Bacaan
Alkitab: Ibrani 10:32-39
Jangan
Lepaskan KepercayaanMu, Apapun Yang terjadi Atasmu!
Persekutuan
Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Tuhan Yesus,
Sejarah
gereja mencatat bahwa kekristenan mula-mula adalah kekristenan yang diwarnai
dengan segala macam tantangan dan penghambatan. Tantangan dan penghambatan itu
datang baik dari pemeluk agama Yahudi beserta pemimpin-pemimpinnya maupun dari
orang-orang Romawi. Orang-orang Yahudi sendiri yang menjadi percaya harus
menderita dalam mempertahankan iman mereka kepada Tuhan Yesus Kristus. Mereka
dibenci, disingkirkan, dirampas harta bendanya dan bahkan dianggap najiz oleh
saudara-saudara mereka yang beragama Yahudi. Pengalaman pahit ini terjadi
ketika mereka menjadi pengikut Kristus (Kristen). Pengalaman hidup seperti ini
sudah pasti menggoncang komitmen mereka untuk tetap setia di dalam imannya.
Bahwa oleh pengalaman pahit ini, sebagian dari mereka telah berpaling dari
Injil Kristus dengan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (10:25).
Tidak mudah menerima ketika mereka dijadikan tontonan, cercaan dan menderita.
Penulis Ibrani menghibur umat Tuhan, bahwa umat Tuhan yang menderita semua itu
karena iman. Dengan tegas, Penulis Ibrani mengingatkan umat Tuhan itu, “Sebab
itu janganlah melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya”. Penulis
Ibrani tentu memiliki alasan untuk menyampaikan ini kepada umat Tuhan kala itu
dan juga bagi kita sekarang ini. Alasan pertama ialah bahwa Tuhan Yesus
sungguh-sungguh akan datang untuk mengaruniakan kebahagiaan kepada umatNya.
Tinggal bagaimana umat Tuhan harus tetap setia di dalam iman, sebab imanlah
yang akan membuat segala sesuatu mungkin dan terjadi atas umatNya.
Persekutuan
Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Tuhan Yesus,
Berbicara tentang kepercayaan,
memang berbicara sesuatu yang abstrak bagi banyak orang, tetapi tidak dengan
kita sekalian. Sebab jika kepercayaan diidentikkan dengan hal yang abstrak,
maka itu berarti kepercayaan kita sesuatu yang tidak pasti, yang kabur, yang
tidak pasti dan tidak terbukti. Kepercayaan atau iman adalah karunia Tuhan
Allah kepada kita. Bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan Allah di dalam
Yesus, adalah orang yang terpilih, terpanggil dan ditetapkan oleh Tuhan Allah
menjadi milik kepunyaan-Nya. Pemilihan Tuhan Allah atas kita sehingga kita
memiliki kepercayaan kepada-Nya merupakan kasih karunia yang tidak akan dapat
kita nilai harganya. Namun, kemudian dalam realitas hidup, tidak sedikit orang
percaya yang melepaskan kepercayaannya karena peristiwa dan pengalaman hidup
yang tidak sesuai dengan keinginannya. Penderitaan karena iman, tekanan karena
iman dan juga karena terobsesi dengan kejayaan seperti orang yang tidak
beriman, ada saja umat Tuhan yang melepaskan kepercayaannya. Peristiwa seperti
inilah yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan kekristenan perdana khususnya
orang-orang Kristen Yahudi. Kita semua pasti mengerti apa yang dimaksud dengan
upah. Upah sendiri secara sederhana adalah sesuatu yang akan kita terima
sebagai bagian kita atas apa yang telah kita laksanakan sesuai dengan yang
ditetapkan sang pemberi upah. Jika dalam kehidupan sehar-hari kita seringkali
memahami upah bersifat materi atau juga waktu dan keadaan, akan tetapi upah
yang disediakan Tuhan Allah atas orang-orang yang tetap setia dan tekun di
dalam iman kepada-Nya melebihi materi, waktu dan keadaan. Upah yang disediakan
Tuhan Allah bagi setiap orang yang hidup setia beriman kepada-Nya dalam
menghadapi segala bentuk penderitaan di dalam kebenaran adalah upah sorgawi.
Sifatnya kekal dan di dalamnya tersedia keselamatan dan sukacita kekal karena
akan menjadi pemenang, yakni hidup bersama Dia dalam kerajaan-Nya.
Persekutuan
Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Tuhan Yesus,
Kita sekalian memang tidak hidup
seperti di zaman kehidupan orang-orang Kristen perdana, kita bersyukur bahwa
sebagai warga negara kita dijamin keberlangsungan hidup di negara ini. Namun,
kita juga harus jujur bahwa sampai saat inipun tantangan, ancaman dan
penderitaan karena keberimanan kita masih dan akan terus terjadi walaupun dalam
wujud yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, yakni mengancam kita untuk
melepaskan kepercayaan/iman kita. Tantangan dan ancaman serta penderitaan itu
dapat mewujud dalam berbagai bentuk di zaman ini. Kita, anak-anak kita atau
keluarga kita mungkin akan diperhadapkan pada kesulitan hidup untuk berusaha,
untuk meraih impian, karier, mendapatkan pekerjaan, atau menduduki jabatan di
mana kita bekerja serta tindakan diskriminasi dari orang lain karena
keberimanan kita. Tetapi kita juga harus sadar bahwa ancaman kehilangan
kepercayaan/iman juga datang dari dalam diri kita oleh karena kita tidak mampu
menguasai diri. Sekali lagi, firman Tuhan menyapa kita sekalian, apapun bentuk
pengalaman hidup yang terjadi atas kita sebagai orang yang beriman,
Janganlah Lepaskan Kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya! Kita
semua telah dibenarkan oleh Tuhan Yesus, sehingga Dia berfirman “Namun orang-Ku
yang benar akan hidup oleh iman”. Firman Tuhan itu adalah juga janji, bahwa
ketika kita tetap bertekun menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan ini di
dalam iman, maka kita pasti hidup oleh iman tersebut. Percayalah, tidak aka
nada penyesalan dan kebinasaan bagi orang yang tetap setia di dalam iman atau
kepercayaannya kepada Tuhan. Amin. BPS
\
Bacaan
Alktab: Nehemia 9:6-25
Kasih
Tuhan Tidak Pernah Berubah
Persekutuan Pelka Pria Kaum bapak
Yang Dikasihi Tuhan Yesus,
Nehemia
adalah seorang Yehuda yang menjadi salah satu orang kepercayaan Raja
Arthasasta. Ia adalah juru minuman raja yang memiliki kecintaan besar kepada
bangsanya yang sudah hancur lebur oleh Babel setelah pembuangan. Nehemia
mendapat kabar dari saudara-saudaranya tentang keadaan negerinya pasca
penghancuran Babel. Nehemia sangat berdukacita atas negeri nenek moyangnya yang
telah luluh lantak dan orang-orang sebangsanya yang tercerai berai. Karena
itulah Nehemia memberanikan diri memohon kepada Raja Persia yakni Arthasasta
agar ia diizinkan membangun kembali kota Yerusalem yang telah hancur itu.
Permohonan ini kemudian direstui raja dan bahkan mendapat dukungan dari raja
dengan dikeluarkannya surat kepada bupati-bupati untuk mendukung Nehemia.
Nehemia berangkat pulang ke negerinya dan mulai membangunnya. Tetapi, Nehemia
melakukan segala usahanya itu didalam takut akan Tuhan Allah. Langkah-langkah Nehemia
membangun negerinya itu didasari selalu pada pembangunan kerohanian umat Tuhan.
Nehemia menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam melakukan upayanya ini,
akan tetapi dengan senantiasa mengandalkan kasih dan kuasa Tuhan Allah, Nehemia
terus bertekat membangunnya, diawali dengan pembangunan tembok Yerusalem.
Persekutuan
Pelka Pria Kaum bapak Yang Dikasihi Tuhan Yesus,
Nehemia menyadari benar bahwa
kehancuran kotanya adalah akibat dosa dan pelanggaran umat kepada Tuhan, bahkan
Nehemia sendiri mengaku bahwa ia dan keluarganya juga telah berdosa kepada
Tuhan Allah (1:6). Sembari menyadari dan mengakui dosa-dosa dan pelanggaran
umat kepada Tuhan Allah, Nehemia sungguh-sungguh yakin bahwa Tuhan pasti
mengampuni dan mau memulihkan hidup umat-Nya. Perikop pembacaan kita saat ini
memberi kita kesaksian bagaimana Nehemia mengakui dosa-dosa umat kepada Tuhan
dengan meyakini sungguh kasih setia Tuhan yang amat besar. Nehemia
mengungkapkan fakta sejarah perjalanan hidup umat Israel yang memang
berulangkali melakukan pemberontakan kepada Tuhan Allah, tetapi di semua
perjalanan hidup itu kasih setia Tuhan selalu yang menjadi endingnya. Artinya,
bahwa sekalipun umat Tuhan itu melakukan dosa, tetapi ketika mereka menyadari
dosa-dosa mereka, mengakui itu kepada Tuhan Allah dan mereka bertobat, Tuhan
Allah selalu memberi ampun kepada mereka dan senantiasa membaharui kehidupan
umat-Nya. Bagaimana dengan kita? Semua kita, terkhusus sebagai bapak-bapak dan
lelaki dewasa, kita semua sesungguhnya tidak pernah luput dari dosa dan
pemberontakan kepada Tuhan Allah. Kita semua juga sedang dan akan terus
berjuang membangun kehidupan rumah tangga kita masing-masing. Maka firman Tuhan
ini mengingatkan kita, bahwa pertama-tama yang harus kita lakukan di tengah
kita memperjuangkan hidup ini, dalam membangun rumah tangga kita, membangun
masa depan anak-anak kita, membangun persekutuan yang kuat kokoh laksana tembok
Yerusalem, kita mesti menyadari dulu keberdosaan kita kepada Tuhan. Lalu mesti
mengakui dosa dan pelanggaran kita dan bertobat. Selanjutnya, datang memohon
kekuatan dari Tuhan Allah. Seperti Nehemia yang menyadari bahwa apa yang
terjadi atas negerinya adalah akibat dosa dan pelanggaran mereka kepada
Tuhannya, maka kitapun mesti melakukan hal yang sama, yakni menyadari bahwa kita
berdosa dan seringkali memberontak kepada Tuhan Allah. Bahwa dosa adalah
penghalang bagi kita untuk dibangun oleh Tuhan Allah dan dalam membangun
kehidupan kita. Berdasarkan kesaksian firman Tuhan saat ini, jelas bagi kita
bahwa sungguh, kasih Tuhan melebihi murka-Nya. Bahwa pengampunan-Nya senantiasa
tersedia bagi kita. Ingat dan percayalah bahwa kasih Tuhan itu tidak pernah
berubah dulu, kini sampai selamanya. Dia sedia mengampuni kita dan membangun
kita supaya kita dapat dan sanggup membangun kehidupan yang dianugerahkan-Nya.
Terpujilah Tuhan. Amin. BPS
Bacaan
Alkitab: 2 Petrus 3:1-18
Tuhan
Tak Pernah Lambat Menepati Janji-Nya
Persekutuan
Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Oleh Tuhan Yesus,
Persoalan tentang Hari Tuhan telah mewarnai
perjalanan kehidupan gereja sejak dari semula bahkan hingga saat ini. walaupun
hati Tuhan itu sudah dijelaskan oleh Tuhan Yesus laksana pencuri dalam artian
tidak ada yang mengetahuinya selain Bapa, namun sebagian orang-orang percaya
masih saja berusaha ingin mengetahuinya. Akibatnya tidak sedikit orang-orang
Kristen yang jatuh ke dalam kesesatan. Hari Tuhan memang adalah saat yang
dinantiikan oleh setiap orang percaya, bahwa bagi orang percaya hari itu adalah
hari kemenangan, dimana Tuhan Yesus hadir membawa damai sejahtera kekal dalam
kerajaan-Nya. Tuhan Yesus telah menjanjikan-Nya kepada umat-Nya. Kegagalan umat
Tuhan memaknai hari Tuhan telah berakibat pada adanya orang-orang percaya yang
meninggalkan imannya dengan menganggap bahwa Tuhan lalai menepati janji-Nya.
Penulis surat Petrus menegaskan kembali perihal hari Tuhan ini, dengan
mengingatkan orang percaya untuk mengetahui bahwa; pada hari-hari terakhir akan
tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yakni orang yang hidup dengan
hawa nafsunya. Orang-orang ini kemudian menantang keberimanan orang-orang
Kristen dengan mempertanyakan perihal kedatangan Tuhan itu. Mereka ini berpikir
kalkulatif tentang hari Tuhan, mereka bahkan berdalil bahwa dari sejak
bapak-bapak leluhur mereka meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula.
Sudah pasti bahwa orang-orang Kristen kala itu tergoncang dalam iman, akan hal
ini. Mungkin juga kita saat ini, ada yang berpikir demikian. Dengan tegas,
Petrus katakana bahwa semua orang percaya tidak boleh melupakan yang satu ini
“di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama
seperti satu hari”. Pernyataan ini mengandung makna bahwa kita sebagai umat
Tuhan harus menyadari bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu kita dan waktu kita
bukanlah waktu Tuhan. Oleh karena itu, semua orang percaya harus menghindari
diri dalam mengupayakan mencari tahu kapan hari Tuhan itu menurut dirinya
sendiri. Sebab waktu Tuhan adalah waktu-Nya. Jika demikian, apa yang mesti kita
lakukan dan hidupi ketika kita diperhadapkan pada ajaran iman tentang Hari
Tuhan? Apakah kita cukup diam saja dan tidak mau tahu? Tidak demikian
saudara-saudara. Yang harus kita hidupi sehubungan dengan hari Tuhan itu ialah:
pertama, ketahuilah bahwa menjelang hari Tuhan itu akan hadir pengejek-pengejek.
Supaya kemudian kita tidak lagi kaget dan tidak siap menghadapinya. Mengetahui
hal ini, maka sebagai umat Tuhan, kita harus teguh dalam iman supaya kita tidak
dihanyutkan ke dalam kesesatan. Kedua, kita harus menyadari dan mengimani hari
Tuhan bukanlah hari kita dan hari kita bukanlah hari Tuhan.
Persekutuan
Pelka Pria Kaum Bapak Yang Dikasihi Oleh Tuhan Yesus,
Panggilan bagi kita ketika kita
diperhadapkan pada hari Tuhan ialah berjuang di dalam iman. Menantikan Dia di
dalam kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bernoda. Firman Tuhan
mengingatkan kepada kita sekalian, supaya kesabaran Tuhan kita maknai sebagai
kesempatan bagi kita untuk beroleh keselamatan. Apa maksudnya? Karena jikalau
Tuhan datang, maka sesungguhnya tidak ada lagi waktu dan kesempatan bagi semua
orang untuk menyesali dosa-dosanya dan bertobat. Jika hari Tuhan itu telah
tiba, maka semua upaya manusia dalam membenahi hidupnya telah terlambat. Kita
semua adalah orang yang sedang dalam penantian, penantian akan hari Tuhan,
sebab pada hari Tuhan itulah dinyatakan segala sesuatu bagi kita di dalam Yesus
Kristus. Pertanyaannya ialah apakah kita telah siap, apakah kita ditemukanNya
tak bercacat dan bernoda? Panggilan bagi kita ialah mari tetap waspada agar
kita tidak terseret ke dalam kesesatan, tidak kehilangan pegangan iman yang
teguh. Mari terus bertumbuh dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan dan
Juruselamat kita, Yesus Kristus. Percayalah saudara-saudara segala sesuatu yang
dijanjikan Tuhan kepada kita, termasuk HariNya datang bagi kita pasti digenapi.
Ingatlah, Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya bagi saudara, bagi rumah
tangga kita, bagi seluruh umat kepunyaan-Nya. Amin BPS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar