Senin, 28 September 2026

SEJARAH SINGKAT PENGAKUAN IMAN KRISTEN

 

SEJARAH PENGAKUAN IMAN KRISTEN[1]

Oleh. Pdt. Bendrio Pandapotan Sibarani

 

            Kelahiran dan perkembangan gereja tidak pernah terpisahkan dengan segala bentuk tantangan dan ancaman kepadanya. Bukan hanya dari luar seperti penghambatan dari orang-orang Yahudi dan Romawi, tetapi juga menghadapi tantangan dari dalam. Tantangan dari dalam gereja ialah lahirnya berbagai macam ajaran tentang Tuhan Allah, Kemanusiaan dan keilahian Yesus dan ajaran-ajaran lainnya. Sejak abad I ajaran-ajaran berkembang di dalam tubuh kekristenan yang membuat gereja mulai terpecah-pecah dalam berbagai aliran. Untuk menghadapi tantangan ini, maka gereja melakukan upaya untuk menjaga persatuan gereja. Upaya yang dilakukan gereja ialah: merumuskan Pengakuan Iman, mengkanonisasikan Alkitab dan mengangkat pejabat gereja (Klerus).

Pengakuan Iman (Credo) sesungguhnya telah dirumuskan dalam berbagai formula atau rumusan di abad-abad pertama kelahiran gereja. Tetapi di abad I, tidak ada satupun dari formula pengakuan iman tersebut yang diakui secara umum. Sampai di abad II, gereja masih juga belum memiliki pengakuan iman (credo) yang diterima secara bersama, melainkan juga terdapat formula-formula yang beragam. Di akhir abad II proses pembentukan pengakuan iman dapat terlaksana. Pengakuan iman yang tertua yang dikanonisasikan dalam gereja adalah pengakuan iman baptisan Romawi yang tua, yang umum disebut sebagai Romanum (R). Bentuk mula-mula dari konfesi ini dapat dibaca sebagai berikut:

“Aku percaya di dalam Allah Bapa yang Mahakuasa; dan di dalam Yesus Kristus, satu-satunya Anak-Nya diperanakkan, Tuhan kita, dan di dalam Roh Kudus, gereja yang kudus, kebangkitan daging”. Dalam bentuk ini konfesi Romawi yang tua mungkin tidak lebih tua dari pertengahan abad II. Jadi formula yang sangat sederhana ini aslinya terdiri dari afirmasi-afirmasi yang bersisi tiga. Kemudian di akhir abad II rumusan ini dilengkapi seperti rumusan sekarang yang kita kenal. Isi dari credo ini, terutama yang berbicara tentang Kristologi, sesungguhnya dimaksudkan untuk menertibkan pengaruh ajaran bidat-bidat. Di Barat, credo ini semakin umum diterima oleh gereja, tetapi tidak demikian dengan gereja di Timur yang terus mempertahankan kepelbagaian.

             Pengakuan iman Kristen yang tertua yang terus diikrarkan sampai sekarang ini ialah Pengakuan Iman Rasuli. Disebut Pengakuan Rasuli karena rumusan pengakuan iman ini dirunut dari pengakuan para rasul berdasarkan catatan Alkitab dan juga tradisi lisan yang beredar pada abad-abad pertama. Diperkirakan bahwa pada abad I, Pengakuan Iman Rasuli sudah diterima oleh gereja-gereja kala itu. Ketika Pengakuan iman diikrarkan berarti seseorang mempercayai sepenuhnya kemutlakan dari kamahakuasaan, kedaulatan dan keesaan harkat Allah. Pengakuan dan kepercayaan akan Allah Yang Esa adalah pengakuan dan kepercayaan kepada Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.

            Pengakuan Iman Rasuli adalah pengakuan iman dalam persekutuan dengan seluruh umat Kristen. Kepercayaan Kristen bukanlah soal pendapat pribadi atau ajaran satu jemaat, juga bukan perasaan. Pengakuan iman adalah pengakuan setiap pribadi anggota jemaat. Itulah sebabnya rumusannya tidak berkata “kita, atau kami”, melainkan “aku”. Sikap dalam mengikrarkan pengakuan iman mestinya menggambarkan keberanian, kesungguhan, ketulusan dan kesadaran seseorang yang mengaku, maka sikap itu mestinya tidak seperti sikap berdoa (tunduk dan menutup mata). Gereja Protestan Indonesia Donggala dalam Tata Gereja menyatakan pengakuan akan 3 Rumusan Pengakuan Iman, yakni:

 

A.    Pengakuan Iman Rasuli

Pengakuan Iman Rasuli terdiri dari 12 pasal dan dibagi dalam 3 bagian, yakni;

  Bagian pertama:

1.      Aku percaya kepada Allah, Bapa Yang Maha Kuasa, Khalik langit dan bumi.

Orang Kristen percaya bahwa Allah adalah Bapa yang Mahakuasa dan bahwa yang Mahakuasa itu adalah Khalik langit dan bumi. Keyakinan ini didasarkan semata-mata hanya dari kesaksian Kitab suci. Kitab suci dapat dipercaya karena merupakan tulisan yang diilhamkan Allah (Band. 2 Tim. 15, 16), Kitab suci adalah tulisan yang diilhamkan atau diwahyukan Tuhan Allah.  2 Petrus 1: 20 nubuat-nubuat atau tulisan-tulisan dalam kitab suci tidak dihasilkan oleh kehendak manusia tetapi oleh dorongan Roh Kuduslah orang-orang berbicara atas Nama Allah.

Panggilan “Bapa” kepada Allah oleh orang Kristen didasarkan juga pada kesaksian Alkitab. Ul. 32: 6 Musa berkata kepada bangsa Israel, bahwa Allah adalah Bapa Israel yang harus dibalas dengan ketaatan. Musa berkata: “Demikiankah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang menciptakan engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau?” Allah disebut Bapa Israel karena menurut Musa Allahlah yang menciptakan, menjadikan dan melahirkan Israel, seperti seorang bapa melahirkan. Yesaya 63: 16 Israel sendiri berseru: “Sungguh Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami, Nama-Mu ialah Penebus kami sejak dahulu kala”. Sebutan “Bapa” bagi Allah tidak sama sebutan bapa bagi manusia. keBapaan Allah, atau kedudukan Allah sebagai Bapa, dibuktikan di dalam karya-karya Allah yang ditujukan kepada keselamatan Israel, anak-Nya. Bahwa Allah adalah Mahakuasa artinya ialah Allah lebih kuasa daripada siapapun yang memiliki kekuasaan. Kej. 77: 1 “…..Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela”. Inilah untuk pertamakali Allah menyebut Diri-Nya Allah Yang Mahakuasa. Sebuatan ini berkaitan erat dengan janji Allah kepada Abraham. Bahwa Allah itu adalah Khalik langit dan bumi artinya bahwa langit dan bumi adalah hasil karya atau buatan Tangan Allah. Yes. 45: 11 dab “Beginilah firman TUHAN, yang Mahakudus Allah dan pembentuk Israel:”Akulah yang menjadikan bumi dan yang menciptakan manusia di atasnya”. Di sini jelas bahwa Allah adalah Khalik langit dan bumi dan segala isinya.

Bagian kedua:

2.      Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita

3.      Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria

4.      Yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut

5.      Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati

6.      Naik ke Sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa Yang Maha Kuasa

7.      Dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

Bagian Ketiga:

8.      Aku percaya kepada Roh Kudus

9.      Gereja yang Kudus dan am, persekutuan orang kudus

10.  Pengampunan dosa

11.  Kebangkitan daging

12.  Dan hidup yang kekal

 

 

 

B.     PENGAKUAN IMAN NICEA-CONSTANTINOPEL

Disebut pengakuan iman Nicea-Konstantinopel karena rumusan pengakuan iman ini merupakan hasil atau keputusan konsili di Nicea (325) yang kemudian dilanjutkan pada Konsili di Konstantinopel (381). Di kedua konsili ini gereja membahas tentang ketritunggalan Allah dan juga mengenai hakikat Yesus Kristus dalam Ketuhanan dan kemanusiaanNya. Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel tidaklah dimasudkan sebagai pengganti Pengakuan iman Rasuli, melainkan untuk mempertegas kembali ajaran iman yang tertuang di dalamnya.

Rumusan Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel

Aku percaya kepada Allah Bapa, yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi segala yang kelihatandan yang tidak kelihatan.

Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus

Anak Allah yang Tunggal, yang lahir dari sang Bapa sebelum segala zaman, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan bukan dibuat, sehakekat dengan Sang Bapa, yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat; yang telah turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, dan menjadi daging, oleh Roh Kudus dari anak dara Maria, dan menjadi manusia yang disalibkan bagi kita, di bawah pemerintahan Pontius Pilatus menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada hari ke tiga, sesuai dengan isi kitab-kitab dan naik ke surga, yang duduk di sebelah kanan sang Bapa, dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, yang kerajaan-Nya tak akan berakhir.

Aku percaya kepada Roh Kudus, yang adalah Tuhan dan yang menghidupkan, yang keluar dari sang Bapa dan sang Anak, disembah dan dimuliakan, yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi. Aku percaya kepada satu Gereja, yang kudus, am dan rasuli. Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan kehidupan di zaman yang akan datang.

 

C.    PENGKUAN IMAN ATHANASIUS

·         Pengakuan Iman Athanasius merupakan rumusan pengakuan iman yang ditulis di antara abad V dan Abad VI. Athanasius karena ajaran ini mencerminkan penolakannya terhadap Arianisme yang menyangkal keilahian penuh Kristus. Meskipun diyakini tidak ditulis oleh Athanasius sendiri—karena kemungkinan besar aslinya dalam bahasa Latin, bukan Yunani seperti tulisan Athanasius—nama tersebut dipertahankan sebagai tanda pengakuan iman Trinitarian yang kuat. Kredo ini sangat populer pada Abad Pertengahan dan Reformasi, menegaskan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu Allah dalam tiga pribadi. Meskipun tidak ditulis oleh Athanasius dari Aleksandria (296–373 M), kredo ini diberi nama untuk menghormati dia karena ia adalah pembela utama paham Tritunggal melawan Arianisme. Tujuan utama kredo ini adalah menentang Arianisme, yang mengajarkan bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa. Kredo ini menegaskan bahwa ada satu Allah dalam tiga pribadi yang berbeda: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ini adalah bagian pertama dari kredo tersebut.  Bagian kedua dari kredo ini merangkum doktrin bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati dalam satu pribadi. Kredo ini mengakhiri dengan pernyataan bahwa "siapa pun yang ingin diselamatkan harus berpikir demikian tentang Tritunggal". Kredo ini menekankan bahwa orang yang tidak memegang iman ini tidak akan diselamatkan. 

Rumusan Pengakuan Iman Athanasius

 

Barangsiapa yang ingin diselamatkan, maka lebih dulu dari segala sesuatu ia perlu berpegang teguh pada iman yang am. Jika orang tidak memelihara iman yang am, utuh dan tak bercela, maka tidak diragukan ia akan binasa untuk selama-lamanya.

Iman yang am ialah, bahwa kita menyembah Allah yang Satu dalam Trinitas, dan Trinitas di dalam kesatuan. Tanpa mencampur-aduk oknum-oknum, dan tanpa memisahkan zat. Sebab oknum Bapa adalah lain, (oknum) Anak adalah lain, (dan oknum) Roh Kudus adalah lain. Tetapi Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu keallahan-Nya, sama kemuliaan-Nya, dan sama kekal keagungan-Nya. Sebagaimana Bapa, demikianlah Anak, demikianlah Roh Kudus. Bapa tidak diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan. Bapa tak berhingga, Anak tak berhingga, Roh Kudus tak berhingga. Bapa adalah kekal, Anak adalah kekal, Roh Kudus adalah kekal; namun bukan tiga yang kekal, melainkan satu yang kekal. Sebagaimana bukan tiga yang tidak diciptakan, dan bukan tiga yang tak berhingga, melainkan satu yang tidak diciptakan, dan satu yang tak berhingga. Sama seperti Bapa adalah mahakuasa, Anak adalah mahakuasa, Roh Kudus adalah mahakuasa; namun bukan tiga yang mahakuasa, melainkan satu yang mahakuasa. Seperti Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah; dan namun tidak ada tiga Allah, melainkan satu Allah. Seperti Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, Roh Kudus adalah Tuhan; namun tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.

Sebab sama seperti kita diharuskan oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap oknum masing-masing adalah Allah dan Tuhan, demikianlah kita dilarang oleh agama yang am untuk mengatakan tiga Allah atau tiga Tuhan.

Bapa tidak dibuat oleh seseorang, tidak diciptakan, dan tidak diperanakkan. Anak tidak dibuat, tidak diciptakan, tetapi diperanakkan, oleh Bapa. Roh Kudus tidak dibuat, tidak diciptakan, dan tidak diperanakkan oleh, tetapi keluar dari Bapa dan Anak. Jadi, ada satu Bapa, bukan tiga Bapa; ada satu Anak, bukan tiga Anak; ada satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.

Dan di dalam Trinitas itu tidak ada yang lebih dulu atau yang lebih kemudian, tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah, tetapi ketiga oknum ini adalah kekal satu sama lain dan setara satu sama lain. Sedemikian sehingga dalam segala hal, seperti sudah dikatakan di atas, kesatuan itu harus disembah

di dalam Trinitas, dan Trinitas itu di dalam kesatuan. Jadi, siapa yang ingin selamat, ia harus mempunyai pendapat yang demikian mengenai Trinitas.

Tetapi untuk beroleh keselamatan yang kekal, adalah perlu bahwa ia percaya juga dengan sungguh kepada inkarnasi Tuhan kita Yesus Kristus. Karena itu iman yang benar ialah bahwa kita percaya dan mengaku, bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Anak Allah, adalah Allah dan manusia. Dia adalah Allah, diperanakkan dari zat Bapa sebelum zaman-zaman, dan Dia adalah manusia, dilahirkan dari zat ibu-Nya dalam zaman. Allah yang sempurna, manusia yang sempurna, terdiri atas jiwa yang berakal budi dan daging manusiawi; setara dengan Bapa menurut ke-Allahan-Nya, lebih rendah dari Bapa menurut kemanusiaan. Walaupun Dia adalah Allah dan manusia, namun Dia bukan dua, melainkan satu Kristus. Dia adalah satu bukan karena perubahahan ke-Allahan menjadi daging, melainkan karena penerimaan kemanusiaan kepada Allah. Dia adalah satu, bukan karena percampuran zat, melainkan karena kesatuan oknum. Sebab, sebagaimana jiwa yang berakal budi serta daging itu merupakan satu manusia, demikianlah Allah serta manusia merupakan satu Kristus. Dia menderita demi keselamatan kita, turun ke dalam kerajaan maut, pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati; naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa; Dia akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; pada waktu kedatangan-Nya semua orang harus bangkit pula bersama-sama tubuh mereka, dan akan memberikan tanggungjawab atas perbuatannya sendiri; dan mereka yang berbuat baik akan masuk ke dalam hidup yang kekal, tetapi mereka yang berbuat jahat akan masuk ke dalam api yang kekal.

Itulah iman yang am, dan jika orang tidak mempercayainya dengan sungguh dan teguh, tidak akan menjadi selamat. Amin.



[1] Materi Katekisasi Sidi Jemaat GPID Pniel Palu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar