SEJARAH PENGAKUAN IMAN KRISTEN[1]
Oleh. Pdt. Bendrio Pandapotan Sibarani
Kelahiran dan perkembangan gereja tidak pernah terpisahkan dengan
segala bentuk tantangan dan ancaman kepadanya. Bukan hanya dari luar seperti
penghambatan dari orang-orang Yahudi dan Romawi, tetapi juga menghadapi
tantangan dari dalam. Tantangan dari dalam gereja ialah lahirnya berbagai macam
ajaran tentang Tuhan Allah, Kemanusiaan dan keilahian Yesus dan ajaran-ajaran
lainnya. Sejak abad I ajaran-ajaran berkembang di dalam tubuh kekristenan yang
membuat gereja mulai terpecah-pecah dalam berbagai aliran. Untuk menghadapi
tantangan ini, maka gereja melakukan upaya untuk menjaga persatuan gereja.
Upaya yang dilakukan gereja ialah: merumuskan Pengakuan Iman, mengkanonisasikan
Alkitab dan mengangkat pejabat gereja (Klerus).
Pengakuan Iman (Credo) sesungguhnya telah
dirumuskan dalam berbagai formula atau rumusan di abad-abad pertama kelahiran
gereja. Tetapi di abad I, tidak ada satupun dari formula pengakuan iman
tersebut yang diakui secara umum. Sampai di abad II, gereja masih juga belum
memiliki pengakuan iman (credo) yang diterima secara bersama, melainkan juga
terdapat formula-formula yang beragam. Di akhir abad II proses pembentukan
pengakuan iman dapat terlaksana. Pengakuan iman yang tertua yang
dikanonisasikan dalam gereja adalah pengakuan iman baptisan Romawi yang tua,
yang umum disebut sebagai Romanum (R). Bentuk mula-mula dari konfesi ini dapat
dibaca sebagai berikut:
“Aku percaya di dalam Allah Bapa yang
Mahakuasa; dan di dalam Yesus Kristus, satu-satunya Anak-Nya diperanakkan,
Tuhan kita, dan di dalam Roh Kudus, gereja yang kudus, kebangkitan daging”.
Dalam bentuk ini konfesi Romawi yang tua mungkin tidak lebih tua dari
pertengahan abad II. Jadi formula yang sangat sederhana ini aslinya terdiri
dari afirmasi-afirmasi yang bersisi tiga. Kemudian di akhir abad II rumusan ini
dilengkapi seperti rumusan sekarang yang kita kenal. Isi dari credo ini,
terutama yang berbicara tentang Kristologi, sesungguhnya dimaksudkan untuk
menertibkan pengaruh ajaran bidat-bidat. Di Barat, credo ini semakin umum
diterima oleh gereja, tetapi tidak demikian dengan gereja di Timur yang terus
mempertahankan kepelbagaian.
Pengakuan
iman Kristen yang tertua yang terus diikrarkan sampai sekarang ini ialah Pengakuan
Iman Rasuli. Disebut Pengakuan Rasuli karena rumusan pengakuan iman ini dirunut
dari pengakuan para rasul berdasarkan catatan Alkitab dan juga tradisi lisan
yang beredar pada abad-abad pertama. Diperkirakan bahwa pada abad I, Pengakuan
Iman Rasuli sudah diterima oleh gereja-gereja kala itu. Ketika Pengakuan iman
diikrarkan berarti seseorang mempercayai sepenuhnya kemutlakan dari
kamahakuasaan, kedaulatan dan keesaan harkat Allah. Pengakuan dan kepercayaan
akan Allah Yang Esa adalah pengakuan dan kepercayaan kepada Allah Bapa, Anak
dan Roh Kudus.
Pengakuan
Iman Rasuli adalah pengakuan iman dalam persekutuan dengan seluruh umat
Kristen. Kepercayaan Kristen bukanlah soal pendapat pribadi atau ajaran satu
jemaat, juga bukan perasaan. Pengakuan iman adalah pengakuan setiap pribadi
anggota jemaat. Itulah sebabnya rumusannya tidak berkata “kita, atau kami”,
melainkan “aku”. Sikap dalam mengikrarkan pengakuan iman mestinya menggambarkan
keberanian, kesungguhan, ketulusan dan kesadaran seseorang yang mengaku, maka
sikap itu mestinya tidak seperti sikap berdoa (tunduk dan menutup mata). Gereja
Protestan Indonesia Donggala dalam Tata Gereja menyatakan pengakuan akan 3
Rumusan Pengakuan Iman, yakni:
A.
