Senin, 28 September 2026

RENUNGAN UNTUK PRIA KAUM BAPAK

 

Bacaan Alkitab: Ibrani 10:32-39

Jangan Lepaskan KepercayaanMu, Apapun Yang terjadi Atasmu!

Persekutuan Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Tuhan Yesus,

            Sejarah gereja mencatat bahwa kekristenan mula-mula adalah kekristenan yang diwarnai dengan segala macam tantangan dan penghambatan. Tantangan dan penghambatan itu datang baik dari pemeluk agama Yahudi beserta pemimpin-pemimpinnya maupun dari orang-orang Romawi. Orang-orang Yahudi sendiri yang menjadi percaya harus menderita dalam mempertahankan iman mereka kepada Tuhan Yesus Kristus. Mereka dibenci, disingkirkan, dirampas harta bendanya dan bahkan dianggap najiz oleh saudara-saudara mereka yang beragama Yahudi. Pengalaman pahit ini terjadi ketika mereka menjadi pengikut Kristus (Kristen). Pengalaman hidup seperti ini sudah pasti menggoncang komitmen mereka untuk tetap setia di dalam imannya. Bahwa oleh pengalaman pahit ini, sebagian dari mereka telah berpaling dari Injil Kristus dengan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (10:25). Tidak mudah menerima ketika mereka dijadikan tontonan, cercaan dan menderita. Penulis Ibrani menghibur umat Tuhan, bahwa umat Tuhan yang menderita semua itu karena iman. Dengan tegas, Penulis Ibrani mengingatkan umat Tuhan itu, “Sebab itu janganlah melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya”. Penulis Ibrani tentu memiliki alasan untuk menyampaikan ini kepada umat Tuhan kala itu dan juga bagi kita sekarang ini. Alasan pertama ialah bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh akan datang untuk mengaruniakan kebahagiaan kepada umatNya. Tinggal bagaimana umat Tuhan harus tetap setia di dalam iman, sebab imanlah yang akan membuat segala sesuatu mungkin dan terjadi atas umatNya.

Persekutuan Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Tuhan Yesus,

            Berbicara tentang kepercayaan, memang berbicara sesuatu yang abstrak bagi banyak orang, tetapi tidak dengan kita sekalian. Sebab jika kepercayaan diidentikkan dengan hal yang abstrak, maka itu berarti kepercayaan kita sesuatu yang tidak pasti, yang kabur, yang tidak pasti dan tidak terbukti. Kepercayaan atau iman adalah karunia Tuhan Allah kepada kita. Bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan Allah di dalam Yesus, adalah orang yang terpilih, terpanggil dan ditetapkan oleh Tuhan Allah menjadi milik kepunyaan-Nya. Pemilihan Tuhan Allah atas kita sehingga kita memiliki kepercayaan kepada-Nya merupakan kasih karunia yang tidak akan dapat kita nilai harganya. Namun, kemudian dalam realitas hidup, tidak sedikit orang percaya yang melepaskan kepercayaannya karena peristiwa dan pengalaman hidup yang tidak sesuai dengan keinginannya. Penderitaan karena iman, tekanan karena iman dan juga karena terobsesi dengan kejayaan seperti orang yang tidak beriman, ada saja umat Tuhan yang melepaskan kepercayaannya. Peristiwa seperti inilah yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan kekristenan perdana khususnya orang-orang Kristen Yahudi. Kita semua pasti mengerti apa yang dimaksud dengan upah. Upah sendiri secara sederhana adalah sesuatu yang akan kita terima sebagai bagian kita atas apa yang telah kita laksanakan sesuai dengan yang ditetapkan sang pemberi upah. Jika dalam kehidupan sehar-hari kita seringkali memahami upah bersifat materi atau juga waktu dan keadaan, akan tetapi upah yang disediakan Tuhan Allah atas orang-orang yang tetap setia dan tekun di dalam iman kepada-Nya melebihi materi, waktu dan keadaan. Upah yang disediakan Tuhan Allah bagi setiap orang yang hidup setia beriman kepada-Nya dalam menghadapi segala bentuk penderitaan di dalam kebenaran adalah upah sorgawi. Sifatnya kekal dan di dalamnya tersedia keselamatan dan sukacita kekal karena akan menjadi pemenang, yakni hidup bersama Dia dalam kerajaan-Nya.

Persekutuan Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Tuhan Yesus,

            Kita sekalian memang tidak hidup seperti di zaman kehidupan orang-orang Kristen perdana, kita bersyukur bahwa sebagai warga negara kita dijamin keberlangsungan hidup di negara ini. Namun, kita juga harus jujur bahwa sampai saat inipun tantangan, ancaman dan penderitaan karena keberimanan kita masih dan akan terus terjadi walaupun dalam wujud yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, yakni mengancam kita untuk melepaskan kepercayaan/iman kita. Tantangan dan ancaman serta penderitaan itu dapat mewujud dalam berbagai bentuk di zaman ini. Kita, anak-anak kita atau keluarga kita mungkin akan diperhadapkan pada kesulitan hidup untuk berusaha, untuk meraih impian, karier, mendapatkan pekerjaan, atau menduduki jabatan di mana kita bekerja serta tindakan diskriminasi dari orang lain karena keberimanan kita. Tetapi kita juga harus sadar bahwa ancaman kehilangan kepercayaan/iman juga datang dari dalam diri kita oleh karena kita tidak mampu menguasai diri. Sekali lagi, firman Tuhan menyapa kita sekalian, apapun bentuk pengalaman hidup yang terjadi atas kita sebagai orang yang beriman, Janganlah Lepaskan Kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya! Kita semua telah dibenarkan oleh Tuhan Yesus, sehingga Dia berfirman “Namun orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman”. Firman Tuhan itu adalah juga janji, bahwa ketika kita tetap bertekun menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan ini di dalam iman, maka kita pasti hidup oleh iman tersebut. Percayalah, tidak aka nada penyesalan dan kebinasaan bagi orang yang tetap setia di dalam iman atau kepercayaannya kepada Tuhan. Amin. BPS

 

\

 

 

 

 

 

 

 

Bacaan Alktab: Nehemia 9:6-25

Kasih Tuhan Tidak Pernah Berubah

Persekutuan Pelka Pria Kaum bapak Yang Dikasihi Tuhan Yesus,

            Nehemia adalah seorang Yehuda yang menjadi salah satu orang kepercayaan Raja Arthasasta. Ia adalah juru minuman raja yang memiliki kecintaan besar kepada bangsanya yang sudah hancur lebur oleh Babel setelah pembuangan. Nehemia mendapat kabar dari saudara-saudaranya tentang keadaan negerinya pasca penghancuran Babel. Nehemia sangat berdukacita atas negeri nenek moyangnya yang telah luluh lantak dan orang-orang sebangsanya yang tercerai berai. Karena itulah Nehemia memberanikan diri memohon kepada Raja Persia yakni Arthasasta agar ia diizinkan membangun kembali kota Yerusalem yang telah hancur itu. Permohonan ini kemudian direstui raja dan bahkan mendapat dukungan dari raja dengan dikeluarkannya surat kepada bupati-bupati untuk mendukung Nehemia. Nehemia berangkat pulang ke negerinya dan mulai membangunnya. Tetapi, Nehemia melakukan segala usahanya itu didalam takut akan Tuhan Allah. Langkah-langkah Nehemia membangun negerinya itu didasari selalu pada pembangunan kerohanian umat Tuhan. Nehemia menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam melakukan upayanya ini, akan tetapi dengan senantiasa mengandalkan kasih dan kuasa Tuhan Allah, Nehemia terus bertekat membangunnya, diawali dengan pembangunan tembok Yerusalem.

Persekutuan Pelka Pria Kaum bapak Yang Dikasihi Tuhan Yesus,

            Nehemia menyadari benar bahwa kehancuran kotanya adalah akibat dosa dan pelanggaran umat kepada Tuhan, bahkan Nehemia sendiri mengaku bahwa ia dan keluarganya juga telah berdosa kepada Tuhan Allah (1:6). Sembari menyadari dan mengakui dosa-dosa dan pelanggaran umat kepada Tuhan Allah, Nehemia sungguh-sungguh yakin bahwa Tuhan pasti mengampuni dan mau memulihkan hidup umat-Nya. Perikop pembacaan kita saat ini memberi kita kesaksian bagaimana Nehemia mengakui dosa-dosa umat kepada Tuhan dengan meyakini sungguh kasih setia Tuhan yang amat besar. Nehemia mengungkapkan fakta sejarah perjalanan hidup umat Israel yang memang berulangkali melakukan pemberontakan kepada Tuhan Allah, tetapi di semua perjalanan hidup itu kasih setia Tuhan selalu yang menjadi endingnya. Artinya, bahwa sekalipun umat Tuhan itu melakukan dosa, tetapi ketika mereka menyadari dosa-dosa mereka, mengakui itu kepada Tuhan Allah dan mereka bertobat, Tuhan Allah selalu memberi ampun kepada mereka dan senantiasa membaharui kehidupan umat-Nya. Bagaimana dengan kita? Semua kita, terkhusus sebagai bapak-bapak dan lelaki dewasa, kita semua sesungguhnya tidak pernah luput dari dosa dan pemberontakan kepada Tuhan Allah. Kita semua juga sedang dan akan terus berjuang membangun kehidupan rumah tangga kita masing-masing. Maka firman Tuhan ini mengingatkan kita, bahwa pertama-tama yang harus kita lakukan di tengah kita memperjuangkan hidup ini, dalam membangun rumah tangga kita, membangun masa depan anak-anak kita, membangun persekutuan yang kuat kokoh laksana tembok Yerusalem, kita mesti menyadari dulu keberdosaan kita kepada Tuhan. Lalu mesti mengakui dosa dan pelanggaran kita dan bertobat. Selanjutnya, datang memohon kekuatan dari Tuhan Allah. Seperti Nehemia yang menyadari bahwa apa yang terjadi atas negerinya adalah akibat dosa dan pelanggaran mereka kepada Tuhannya, maka kitapun mesti melakukan hal yang sama, yakni menyadari bahwa kita berdosa dan seringkali memberontak kepada Tuhan Allah. Bahwa dosa adalah penghalang bagi kita untuk dibangun oleh Tuhan Allah dan dalam membangun kehidupan kita. Berdasarkan kesaksian firman Tuhan saat ini, jelas bagi kita bahwa sungguh, kasih Tuhan melebihi murka-Nya. Bahwa pengampunan-Nya senantiasa tersedia bagi kita. Ingat dan percayalah bahwa kasih Tuhan itu tidak pernah berubah dulu, kini sampai selamanya. Dia sedia mengampuni kita dan membangun kita supaya kita dapat dan sanggup membangun kehidupan yang dianugerahkan-Nya. Terpujilah Tuhan. Amin. BPS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bacaan Alkitab: 2 Petrus 3:1-18

Tuhan Tak Pernah Lambat Menepati Janji-Nya

Persekutuan Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Oleh Tuhan Yesus,

            Persoalan tentang Hari Tuhan telah mewarnai perjalanan kehidupan gereja sejak dari semula bahkan hingga saat ini. walaupun hati Tuhan itu sudah dijelaskan oleh Tuhan Yesus laksana pencuri dalam artian tidak ada yang mengetahuinya selain Bapa, namun sebagian orang-orang percaya masih saja berusaha ingin mengetahuinya. Akibatnya tidak sedikit orang-orang Kristen yang jatuh ke dalam kesesatan. Hari Tuhan memang adalah saat yang dinantiikan oleh setiap orang percaya, bahwa bagi orang percaya hari itu adalah hari kemenangan, dimana Tuhan Yesus hadir membawa damai sejahtera kekal dalam kerajaan-Nya. Tuhan Yesus telah menjanjikan-Nya kepada umat-Nya. Kegagalan umat Tuhan memaknai hari Tuhan telah berakibat pada adanya orang-orang percaya yang meninggalkan imannya dengan menganggap bahwa Tuhan lalai menepati janji-Nya. Penulis surat Petrus menegaskan kembali perihal hari Tuhan ini, dengan mengingatkan orang percaya untuk mengetahui bahwa; pada hari-hari terakhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yakni orang yang hidup dengan hawa nafsunya. Orang-orang ini kemudian menantang keberimanan orang-orang Kristen dengan mempertanyakan perihal kedatangan Tuhan itu. Mereka ini berpikir kalkulatif tentang hari Tuhan, mereka bahkan berdalil bahwa dari sejak bapak-bapak leluhur mereka meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula. Sudah pasti bahwa orang-orang Kristen kala itu tergoncang dalam iman, akan hal ini. Mungkin juga kita saat ini, ada yang berpikir demikian. Dengan tegas, Petrus katakana bahwa semua orang percaya tidak boleh melupakan yang satu ini “di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari”. Pernyataan ini mengandung makna bahwa kita sebagai umat Tuhan harus menyadari bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu kita dan waktu kita bukanlah waktu Tuhan. Oleh karena itu, semua orang percaya harus menghindari diri dalam mengupayakan mencari tahu kapan hari Tuhan itu menurut dirinya sendiri. Sebab waktu Tuhan adalah waktu-Nya. Jika demikian, apa yang mesti kita lakukan dan hidupi ketika kita diperhadapkan pada ajaran iman tentang Hari Tuhan? Apakah kita cukup diam saja dan tidak mau tahu? Tidak demikian saudara-saudara. Yang harus kita hidupi sehubungan dengan hari Tuhan itu ialah: pertama, ketahuilah bahwa menjelang hari Tuhan itu akan hadir pengejek-pengejek. Supaya kemudian kita tidak lagi kaget dan tidak siap menghadapinya. Mengetahui hal ini, maka sebagai umat Tuhan, kita harus teguh dalam iman supaya kita tidak dihanyutkan ke dalam kesesatan. Kedua, kita harus menyadari dan mengimani hari Tuhan bukanlah hari kita dan hari kita bukanlah hari Tuhan.

Persekutuan Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Oleh Tuhan Yesus,

            Panggilan bagi kita ketika kita diperhadapkan pada hari Tuhan ialah berjuang di dalam iman. Menantikan Dia di dalam kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bernoda. Firman Tuhan mengingatkan kepada kita sekalian, supaya kesabaran Tuhan kita maknai sebagai kesempatan bagi kita untuk beroleh keselamatan. Apa maksudnya? Karena jikalau Tuhan datang, maka sesungguhnya tidak ada lagi waktu dan kesempatan bagi semua orang untuk menyesali dosa-dosanya dan bertobat. Jika hari Tuhan itu telah tiba, maka semua upaya manusia dalam membenahi hidupnya telah terlambat. Kita semua adalah orang yang sedang dalam penantian, penantian akan hari Tuhan, sebab pada hari Tuhan itulah dinyatakan segala sesuatu bagi kita di dalam Yesus Kristus. Pertanyaannya ialah apakah kita telah siap, apakah kita ditemukanNya tak bercacat dan bernoda? Panggilan bagi kita ialah mari tetap waspada agar kita tidak terseret ke dalam kesesatan, tidak kehilangan pegangan iman yang teguh. Mari terus bertumbuh dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Percayalah saudara-saudara segala sesuatu yang dijanjikan Tuhan kepada kita, termasuk HariNya datang bagi kita pasti digenapi. Ingatlah, Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya bagi saudara, bagi rumah tangga kita, bagi seluruh umat kepunyaan-Nya. Amin  BPS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar