Kasih
Pemuda-pemudi Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Rasul Paulus dapat dijuluki sebagai sipengucap syukur yang sejati. Bahwa bagi dia, konsep mengucap syukur adalah dalam segala hal. Dia malah mampu mengucap syukur dalam kondisi hidup yang terpenjara sekalipun dan keadaan atau situasi tidak menghalanginya untuk bersyukur dan mengajak orang untuk bersyukur. Rasul Paulus juga mampu melihat segala hal sebagai alasan baginya mengucap syukur, termasuk kehidupan orang-orang lain yang telah mengalami kemajuan hidup, tentang pekerjaan Injil yang semakin mendapat respon dan dia juga mensyukuri kehidupan orang-orang  yang merespon dengan baik, yakni mendengar dan menerima Firman Tuhan yang diberitakan kepada mereka. Pendek kata, Rasul Paulus sungguh mampu tindakan mengucap syukurnya kepada Allah bukan karena kepentingan dirinya sendiri maupun karena keberadaannya. Sikap tidak egois sangat nampak dalam setiap sikap Paulus dalam mengucap syukur kepada Tuhan. Yang terutama baginya dalam mengucap syukur adalah karena pekerjaan Allah dapat terlaksana, yakni ketika orang-orang yang menerima berita Injil itu hidup seperti yang dikehendaki Tuhan Allah melalui Injil-Nya yang diberitakan. Respon yang baik dan positif dari jemaat di Tessalonika terhadap Injil yang diberitakan oleh Rasul Paulus dan kawan-kawannya menjadi alasan bagi Paulus untuk terus menerus mengucap syukur kepada Tuhan. Respon itu jelas, yakni bahwa jemaat-jemaat di Tessalonika dengan benar memahami dan memaknai Injil yang diberitakan kepada mereka bukanlah perkataan manusia melainkan benar sebagai Firman Allah yang bekerja di dalam diri mereka. Paulus sangat bangga, sebab Jemaat di Tessalonika sungguh-sungguh menghargai Injil itu sebagai Firman Allah, dalam hal ini Tuhan Allahlah yang dijadikan sebagai pusat kehidupan mereka. Kemudian, Paulus juga melihat bahwa buah dari pemberitaan mereka telah melahirkan sikap solidaritas yang tinggi dalam kehidupan jemaat di Tessalonika yang terlihat dari kasih mereka yang peduli terhadap saudara-saudara mereka yang teraniaya di Yudea. Jemaat Tuhan di Tessalonika telah turut merasakan derita saudara seiman mereka di Yudea.
Saudara-saudara, Pemuda-pemudi Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Seperti halnya Paulus, semua pelayan Tuhan pastilah bersyukur apabila pekerjaan atau pelayanan mereka membuahkan hasil seperti yang dirindukan. Buah atau hasil pekerjaan pelayanan dalam kehidupan beriman tidak lain adalah semua orang yang dilayani, semua orang yang menerima pemberitaan Injil benar-benar memaknai Injil yang diberitakan adalah Firman Allah dan bukti dari penerimaan akan Injil tersebut adalah lahirnya kasih dari dalam diri yang nampak dari sikap peduli terhadap kehidupan sesamanya. Kerinduan seperti ini tidaklah mudah tercapai. Tidak sedikit orang-orang yang terjebak pada pemaknaan yang keliru terhadap Injil yang diberitakan kepada mereka. Ada saja orang yang hanya mendengar dan menerima Injil sebagai penyegar hidupnya sendiri tanpa membuahkan sikap kasih kepada orang lain yang pada akhirnya jatuh pada kesombongan rohani. Dalam kasus yang lain, ada saja orang yang menjadi tawar hati ketika mendengar Injil dari orang-orang  (pelayan) yang mereka kenal dekat, saudara mereka sendiri atau karena kemampuan yang rendah menjadi tidak merespon Injil itu dengan benar sehingga Injil yang diberitakan kepadanya dianggapnya perkataan orang biasa yang tak bermakna apa-apa karena mereka yang memberitakannya dipandang rendah. Inilah sikap yang sangat bertolak belakang dengan harapan dan kerinduan Rasul Paulus. Peristiwa seperti ini mengingatkan kita bagaimana Injil yang diberitakan Yesus menjadi tidak diperhatikan ketika orang-orang Farisi dan teman sekampungnya hanya menganggap Yesus sebagai anak situkang kayu. Akhirnya nasib mereka menjadi sangat malang sehingga mereka menolak Yesus, mengusir bahkan kemuadian membunuh Yesus.
Pemuda-pemudi Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Bagaimana dengan kita sekalian, sebagai generasi yang akan meneruskan kehidupan gereja Tuhan di muka bumi ini? Apakah kita mampu menjadi mahkota, menjadi kemuliaan bagi pelayan-pelayan Tuhan yang memberitakan Injil kepada kita? apakah kita benar-benar mampu menjadi orang-orang yang membanggakan dalam kehidupan ini? Apakah kebanggaan bagi orangtua kita, kebanggaan bagi Jemaat? Terutama menjadi kebanggaan di hadapan Tuhan? Respon dan perilaku kita dalam menerima, memaknai Injil sebagai Firman Allah akan menjawab semuanya. Kemudian buah melalui perilaku kita berdasarkan berita Injil yang kita terima yang terimplementasi melalui kasih kepada sesama kita juga menjadi bukti bahwa kita sungguh-sungguh hidup menurut kehendak Tuhan berdasarkan Firman-Nya. Kapan hal itu dimulai dalam kehidupan orang percaya? Sekaranglah saatnya. Saat di mana kita sedang berjuang memasuki kehidupan dewasa yang bertanggung jawab penuh atas hidup kita, saat di mana kita sedang berusaha mencari jati diri, saat di mana kita sedang berjuang meraih segala impian dan cita-cita. Kunci dari semua ini adalah, pertama-tama kita harus memberi diri untuk menjadi pendengar Injil, kemudian dalam proses mendengar itu, kita benar-benar memaknai bahwa berita Injil yang kita dengar itu adalah Firman Allah yang mestinya bekerja di dalam diri kita, selanjutnya kita menjadi pelaku-pelaku Firman yang terlihat dari kasih, kepedulian kita kepada sesama, terutama mereka yang sedang dalam penderitaan dan kesusahan oleh berbagai sebab. Percayalah.., bahwa ketika kita sungguh-sungguh memberi penghargaan yang benar kepada Firman Allah dan Firman itu bekerja di dalam diri kita, dan mengaplikasikan itu melalui kasih, maka kita akan menyenangkan Tuhan. Terpujilah Kristus. Amin

bendrio sibarani: Khotbah Minggu Kristen

bendrio sibarani: Khotbah Minggu Kristen: Bacaan Alkitab: Mazmur 78: 32- 55; Matius 6: 25- 34; 1 Petrus 5: 5- 11 KETEGUHAN IMAN YANG SEMPURNA Saudara-saudara, Sidang Jemaat...

bendrio sibarani: Khotbah Minggu Kristen

bendrio sibarani: Khotbah Minggu Kristen: Bacaan Alkitab: Mazmur 78: 32- 55; Matius 6: 25- 34; 1 Petrus 5: 5- 11 KETEGUHAN IMAN YANG SEMPURNA Saudara-saudara, Sidang Jemaat...

Kamis, 07 Mei 2015

bendrio sibarani: Materi Pembinaan Warga Gereja

bendrio sibarani: Materi Pembinaan Warga Gereja: INTEGRITAS PEMIMPIN KRISTEN Pdt. Bendrio P. Sibarani [1] Pengantar             Pertama-tama, saya patut memberikan apresiasi kepad...

Materi Pembinaan Warga Gereja

INTEGRITAS PEMIMPIN KRISTEN
Pdt. Bendrio P. Sibarani[1]

Pengantar
            Pertama-tama, saya patut memberikan apresiasi kepada Senat Mahasiwa untuk periode ini, sebab selama ini Senat mahasiswa dalam program-programnya kurang memberi perhatian khususnya yang bertemakan “Kepemimpinan”. Semoga ke depan program seperti ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga melalui organisasi ini, lahir pemimpin-pemimpin Kristen yang berkualitas. Berbicara tentang kepemimpinan yang berkualitas, itu berarti tak bisa tidak, kita harus berbicara tentang integritas. Krisis integritas pemimpin dewasa ini menjadi masalah besar dalam dinamika kehidupan manusia. Sangat sulit mencari orang yang saleh, benar, jujur, setia, tulus hati dan bertanggung jawab. Tidak jarang telinga kita mendengar kicauan para pemimpin (politik maupun pemimpin agama) yang mengembar-gemborkan janji-janji palsu dan program-program politik maupun keagamaan demi sebuah jabatan tertentu. Tetapi setelah itu, semuanya menjadi sirna, dilupakan dan hambar ketika telah berhasil menduduki kursi jabatan yang diimpikannya. Bukan karena mereka tidak memiliki visi dan misi, tetapi karena miskin dan rendahnya integritas. Rendahnya integritas yang dimiliki seorang pemimpin dapat melumpuhkan visi dan misi yang dimilikinya.
            Bukan hanya dalam kepemimpinan sebuah organisasi, tetapi juga dalam memimpin diri sendiri, masalah integritas seringkali dipertanyakan pada setiap orang, termasuk mahasiswa Teologi yang adalah pemimpin bagi dirinya dan yang sedang dipersiapkan menjadi pemimpin umat ke depan. Sebab, orang yang tidak berhasil memimpin diri tidak layak menjadi pemimpin bagi orang lain. Sesuai tema yang diberikan kepada saya, yakni “Integritas Pemimpin Kristen”, maka pertama-tama kita perlu mengerti arti dan definisi tema ini.

 Integritas
            Secara sederhana arti kata “integritas” dapat dimengerti sebagai “keadaan yang sempurna, di mana perkataan dan perbuatan menyatu dalam diri seseorang”. Kata integritas berasal dari kata sifat Latin “integer” (utuh, lengkap). Dalam konteks ini, integritas adalah rasa batin “keutuhan” yang berasal dari kualitas seperti kejujuran dan konsistensi karakter. Secara definisi kata integritas berasal dari bahasa Inggris yakni “integrity”, yang berasal dari akar kata “integer” yang berarti “menyeluruh, lengkap atau segalanya”. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, “Integritas” diartikan sebagai keterpaduan, kebulatan, keutuhan, jujur dan dapat dipercaya. Ini berarti bahwa orang yang memiliki integritas adalah orang yang memiliki keutuhan yakni satunya kata dan tindakan, jujur dan dapat dipercaya.[2].
Jhon Stott pernah menuliskan demikian, “Integritas adalah ciri orang-orang yang terintegrasi secara selaras, yang di dalam dirinya tidak ada dikotomi antara kehidupan pribadi dan kehidupan di muka umum, antara yang disaksikan dan yang diterapkan, antara yang diucapkan dan yang dilakukan.[3] Maksudnya, keselarasan antara perkataan dan perbuatan itu harus menjadi ciri khas orang-orang yang hidup terintegrasi. Integritas sebagai karakter bukanlah dilahirkan atau ada dengan sendirinya, melainkan merupakan hasil dari pengembangan diri tahap demi tahap dalam kehidupan seseorang, melalui kehidupan yang mau  belajar dan terus belajar. Integritas merupakan modal utama bagi seorang pemimpin. Untuk itu, syarat utama bagi seorang pemimpin ialah harus memiliki integritas.
               Jadi dapat disimpulkan bahwa integritas adalah kesesuaian atau kebersamaan antara perkataan dan perbuatan. Integritas bukan apa yang kita lakukan, tetapi siapa kita sesungguhnya.

Pemimpin Kristen
               Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan memimpin pada berasal dari kata dasar yang sama "pimpin". Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu lakon/peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan tidak bisa dimiliki oleh orang yang bukan "pemimpin". Menurut Kartini Kartono, pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan[4].
              (dapatkan materi ini dengan menghubungi: sibaranipdt.bendrio@yahoo.co.id)

TUGAS PANGGILAN GEREJA
Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Teol

I.       Pengantar
            Berbicara tentang Tugas Panggilan Gereja, bukan lagi pembicaraan yang asing bagi kita sekalian, khususnya kita sebagai para Pelayan, baik Majelis Jemaat maupun Pengurus-pengurus Pelka. Ketika mendengar Tugas Panggilan Gereja, pastilah terbesit di ingatan dan pikiran kita, tugas itu ialah dalam hal; Persekutuan (Koinonia), Kesaksian (Marturia) dan Pelayanan (Diakonia) atau yang biasa disebut “Tri Tugas Panggilan Gereja”. Meskipun tiga tugas Panggilan Gereja ini sudah bukan kata atau istilah yang asing dalam kehidupan bergereja, akan tetapi pemaknaan dan pemahaman serta dalam aksi, tugas panggilan gereja tersebut masih merupakan proses yang diharapkan selalu dinamis sehingga dalam melaksanakan dan mewujudkan tugas pelayanan tersebut para pelayan Tuhan selalu menuju pada kesempurnaan melayani Tuhannya.
Dalam Tata Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID)[2], Tugas panggilan Gereja ini diuraikan dengan jelas pada Peraturan-peraturan Dasar Bab VI Pasal 10;
Tugas Panggilan:
1.      Mewujudkan persekutuan atas dasar Yesus Kristus, baik untuk seluruh jemaat GPID Maupun dengan Gereja-gereja di Indonesia dan seluruh dunia (Koinonia)
2.      Memberitakan Injil Kerajaan Allah Kepada semua bangsa dan segala mahluk (Marturia)
3.      Melaksanakan pelayanan kasih kepada semua orang dan segala Mahluk (Diakonia)
Demikian juga halnya dalam tugas panggilan Pelayanan Kategorial[3]. Dengan  demikian, jelas bahwa mengenai Tugas Panggilan Gereja telah dimuat dengan jelas dalam Tata Gereja GPID. Untuk menyegarkan pemahaman kita kembali tentang Tugas Panggilan Gereja, baiklah kita menyimak Makalah sederhana ini. 

II.       Tugas Panggilan Gereja
a.      Apa itu Tugas?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “ Tugas” diartikan sebagai: Kewajiban yang harus dikerjakan, pekerjaan yang merupakan tanggungjawab; pekerjaan yang dibebankan; perintah untuk berbuat atau melakukan sesuatu”.[4] Dalam hubungannya dengan Gereja, maka dapat dipahami bahwa Tugas merupakan; kewajiban atau tanggungjawab yang harus dilakukan oleh setiap Orang percaya sesuai dengan maksud dan tujuan yang memberikan tugas tersebut, yaitu Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja.
b.      Panggilan
Kata “ Panggilan” berasal dari kata “Panggil”. Dalam hal ini, Tuhan Yesus Kristus Sang Kepala Gerejalah yang memanggil kita Gereja-Nya untuk Datang kepada-Nya, kemudian pergi bagi Dia. Jadi, “Panggilan”  dapat dipahami sebagai tindakan memberi diri secara total kepada Tuhan Yesus bukan hanya untuk datang kepada-Nya, tetapi juga untuk pergi bagi Dia (Pemanggilan dan pengutusan). Panggilan juga harus dipahami sebagai ajakan, undangan untuk melakukan sesuatu pekerjaan sesuai dengan kehendak yang memanggil, yakni Tuhan Yesus Kristus. 

c.       Gereja
Gereja (ekklesia) yang berarti sidang, perkumpulan, perhimpunan, paguyuban pada umumnya (seperti di kampung, di kota atau negara). Kata ini juga yang kemudian dipakai gereja untuk menamai kelompok orang yang percaya kepada Kristus setelah peristiwa salib dan kebangkitan Yesus Kristus[5].
Menurut Robertus Belarminos, Gereja adalah suatu bentuk manusia yang khusus.[6]  Kata “Gereja” yang dipakai sekarang dan digunakan secara luas dalam masyarakat Indonesia sesungguhnya berasal dari bahasa Portugis[7] yakni “Igreja” yang berarti “persekutuan”. Gereja juga diyakini oleh orang-orang Kristen sebagai wahyu dari Tuhan dalam arti yang sesungguhnya[8], artinya Gereja adalah sesuatu yang benar-benar difirmankan oleh Allah untuk dijadikan sebagai alat pemersatu dan sekaligus perekat semua orang Kristen (pengikut Yesus Kristus).
Menurut John Titaley, Gereja adalah organisasi keagamaan “universal” yang baru bermakna dalam konteks sosial tertentu, walaupun secara teologis bisa dirumuskan sebagai mitra kerja Allah yang ditempatkan dalam suatu konteks sosial tertentu.[9] Gereja juga adalah praeformasi atau bentuk pendahuluan dari pada umat manusia yang baru, gereja menuju kepada penyataan yang sepenuhnya dari kerajaan Allah yang hidup dari dan dalam abad kebangkitan.[10] Gereja harus dipahami sebagai sebuah terminologi yang mengikat pada masa dahulu, kini dan pada masa yang akan datang.

1.      Gereja Sebagai Persekutuan Orang Percaya
Gereja sebagai persekutuan orang percaya merupakan sebuah tatanan kehidupan sosial masyarakat yang berbasis dan bertumpu pada ajaran-ajaran Injil yang mengikat erat anggotanya dalam iman seorang dengan yang lain. Persekutuan Kristen pertama kali dikenal dengan sebutan “Kristen” adalah di Antiokhia yakni di daerah Siria (Kisah Para Rasul 11: 26). Orientasi kehidupan bergereja adalah Yesus Kristus, yang melakukan kehendak Allah di dalam kebenaran dan kebangkitan Yesus, di mana orang percaya dibangkitkan pada kehidupan baru  ( Roma 6 : 4).
(dapatkan materi ini dengan menghubungi: sibaranipdt.bendrio@yahoo.co.id)
III.             Penutup
Demikianlah secara umum mengenai Tugas Panggilan Gereja. Semoga Paper sederhana ini berguna memotivasi kita untuk lebih mendalami hakekat tugas Panggilan kita dalam melayaniNya melalui Pelayanan Kategorial di jemaat-jemaat-Nya. Tuhan Memberkati.                              

Materi Pembinaan Warga Gereja



INTEGRITAS PEMIMPIN KRISTEN
Pdt. Bendrio P. Sibarani[1]

Pengantar
            Pertama-tama, saya patut memberikan apresiasi kepada Senat Mahasiwa untuk periode ini, sebab selama ini Senat mahasiswa dalam program-programnya kurang memberi perhatian khususnya yang bertemakan “Kepemimpinan”. Semoga ke depan program seperti ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga melalui organisasi ini, lahir pemimpin-pemimpin Kristen yang berkualitas. Berbicara tentang kepemimpinan yang berkualitas, itu berarti tak bisa tidak, kita harus berbicara tentang integritas. Krisis integritas pemimpin dewasa ini menjadi masalah besar dalam dinamika kehidupan manusia. Sangat sulit mencari orang yang saleh, benar, jujur, setia, tulus hati dan bertanggung jawab. Tidak jarang telinga kita mendengar kicauan para pemimpin (politik maupun pemimpin agama) yang mengembar-gemborkan janji-janji palsu dan program-program politik maupun keagamaan demi sebuah jabatan tertentu. Tetapi setelah itu, semuanya menjadi sirna, dilupakan dan hambar ketika telah berhasil menduduki kursi jabatan yang diimpikannya. Bukan karena mereka tidak memiliki visi dan misi, tetapi karena miskin dan rendahnya integritas. Rendahnya integritas yang dimiliki seorang pemimpin dapat melumpuhkan visi dan misi yang dimilikinya.
            Bukan hanya dalam kepemimpinan sebuah organisasi, tetapi juga dalam memimpin diri sendiri, masalah integritas seringkali dipertanyakan pada setiap orang, termasuk mahasiswa Teologi yang adalah pemimpin bagi dirinya dan yang sedang dipersiapkan menjadi pemimpin umat ke depan. Sebab, orang yang tidak berhasil memimpin diri tidak layak menjadi pemimpin bagi orang lain. Sesuai tema yang diberikan kepada saya, yakni “Integritas Pemimpin Kristen”, maka pertama-tama kita perlu mengerti arti dan definisi tema ini.

 Integritas
            Secara sederhana arti kata “integritas” dapat dimengerti sebagai “keadaan yang sempurna, di mana perkataan dan perbuatan menyatu dalam diri seseorang”. Kata integritas berasal dari kata sifat Latin “integer” (utuh, lengkap). Dalam konteks ini, integritas adalah rasa batin “keutuhan” yang berasal dari kualitas seperti kejujuran dan konsistensi karakter. Secara definisi kata integritas berasal dari bahasa Inggris yakni “integrity”, yang berasal dari akar kata “integer” yang berarti “menyeluruh, lengkap atau segalanya”. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, “Integritas” diartikan sebagai keterpaduan, kebulatan, keutuhan, jujur dan dapat dipercaya. Ini berarti bahwa orang yang memiliki integritas adalah orang yang memiliki keutuhan yakni satunya kata dan tindakan, jujur dan dapat dipercaya.[2].
Jhon Stott pernah menuliskan demikian, “Integritas adalah ciri orang-orang yang terintegrasi secara selaras, yang di dalam dirinya tidak ada dikotomi antara kehidupan pribadi dan kehidupan di muka umum, antara yang disaksikan dan yang diterapkan, antara yang diucapkan dan yang dilakukan.[3] Maksudnya, keselarasan antara perkataan dan perbuatan itu harus menjadi ciri khas orang-orang yang hidup terintegrasi. Integritas sebagai karakter bukanlah dilahirkan atau ada dengan sendirinya, melainkan merupakan hasil dari pengembangan diri tahap demi tahap dalam kehidupan seseorang, melalui kehidupan yang mau  belajar dan terus belajar. Integritas merupakan modal utama bagi seorang pemimpin. Untuk itu, syarat utama bagi seorang pemimpin ialah harus memiliki integritas.
               Jadi dapat disimpulkan bahwa integritas adalah kesesuaian atau kebersamaan antara perkataan dan perbuatan. Integritas bukan apa yang kita lakukan, tetapi siapa kita sesungguhnya.

Pemimpin Kristen
               Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan memimpin pada berasal dari kata dasar yang sama "pimpin". Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu lakon/peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan tidak bisa dimiliki oleh orang yang bukan "pemimpin". Menurut Kartini Kartono, pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan[4].
              (dapatkan materi ini dengan menghubungi: sibaranipdt.bendrio@yahoo.co.id)

TUGAS PANGGILAN GEREJA
Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Teol

I.       Pengantar
            Berbicara tentang Tugas Panggilan Gereja, bukan lagi pembicaraan yang asing bagi kita sekalian, khususnya kita sebagai para Pelayan, baik Majelis Jemaat maupun Pengurus-pengurus Pelka. Ketika mendengar Tugas Panggilan Gereja, pastilah terbesit di ingatan dan pikiran kita, tugas itu ialah dalam hal; Persekutuan (Koinonia), Kesaksian (Marturia) dan Pelayanan (Diakonia) atau yang biasa disebut “Tri Tugas Panggilan Gereja”. Meskipun tiga tugas Panggilan Gereja ini sudah bukan kata atau istilah yang asing dalam kehidupan bergereja, akan tetapi pemaknaan dan pemahaman serta dalam aksi, tugas panggilan gereja tersebut masih merupakan proses yang diharapkan selalu dinamis sehingga dalam melaksanakan dan mewujudkan tugas pelayanan tersebut para pelayan Tuhan selalu menuju pada kesempurnaan melayani Tuhannya.
Dalam Tata Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID)[2], Tugas panggilan Gereja ini diuraikan dengan jelas pada Peraturan-peraturan Dasar Bab VI Pasal 10;
Tugas Panggilan:
1.      Mewujudkan persekutuan atas dasar Yesus Kristus, baik untuk seluruh jemaat GPID Maupun dengan Gereja-gereja di Indonesia dan seluruh dunia (Koinonia)
2.      Memberitakan Injil Kerajaan Allah Kepada semua bangsa dan segala mahluk (Marturia)
3.      Melaksanakan pelayanan kasih kepada semua orang dan segala Mahluk (Diakonia)
Demikian juga halnya dalam tugas panggilan Pelayanan Kategorial[3]. Dengan  demikian, jelas bahwa mengenai Tugas Panggilan Gereja telah dimuat dengan jelas dalam Tata Gereja GPID. Untuk menyegarkan pemahaman kita kembali tentang Tugas Panggilan Gereja, baiklah kita menyimak Makalah sederhana ini. 

II.       Tugas Panggilan Gereja
a.      Apa itu Tugas?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “ Tugas” diartikan sebagai: Kewajiban yang harus dikerjakan, pekerjaan yang merupakan tanggungjawab; pekerjaan yang dibebankan; perintah untuk berbuat atau melakukan sesuatu”.[4] Dalam hubungannya dengan Gereja, maka dapat dipahami bahwa Tugas merupakan; kewajiban atau tanggungjawab yang harus dilakukan oleh setiap Orang percaya sesuai dengan maksud dan tujuan yang memberikan tugas tersebut, yaitu Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja.
b.      Panggilan
Kata “ Panggilan” berasal dari kata “Panggil”. Dalam hal ini, Tuhan Yesus Kristus Sang Kepala Gerejalah yang memanggil kita Gereja-Nya untuk Datang kepada-Nya, kemudian pergi bagi Dia. Jadi, “Panggilan”  dapat dipahami sebagai tindakan memberi diri secara total kepada Tuhan Yesus bukan hanya untuk datang kepada-Nya, tetapi juga untuk pergi bagi Dia (Pemanggilan dan pengutusan). Panggilan juga harus dipahami sebagai ajakan, undangan untuk melakukan sesuatu pekerjaan sesuai dengan kehendak yang memanggil, yakni Tuhan Yesus Kristus. 

c.       Gereja
Gereja (ekklesia) yang berarti sidang, perkumpulan, perhimpunan, paguyuban pada umumnya (seperti di kampung, di kota atau negara). Kata ini juga yang kemudian dipakai gereja untuk menamai kelompok orang yang percaya kepada Kristus setelah peristiwa salib dan kebangkitan Yesus Kristus[5].
Menurut Robertus Belarminos, Gereja adalah suatu bentuk manusia yang khusus.[6]  Kata “Gereja” yang dipakai sekarang dan digunakan secara luas dalam masyarakat Indonesia sesungguhnya berasal dari bahasa Portugis[7] yakni “Igreja” yang berarti “persekutuan”. Gereja juga diyakini oleh orang-orang Kristen sebagai wahyu dari Tuhan dalam arti yang sesungguhnya[8], artinya Gereja adalah sesuatu yang benar-benar difirmankan oleh Allah untuk dijadikan sebagai alat pemersatu dan sekaligus perekat semua orang Kristen (pengikut Yesus Kristus).
Menurut John Titaley, Gereja adalah organisasi keagamaan “universal” yang baru bermakna dalam konteks sosial tertentu, walaupun secara teologis bisa dirumuskan sebagai mitra kerja Allah yang ditempatkan dalam suatu konteks sosial tertentu.[9] Gereja juga adalah praeformasi atau bentuk pendahuluan dari pada umat manusia yang baru, gereja menuju kepada penyataan yang sepenuhnya dari kerajaan Allah yang hidup dari dan dalam abad kebangkitan.[10] Gereja harus dipahami sebagai sebuah terminologi yang mengikat pada masa dahulu, kini dan pada masa yang akan datang.

1.      Gereja Sebagai Persekutuan Orang Percaya
Gereja sebagai persekutuan orang percaya merupakan sebuah tatanan kehidupan sosial masyarakat yang berbasis dan bertumpu pada ajaran-ajaran Injil yang mengikat erat anggotanya dalam iman seorang dengan yang lain. Persekutuan Kristen pertama kali dikenal dengan sebutan “Kristen” adalah di Antiokhia yakni di daerah Siria (Kisah Para Rasul 11: 26). Orientasi kehidupan bergereja adalah Yesus Kristus, yang melakukan kehendak Allah di dalam kebenaran dan kebangkitan Yesus, di mana orang percaya dibangkitkan pada kehidupan baru  ( Roma 6 : 4).
(dapatkan materi ini dengan menghubungi: sibaranipdt.bendrio@yahoo.co.id)
III.             Penutup
Demikianlah secara umum mengenai Tugas Panggilan Gereja. Semoga Paper sederhana ini berguna memotivasi kita untuk lebih mendalami hakekat tugas Panggilan kita dalam melayaniNya melalui Pelayanan Kategorial di jemaat-jemaat-Nya. Tuhan Memberkati.