Pengakuan Iman Rasuli
Pengakuan Iman Rasuli terdiri dari 12 pasal
dan dibagi dalam 3 bagian, yakni;
Bagian pertama:
1.
Aku percaya kepada Allah, Bapa Yang Maha
Kuasa, Khalik langit dan bumi.
Orang Kristen percaya bahwa Allah adalah Bapa
yang Mahakuasa dan bahwa yang Mahakuasa itu adalah Khalik langit dan bumi. Keyakinan
ini didasarkan semata-mata hanya dari kesaksian Kitab suci. Kitab suci dapat
dipercaya karena merupakan tulisan yang diilhamkan Allah (Band. 2 Tim. 15, 16),
Kitab suci adalah tulisan yang diilhamkan atau diwahyukan Tuhan Allah. 2 Petrus 1: 20 nubuat-nubuat atau
tulisan-tulisan dalam kitab suci tidak dihasilkan oleh kehendak manusia tetapi
oleh dorongan Roh Kuduslah orang-orang berbicara atas Nama Allah.
Panggilan “Bapa” kepada Allah oleh orang Kristen didasarkan juga pada
kesaksian Alkitab. Ul. 32: 6 Musa berkata kepada bangsa Israel, bahwa Allah
adalah Bapa Israel yang harus dibalas dengan ketaatan. Musa berkata:
“Demikiankah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal
dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang menciptakan engkau, yang
menjadikan dan menegakkan engkau?” Allah disebut Bapa Israel karena menurut
Musa Allahlah yang menciptakan, menjadikan dan melahirkan Israel, seperti
seorang bapa melahirkan. Yesaya 63: 16 Israel sendiri berseru: “Sungguh Abraham
tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN,
Engkau sendiri Bapa kami, Nama-Mu ialah Penebus kami sejak dahulu kala”.
Sebutan “Bapa” bagi Allah tidak sama sebutan bapa bagi manusia. keBapaan Allah,
atau kedudukan Allah sebagai Bapa, dibuktikan di dalam karya-karya Allah yang
ditujukan kepada keselamatan Israel, anak-Nya. Bahwa Allah adalah Mahakuasa artinya ialah
Allah lebih kuasa daripada siapapun yang memiliki kekuasaan. Kej. 77: 1
“…..Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela”.
Inilah untuk pertamakali Allah menyebut Diri-Nya Allah Yang Mahakuasa. Sebuatan
ini berkaitan erat dengan janji Allah kepada Abraham. Bahwa Allah itu adalah
Khalik langit dan bumi artinya bahwa langit dan bumi adalah hasil karya atau
buatan Tangan Allah. Yes. 45: 11 dab “Beginilah firman TUHAN, yang Mahakudus
Allah dan pembentuk Israel:”Akulah yang menjadikan bumi dan yang
menciptakan manusia di atasnya”. Di sini jelas bahwa Allah adalah Khalik langit
dan bumi dan segala isinya.
Bagian kedua:
2.
Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang
tunggal, Tuhan kita
3.
Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari
anak dara Maria
4.
Yang menderita di bawah pemerintahan Pontius
Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut
5.
Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara
orang mati
6.
Naik ke Sorga, duduk di sebelah kanan Allah,
Bapa Yang Maha Kuasa
7.
Dan akan datang dari sana untuk menghakimi
orang yang hidup dan yang mati.
Bagian Ketiga:
8.
Aku percaya kepada Roh Kudus
9.
Gereja yang Kudus dan am, persekutuan orang
kudus
10.
Pengampunan dosa
11.
Kebangkitan daging
12.
Dan hidup yang kekal
B. PENGAKUAN IMAN
NICEA-CONSTANTINOPEL
Disebut
pengakuan iman Nicea-Konstantinopel karena rumusan pengakuan iman ini merupakan
hasil atau keputusan konsili di Nicea (325) yang kemudian dilanjutkan pada
Konsili di Konstantinopel (381). Di kedua konsili ini gereja membahas tentang
ketritunggalan Allah dan juga mengenai hakikat Yesus Kristus dalam Ketuhanan
dan kemanusiaanNya. Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel tidaklah dimasudkan
sebagai pengganti Pengakuan iman Rasuli, melainkan untuk mempertegas kembali
ajaran iman yang tertuang di dalamnya.
Rumusan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel
Aku percaya kepada Allah Bapa, yang Maha
Kuasa, Pencipta langit dan bumi segala yang kelihatandan yang tidak kelihatan.
Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus
Anak Allah yang Tunggal, yang lahir dari sang
Bapa sebelum segala zaman, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah yang
sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan bukan dibuat, sehakekat dengan Sang
Bapa, yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat; yang telah turun dari
surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, dan menjadi daging, oleh Roh
Kudus dari anak dara Maria, dan menjadi manusia yang disalibkan bagi kita, di
bawah pemerintahan Pontius Pilatus menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada
hari ke tiga, sesuai dengan isi kitab-kitab dan naik ke surga, yang duduk di sebelah
kanan sang Bapa, dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang
yang hidup dan yang mati, yang kerajaan-Nya tak akan berakhir.
Aku percaya kepada Roh Kudus, yang adalah
Tuhan dan yang menghidupkan, yang keluar dari sang Bapa dan sang Anak, disembah
dan dimuliakan, yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi. Aku percaya
kepada satu Gereja, yang kudus, am dan rasuli. Aku mengaku satu baptisan untuk
pengampunan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan kehidupan di zaman
yang akan datang.
C. PENGKUAN IMAN
ATHANASIUS
·
Pengakuan Iman Athanasius merupakan rumusan
pengakuan iman yang ditulis di antara abad V dan Abad VI. Athanasius
karena ajaran ini mencerminkan penolakannya terhadap Arianisme yang menyangkal
keilahian penuh Kristus. Meskipun diyakini tidak ditulis oleh Athanasius
sendiri—karena kemungkinan besar aslinya dalam bahasa Latin, bukan Yunani
seperti tulisan Athanasius—nama tersebut dipertahankan sebagai tanda pengakuan
iman Trinitarian yang kuat. Kredo ini sangat populer pada Abad Pertengahan
dan Reformasi, menegaskan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu Allah
dalam tiga pribadi. Meskipun tidak ditulis oleh
Athanasius dari Aleksandria (296–373 M), kredo ini diberi nama untuk
menghormati dia karena ia adalah pembela utama paham Tritunggal melawan
Arianisme. Tujuan utama kredo ini adalah menentang Arianisme, yang
mengajarkan bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa. Kredo
ini menegaskan bahwa ada satu Allah dalam tiga pribadi yang berbeda: Bapa,
Anak, dan Roh Kudus. Ini adalah bagian pertama dari kredo tersebut. Bagian kedua dari kredo ini merangkum doktrin bahwa
Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati dalam satu pribadi. Kredo ini mengakhiri dengan pernyataan bahwa
"siapa pun yang ingin diselamatkan harus berpikir demikian tentang
Tritunggal". Kredo ini menekankan bahwa orang yang tidak memegang
iman ini tidak akan diselamatkan.
Rumusan
Pengakuan Iman Athanasius
Barangsiapa
yang ingin diselamatkan, maka lebih dulu dari segala sesuatu ia perlu berpegang
teguh pada iman yang am. Jika orang tidak memelihara iman yang am, utuh dan tak
bercela, maka tidak diragukan ia akan binasa untuk selama-lamanya.
Iman
yang am ialah, bahwa kita menyembah Allah yang Satu dalam Trinitas, dan
Trinitas di dalam kesatuan. Tanpa mencampur-aduk oknum-oknum, dan tanpa
memisahkan zat. Sebab oknum Bapa adalah lain, (oknum) Anak adalah lain, (dan
oknum) Roh Kudus adalah lain. Tetapi Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu
keallahan-Nya, sama kemuliaan-Nya, dan sama kekal keagungan-Nya. Sebagaimana
Bapa, demikianlah Anak, demikianlah Roh Kudus. Bapa tidak diciptakan, Anak
tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan. Bapa tak berhingga, Anak tak
berhingga, Roh Kudus tak berhingga. Bapa adalah kekal, Anak adalah kekal, Roh
Kudus adalah kekal; namun bukan tiga yang kekal, melainkan satu yang kekal.
Sebagaimana bukan tiga yang tidak diciptakan, dan bukan tiga yang tak berhingga,
melainkan satu yang tidak diciptakan, dan satu yang tak berhingga. Sama seperti
Bapa adalah mahakuasa, Anak adalah mahakuasa, Roh Kudus adalah mahakuasa; namun
bukan tiga yang mahakuasa, melainkan satu yang mahakuasa. Seperti Bapa adalah
Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah; dan namun tidak ada tiga
Allah, melainkan satu Allah. Seperti Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, Roh
Kudus adalah Tuhan; namun tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.
Sebab
sama seperti kita diharuskan oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap oknum
masing-masing adalah Allah dan Tuhan, demikianlah kita dilarang oleh agama yang
am untuk mengatakan tiga Allah atau tiga Tuhan.
Bapa
tidak dibuat oleh seseorang, tidak diciptakan, dan tidak diperanakkan. Anak
tidak dibuat, tidak diciptakan, tetapi diperanakkan, oleh Bapa. Roh Kudus tidak
dibuat, tidak diciptakan, dan tidak diperanakkan oleh, tetapi keluar dari Bapa
dan Anak. Jadi, ada satu Bapa, bukan tiga Bapa; ada satu Anak, bukan tiga Anak;
ada satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.
Dan
di dalam Trinitas itu tidak ada yang lebih dulu atau yang lebih kemudian, tidak
ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah, tetapi ketiga oknum ini adalah
kekal satu sama lain dan setara satu sama lain. Sedemikian sehingga dalam segala
hal, seperti sudah dikatakan di atas, kesatuan itu harus disembah
di dalam Trinitas, dan Trinitas
itu di dalam kesatuan. Jadi, siapa yang ingin selamat, ia harus mempunyai
pendapat yang demikian mengenai Trinitas.
Tetapi
untuk beroleh keselamatan yang kekal, adalah perlu bahwa ia percaya juga dengan
sungguh kepada inkarnasi Tuhan kita Yesus Kristus. Karena itu iman yang benar
ialah bahwa kita percaya dan mengaku, bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Anak
Allah, adalah Allah dan manusia. Dia adalah Allah, diperanakkan dari zat Bapa
sebelum zaman-zaman, dan Dia adalah manusia, dilahirkan dari zat ibu-Nya dalam
zaman. Allah yang sempurna, manusia yang sempurna, terdiri atas jiwa yang
berakal budi dan daging manusiawi; setara dengan Bapa menurut ke-Allahan-Nya,
lebih rendah dari Bapa menurut kemanusiaan. Walaupun Dia adalah Allah dan
manusia, namun Dia bukan dua, melainkan satu Kristus. Dia adalah satu bukan
karena perubahahan ke-Allahan menjadi daging, melainkan karena penerimaan
kemanusiaan kepada Allah. Dia adalah satu, bukan karena percampuran zat,
melainkan karena kesatuan oknum. Sebab, sebagaimana jiwa yang berakal budi
serta daging itu merupakan satu manusia, demikianlah Allah serta manusia
merupakan satu Kristus. Dia menderita demi keselamatan kita, turun ke dalam
kerajaan maut, pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati; naik
ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa; Dia akan datang
dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; pada waktu
kedatangan-Nya semua orang harus bangkit pula bersama-sama tubuh mereka, dan
akan memberikan tanggungjawab atas perbuatannya sendiri; dan mereka yang
berbuat baik akan masuk ke dalam hidup yang kekal, tetapi mereka yang berbuat
jahat akan masuk ke dalam api yang kekal.
Itulah
iman yang am, dan jika orang tidak mempercayainya dengan sungguh dan teguh,
tidak akan menjadi selamat. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar