Kamis, 11 April 2013

khotbah Paskah

Bacaan Alkitab: Yohanes 21: 15-19

Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Sekilas ketika membaca tanya-jawab antara Tuhan Yesus dengan Simon Petrus dalam bacaan Alkitab saat ini, seakan memunculkan pertanyaan bagi kita, kenapa Tuhan Yesus sampai tiga kali bertanya kepada Simon Petrus dalam pertanyaan yang sama, kendatipun Petrus sendiri sudah mengutarakan jawabannya dengan jelas. Kemudian pada pertanyaan yang ketiga kalinya Petruspun merasa sedih dan kembali memberi jawabannya bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu dan mengetahui bahwa Petrus mengasihiNya. Kemudian sesudah Petrus memberi jawaban, Tuhan Yesus pun selalu menyambungnya dengan satu perintah:”Gembalakanlah domba-dombaKu..”
Petrus, merupakan salah seorang dari Murid Tuhan Yesus yang sering terlibat dengan berbagai kisah yang unik terlebih lewat sikapnya, mulai dari pemanggilannya, kita dia menyususl Yesus berjalan diatas air, dia pula yang mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, dia juga menyangkal Tuhan Yesus, dan dia juga yang tidak percaya pada berita yang disampaikan para perempuan tentang kebangkitan Yesus, sehingga dia cepat-cepat lari ke kubur membuktikannya..dan kisah lainnya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sebenarnya Tuhan Yesus telah mengetahui segala sesuatu tentang Petrus sebagaimana yang diakui oleh Petrus sendiri. Dengan demikian, kita dapat menarik kesimpulan awal bahwa tanya-jawab ini sebenarnya bertujuan supaya Petrus bertanggungjawab untuk menggembalakan domba-domba Allah, tetapi dengan satu syarat penting yaitu bahwa Petrus harus mendasarinya dengan Kasih kepada Tuhan.
Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Petrus dalam perjalanan sejarah gereja selanjutnya memegang peranan penting, dialah yang kemudian bertanggung jawab memimpin pelayanan bagi orang-orang percaya hingga ajalnya tiba ketika dia harus disalibkan terbalik di kota kota Roma untuk mempertahankan imannya kepada Tuhan Yesus. Kendatipun Petrus telah mati martir sekitar tahun 63- 64 M di Roma pada masa pemerintahan kaisar Nero, namun kisah percakapan Tuhan Yesus dengannya tetap menjadi bahan perenungan yang tak pernah usang oleh waktu dan kondisi dalam kehidupan setiap pengikut Kristus termasuk kita sekalian di sini dan kini. Apa yang harus kita renungkan?
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
              Peristiwa Paskah telah menjadi jaminan bagi kita semua bahwasanya Tuhan Yesus telah memberikan keselamatan bagi kita, dikuduskan bagiNya, sehingga kita layak menghampiri hadiratNya, dipanggilnya dan kemudian diutusnya menjadi saksiNya, menjadi gembala, baik bagi diri sendiri dan juga sesama kita. Sehingga pertanyaan Tuhan yesus kepada Petrus dalam bacaan Alkitab saat ini menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh kita sebagai murid-muridNya..,dan perintah Tuhan Yesus itu juga menjadi perintah bagi kita sekalian…Gembalakanlah domba-dombaKu…!,
Mungkin akan muncul pertanyaan, bagaimana saya harus menggembalakan domba-domba Allah, sedangkan saya hanya orang biasa, Cuma seorang mahasiswa? Yang jelas, apa yang saudara-saudara lakukan dan berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, saudara telah menjadi gembala ketika saudara melakukannya dalam rangka mengasihi Tuhan Yesus..(mat. 25 : 35-40).
Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Kemudian perlu ditegaskan kepada kita, bahwa mengasihi Tuhan adalah hukum yang terutama, oleh karena itu adalah sangat beralasan kenapa Tuhan Yesus menegaskan hal ini kepada Petrus dengan cara mengulang-ulangiNya, kendatipun Tuhan Yesus sendiri mengetahui segala sesuatu dalam diri Petrus. Demikian juga dengan kita sekalian. Jika hari ini kita semua boleh bersama memuliakan Tuhan di sini, di tempat yang terisolir ini, semua ini hendaknya membuktikan bahwa kita benar mengasihi Tuhan Yesus dan mau menggembalakan domba-dombaNya dengan memberi diri kita, dengan memberi apa yang ada pada kita dalam wujud mengasihi Tuhan Yesus. Saya percaya bahwa sekecil apapun yang boleh kita lakukan demi kemuliaan Tuhan, itu adalah persembahan yang berbau haru di hadapan Tuhan. ingat, saudara-saudara, tugas kita sebagai pengikut Kristus bukanlah semata-mata datang kepada Tuhan, tetapi harus pergi untuk Dia, pergi memberitakan kabar baik, pergi membawa sukacita demi kemuliaan namaNya..percaya dan yakinlah saudara-saudara bahwa segala-sesuatu yang kita lakukan demi kemuliaan Tuhan tidak akan pernah menjadi kesia-siaan. Tuhan niscaya memberikan apa yang kita butuhkan tatkala kita terlebih dahulu mencari kerajaanNya.. Terpujilah Tuhan. AMIN    
























Selasa, 29 Januari 2013

bendrio sibarani: khotbah

bendrio sibarani: khotbah: Bacaan Alkitab: 2 Petrus 1: 3-10 Proses Dalam Memenuhi Panggilan dan Pilihan Sebagai Pelayan Kristus Saudara-saudara, Mahasiswa Ya...

khotbah

Bacaan Alkitab: 2 Petrus 1: 3-10
Proses Dalam Memenuhi Panggilan dan Pilihan
Sebagai Pelayan Kristus
Saudara-saudara, Mahasiswa Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Di zaman modern seperti yang kita sedang jalani saat ini, gaya hidup sangat mengalami pergeseran yang amat cepat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Gaya hidup tersebut hampir mempengaruhi kehidupan orang-orang secara menyeluruh. Apakah itu pola konsumerisme (makan), atau pola berdandan atau berpakaian, gaya hidup untuk meraih sukses, termasuk dalam pola/gaya belajar bahkan juga dalam hal beriman. Tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang tersebut menginginkan segala sesuatu dalam kehidupan ini tercapai dengan serba instan atau tercapai dengan praktis tanpa berlama-lama, atau berlelah-lelah melalui proses demi proses. Setiap generasi dengan generasi sebelum dan sesudahnya selalu saja terdapat perbedaan dalam hal gaya atau pola hidup. Persoalannya adalah, bahwa seringkali pola atau gaya hidup pada generasi muda membingungkan pendahulunya karena tidak sesuai dengan yang mereka harapkan terjadi pada generasi setelah mereka. Di sisi yang lain, generasi muda juga seringkali bingung dalam menentukan pola hidup mereka karena pendahulu mereka tidak memberikan contoh gaya hidup yang tepat sesuai dengan kerinduan mereka. Di sinilah letak persoalan antara senior dan junior sehingga lahir kebingungan di antara angkatan dalam sebuah kelompok komunitas. Pertanyaannya adalah apa yang mengakibatkan hal seperti ini terjadi?
Saudara-saudara,
            Memang zaman terus berubah, tetapi sebagai orang percaya, orang yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan, kita perlu bertanya, apakah benar zaman yang terus menerus berubah itu harus mengubah hidup kita dari identitas kita sebagai orang percaya?
Firman Tuhan saat ini perlu mendapat perhatian dari kita sebagai orang percaya dalam mencapai apa yang kita perjuangkan sebagai orang yang mengaku diri dipanggil dan dipilih Tuhan untuk menjadi saksi-saksiNya memberitakan Syalom kerajaanNya kepada dunia ini. dengan tegas dikatakan bahwa kuasa Illahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia. Namun perlu diketahui bahwa hidup saleh bukanlah tujuan akhir dari perjuangan kita sebagai orang beriman. Akan tetapi kepada iman  tersebut harus ditambahkan kebajikan (beramal, dermawan, bermurah hati, memberkati dengan cara berbagi, dll). Kepada kebajikan itu juga harus ditambahkan pengetahuan. Dalam Alkitab pengetahuan bukanlah sekadar pemahaman intelektual. Pengetahuan mencakup emosi dan hubungan-hubungan personal. Israel mempunyai pengetahuan tentang Allah atau pengenalan akan Allah, yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain.
Berbicara tentang pengetahuan sesuai PB, akan cukup menarik kalau kita berhadapan dengan orang-orang yg secara formal percaya bahwa Tuhan ada, kendati mereka tidak peduli pada tuntutan-tuntutan-Nya. Semua orang wajib menanggapi penyataan dalam Kristus yg memungkinkan pengetahuan yang lengkap tentang Allah, yang tidak hanya merupakan pengertian intelektual tapi juga merupakan ketaatan kepada maksud Allah yang telah dinyatakan, penerimaan kasih-Nya yang telah dinyatakan dan persekutuan dengan Allah sendiri. Selanjutnya kepada pengetahuan tersebut harus ditambahkan penguasaan diri. Jujur harus diakui bahwa tanpa penguasaan diri, pengetahuan terlebih pengetahuan inteletual bisa membuat seseorang lupa diri dan akhirnya lupa Tuhannya, itulah sebabnya penguasaan diri itu penting dalam hubungannya dengan pengetahuan. Kepada penguasaan diri harus ditambahkan ketekunan, ketekunan dalam hal ini dapat dipahami sebagai sikap yang penuh perhatian dan keuletan dalam hal apa yang dilakukan seseorang. Kemudian menambahkan kesalehan dan kepada kesalehan ditambahkan lagi kasih akan saudara-saudara, kemudian kasih akan semua orang. Jika kita menarik kesimpulan awal, maka supaya panggilan dan pilihan kita makin teguh iman harus diaplikasikan lewat kasih kepada semua orang. Dan untuk mengasihi, kita ternyata perlu dan harus melengkapi diri dengan berbagai hal yang merupakan proses hidup yang harus dijalani dan ditempuh. Dalam arti tidak ada sesuatu yang instan bagi seorang yang beriman dalam mencapai tujuan akhir dalam perjalanan hidupnya.
Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Firman Tuhan saat ini, kembali mengingatkan kita, khususnya yang adalah kaum intelektual, para teolog yang sedang dibentuk Tuhan di lembaga ini, bahwa bagi kita sekalian hidup serba instan terlebih dalam memenuhi panggilan Tuhan tidaklah berlaku. Untuk memenuhi panggilan dan pilihan Tuhan belumlah final jika hanya pada titik beriman. Tetapi kepada iman yang kita miliki  harus ditambahkan kebajikan, kemudian ditambahkan lagi pengetahuan, kemudian kepada pengetahuan ditambahkan lagi penguasaan diri, kepada penguasaan diri ditambahkan lagi ketekunan dan kesalehan kemudian kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Dengan demikian, menjadi orang yang dipanggil dan dipilih Tuhan, apa yang diuraikan Petrus dalam suratnya ini menjadi hal yang mutlak dijalani, dialami dan dimiliki oleh kita sekalian. Mulai dari iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, kesalehan, dan kasih merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam proses meneguhkan panggilan dan pilihan setiap orang percaya, termasuk kita sekalian saat ini. untuk itu dari kita sekalian dituntut usaha yang sungguh-sungguh, sehingga panggilan dan pilihan kita semakin diteguhkan. Ingat saudara-saudara, jika melakukannya, maka kita tidak akan pernah tersandung, itu jaminan bagi kita sekalian melalui Firman Tuhan saat ini.
Perjuangan kita memang tidak mudah, sebab tidak ada perjuangan yang berhasil jika tak disertai dengan pengorbanan. Dan` tidak ada pengorbanan yang sia-sia dalam hidup seseorang dalam perjuangannya untuk mewujudkan setiap impiannya jika berkorban di dalam Tuhannya. untuk itu, saatnya bagi kita sekalian merenungkan kembali hakikat keterpanggilan kita untuk diproses di lembaga ini.  Masihkah terbesit dibenak kita untuk menempuh cara instan dalam perjuangan kita untuk tiba pada tujuan dan cita-cita dalam hidup kita? Terpujilah Kristus. Amin.

Minggu, 30 Desember 2012

Sabtu, 29 Desember 2012

bendrio sibarani: Babtisan Bagi Mereka SUku Terasing

bendrio sibarani: Babtisan Bagi Mereka SUku Terasing

Babtisan Bagi Mereka SUku Terasing












bendrio sibarani: renungan Malam Akhir Tahun Keluarga

bendrio sibarani: renungan Malam Akhir Tahun Keluarga: Bacaan Alkitab: Wahyu 22: 1- 5 Hidup Baru Yang Dibaharui Ditahun Yang Baru Keluarga dan Kita sekalian Yang Dikasihi dan Diberkati...

renungan Malam Akhir Tahun Keluarga


Bacaan Alkitab: Wahyu 22: 1- 5
Hidup Baru Yang Dibaharui Ditahun Yang Baru

Keluarga dan Kita sekalian Yang Dikasihi dan Diberkati Tuhan Yesus Kristus,
            Dalam perjalanan sejarah hidup manusia, ada tiga ruang waktu yang mewarnai langkah hidup tersebut, yakni masa lalu, masa kini dan masa nanti. Tiga ruang waktu tersebut wajib untuk dilalui dan tidak mungkin bisa dilewati salah satu dari bagian waktu tersebut. Kehidupan umat Tuhanpun demikian halnya. Kita wajib melalui tiga ruang waktu tersebut, dan Tuhan sendiri ada di tiga ruang waktu tersebut (Ibrani 13:8) yang senantiasa menyertai langkah perjalanan hidup umatNya. Kita harus mengaminkan, bahwa di ruang waktu, “masa lalu” kita telah lewati dengan penyertaan Tuhan, sehingga kita dapat tiba di ruang waktu “”masa kini” atau di penghujung tahun ini. Kemudian dalam pengharapan, kita sedang dan akan menyambut serta memasuki satu ruang waktu lagi, yakni “masa nanti” atau tahun yang baru yang kita percaya adalah Tahun Rahmat Tuhan, Tahun yang penuh Berkat dan Damai sejahtera. Merenungkan seluruh perjalanan hidup yang telah kita lewati, adalah wajib bagi kita sekalian dalam keluarga ini untuk bersyukur kepada Tuhan, sebab Hanya karena pertolonganNyalah kita masih diperkenankan mengakhiri tahun ini dalam suasana sukacita dan diberkati oleh Dia. Kita akan menyambut serta memasuki tahun yang baru, sebagai manusia biasa, kita tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengetahui akan apa yang akan kita hadapi di waktu yang akan datang ini. Hari esok adalah misteri bagi setiap makhluk di kolong langit ini, akan tetapi sebagai umat Tuhan, dalam keyakinan dan pengharapan, Tahun baru yang akan kita masuki tentulah tahun yang penuh Rahmat bagi kita. Itulah pengharapan kita. Dalam Ibrani 6:19 dijelaskan bahwa: “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir..” Dan Paulus sendiri menegaskan dalam  Roma 8:24 “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Ini hendak menegaskan kepada kita bahwa syarat mutlak menyambut dan memasuki tahun baru bagi setiap orang percaya termasuk kita dalam keluarga ini ialah hidup dalam pengharapan.
Kita Keluarga Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Kitab Wahyu yang menjadi renungan kita saat ini, sebenarnya adalah kitab “masa depan”, atau yang biasa disebut “kitab yang tersembunyi” (apokalipsy), mengandung janji Tuhan yang sangat indah bagi setiap orang percaya dalam memasuki masa depannya. Yohanes yang menerima Wahyu mengaku bahwa Tuhan menunjukkan kepadanya sungai air kehidupan yang jernih bagaikan Kristal dan mengalir keluar dari Takhta Allah dan Takhta Anak Domba itu. Terdapat pula pohon-pohon kehidupan yang berbuah tiap bulan, yang daunnya dipakai menyembuhkan bangsa-bangsa. Dalam kehidupan masa depan tersebut juga dilukiskan suasana hidup yang amat sangat indah, di mana malam tidak ada lagi dan tidak lagi dibutuhkan cahaya lampu dan matahari, sebab Allah sendirilah yang menjadi penerang bagi umatNya. Dan Allah akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya. Suasana yang dilukiskan Rasul Yohanes ini pada dasarnya, tidaklah melulu terjadi setelah kita meninggalkan kehidupan dunia ini, melainkan, Rasul Yohanes sendiri hendak menguatkan hati dan iman orang-orang percaya kala itu yang dilanda kekuatiran hidup akibat penganiayaan dan penindasan yang diterima dari kaisar Romawi yang terkenal sadis dan biadab, yakni Kaisar Nero. Suasana Hidup umat Tuhan tersebut mengakibatkan mereka seakan-akan pesimis dan kuatir akan hari depan. Itulah sebabnya, kitab Wahyu juga disebut dengan Kitab yang berisikan Teologi Ketabahan.
Keluarga Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Seperti yang dikatakan tadi di atas, bahwa sebagai manusia biasa, kita tidak mengetahui akan dan bagaimana kehidupan kita di hari esok, di Tahun yang baru 2013. Namun syukur kepada Tuhan, kita mempunyai pengharapan, bahwa Tahun 2013 adalah Tahun Rahmat Tuhan, sebagaimana yang dilukiskan Yohanes dalam kitab Wahyu ini, kita patut bersyukur dan memuliakan Tuhan sebab kepada kita keluarga, apa yang ditunjukkan Tuhan kepada Yohanes, yakni sungai air kehidupan yang jernih bagiakan Kristal, yang besertanya juga tumbuh pohon kehidupan, di mana kekelaman hidup tak’kan terjadi sebab Tuhan sendiri yang menerangi hidup, juga menjadi bagian hidup kita dalam keyakinan dan pengharapan kita kepada Tuhan yang Maha mulia. Karena itu, dari kita dituntut kesetiaan dan ketabahan menjalani kehidupan ini dengan tetap berpegang pada janji Tuhan serta melakukan apa yang dikehendakiNya. Sebagai Keluarga Kristen, maka wajib bagi kita untuk terus hidup dalam pengharapan, dan dengan tegas kita harus mencamkan bahwa, Masa lalu adalah Pembelajaran, Masa Kini adalah Tindakan, dan Masa Depan adalah Pengharapan. Kendatipun Tuhan Tak pernah menjanjikan hidup ini mudah, akan tetapi Ia berjanji setia menyertai kita. Untuk mari kita hidup dalam Iman, sebab Iman membuat segala sesuatu menjadi mungkin, kita juga harus hidup dalam Kasih, sebab Kasih membuat segala sesuatu menjadi mudah, serta kita juga harus hidup terus dan setia dalam pengharapan, sebab pengharapan membuat segala sesuatu berjalan dengan baik. Kiranya suangai air kehidupan yang jernih bagaikan Kristal mengalir dalam kehidupan keluarga kita ini, pohon kehidupan berbuah dan Tuhan Allah sendiri akan menyinari kita dengan wajahNya, sehingga Damai sejahtera senantiasa mewarnai langkah hidup kita. Terpujilah Kristus Tuhan. AMIN.

Rabu, 14 November 2012

bendrio sibarani: perempuan dan teologi

bendrio sibarani: perempuan dan teologi: NEKSUS NEGARA DAN PEREMPUAN Oleh Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Teol             Persoalan bagaimana perempuan menempatkan diri terce...

perempuan dan teologi


NEKSUS NEGARA DAN PEREMPUAN
Oleh Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Teol

            Persoalan bagaimana perempuan menempatkan diri tercermin dari penerimaan atau penolakan perempuan terhadap citra yang dilekatkan oleh pihak eksternal terhadap dirinya atau posisi yang diberikan terhadap dirinya, baik di ranah domestik maupun di ranah publik. Dalam hal ini ada dua macam sikap perempuan, yakni :
1. Perempuan yang pasrah dan bahkan menikmati pembatasan-pembatasan
                struktural atau kultural terhadap mereka.
            2. Perempuan menolak dan memberontak kemudian berjuang untuk
                memperoleh hak-haknya sebagai manusia yang utuh.
Penempatan atau pemosisian perempuan oleh Negara tercermin dari pikiran dan perilaku para negarawan dan birokrat politik dan juga kebijakan - kebijakan negara atau dengan kata lain politisi, birokrat dalam negara menentukan dan sangat mempengaruhi posisi perempuan dalam Negara.

Agama dan Tradisi
            Agama ( karena di dalam kitab – kitab suci klasik perempuan dituntut untuk tunduk kepada laki – laki ) dan tradisi sangat mempengaruhi pemosisian perempuan, Perempuan bisa terkontruksi menjadi makhluk yang tunduk yang pada akhirnya posisinya hanya di ranah domestik. Tetapi agama dan tradisi juga dapat merekontruksi posisi tersebut dengan cara rekontruksi pemikiran keagamaan atau redefinisi nilai – nilai sosial di masyarakat sehingga terbangun sistem nilai yang adil antara perempuan dan laki – laki.
    
Simbolisasi Perempuan
            Simbol-simbol yang terbangun di dalam masyarakat juga mempengaruhi pemosisian perempuan. Namun simbolisasi tersebut seringkali dimanfaatkan oleh laki-laki hanya sekedar pemanis untuk menenangkan perempuan atau sebagai pembungkus nilai-nilai patriarki. Secara simbolik sebenarnya perempuan mendapat posisi yang terhormat dalam imajinasi orang Indonesia, yakni sebutan persada nusantara dengan “ ibu pertiwi “  demikian juga di jawa yang meyakini Dewi Sri sebagai lambang kesuburan tanah pertanian. Dalam hal ini tanah dimaknai sebagai entitas yang bersifat feminis. Pengakuan dan penghargaan yang tercermin di dalam simbolisasi perempuan seringkali dibelokkan untuk memberi penegasan bahwa tempat yang cocok bagi perempuan adalah rumah. Konsekuensi ekstrim dari pembelokan seperti ini adalah perempuan tidak layak masuk ke ranah publik sebab itu adalah dunianya laki – laki. Kalaupun perempuan mau masuk ke ranah publik, ranah domestik haruslah tetap menjadi peran primernya. Di situlah perempuan menerima beban ganda selain pencari nafkah rumah tangga ia juga tetap ibu rumah tangga. Pengotakan perempuan di ranah domestik ini diperkuat dengan munculnya idiom tentang perempuan yang bersifat denotative (merendahkan derajat). Perempuan juga kadangkala dijadikan property dan simbol kekayaan laki-laki seperti halnya yang terjadi di dalam kebudayaan jawa. Demikian juga halnya ketika perempuan dijadikan objek pemuasan hedonisme seks laki-laki (contohnya yang terjadi di dalam kerajaan jawa tempo dulu).

Kartini: Simbol Emansipasi Perempuan
             Sosok Kartini pantas dibicarakan dalam rangka berbicara tentang gerakan perempuan di negeri ini. Walaupun sebenarnya Kartini tidak membuat gerakan emansipasi secara langsung, tetapi dari surat menyurat yang dilakukannya kepada sahabat-sahabatnya di Belanda telah melahirkan inspirasi yang sangat berharga bagi gerakan emansipasi perempuan dikemudian hari. Di dalam surat-suratnya tersebut tersirat gagasan progresif dan revolusioner tentang emansipasi. Kartini terobsesi mengeluarkan perempuan dari penjara domestik dan menjadikan perempuan sebagai manusia utuh sama dengan laki-laki. Untuk itu perempuan harus belajar menjadi manusia produktif, menjadi subjek bukan objek. Lahirnya gerakan perempuan-perempuan (poetri mardiko, wanita oetomo, aisyia, dll, terutama dengan kongres perempuan I 1928 di Yogyakarta) merupakan pengejawantahan dari perjuangan Kartini sebelumnya.

Strategi Perjuangan Perempuan
            Perjuangan perempuan dimulai dengan apa yang dinamakan sebagai gerakan perempuan dalam pembangunan ( women in development ) yang dominan pada akhir dekade 1960-an dan sepanjang dekade 1970-an. Gerakan ini menawarkan strategi pembangunan yang meletakkan perempuan sebagai aset dan sasaran, bukan beban pembangunan. Dengan meningkatkan produktivitas, pendapatan perempuan dan kemampuannya dalam mengatur rumah tangga serta mengintegrasikan perempuan dalam proyek dan hal lainnya telah meningkatkan angka partisipasi perempuan dalam proses pembangunan, akan tetapi tidak dalam tingkat keberdayaan mereka. Dengan kata lain konsep kesetaraan gender belum ditonjolkan dan gerakan ini belum diarahkan terhadap struktur dan kultur sosial yang bias gender.
            Perjuangan selanjutnya diwujudkan dalam strategi Gender dan pembangunan (Gender and development). Gerakan ini populer pada dekade 1980-an yang didasarkan pada anggapan bahwa persoalan dalam pembangunan adalah adanya hubungan gender yang tidak adil. Untuk itu isu-isu gender sangat perlu untuk di kedepankan dalam memerangi ketidakadilan. Gerakan ini menghasilkan hal penting yakni diterimanya konvensi global anti segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Pengesahan undang-undang no. 8 tahun 1978 oleh pemerintah merupakan  langkah maju yang menunjukkan diterimanya konvensi tersebut. Lahirnya platform for action  tahun 1985 dalam konferensi PBB di Beijing memperkuat strategi ini. Sehingga gender diharapkan menjadi arus utama dalam pembangunan.

Kepedulian Negara Terhadap Perempuan
       Kepedulian negara terhadap perempuan sudah nampak sejak dari pemerintahan Sukarno yakni diberinya hak-hak termasuk dalam politik bukan hanya memilih tetapi juga untuk duduk di parlemen. Demikian juga dalam masa pemerintahan Suharto, perempuan mengalami kemajuan yang berarti dengan dibentuknya  satu lembaga dalam pemerintahan dengan nama kementerian muda urusan wanita yang kemudian beberapa kali mengalami perubahan nama dan peningkatan perannya. Perubahan ini lebih nyata ketika dibentuknya menteri negara pemberdayaan perempuan pada tahun 2000. Selanjutnya atas kinerja kementerian ini lahirlah inpres no. 9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender yang tercermin melalui kebijakan-kebijakan negara (salah satunya dalam strategi nasional penanggulangan kemiskinan).

Peran Masyarakat Sipil
            Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mewakili masyarakat sipil juga turut memperjuangkan kesetaraan dan mengatasi persoalan tentang perempuan. Banyaknya LSM yang berkecimpung dalam perjuangan perempuan membuktikan bahwa masyrakat sipil pada dasarnya telah memainkan peran penting dalam memperjuangkan perempuan.

Kemajuan Perempuan
            Harus diakui bahwa perempuan Indonesia sudah banyak mengalami kemajuan, akan tetapi pada tingkat tertentu masih terdapat banyak ketimpangan gender. Dalam bidang pendidikan misalnya, partisipasi perempuan dan laki – laki  telah sama dalam pendidikan dasar, tetapi pada pendidikan yang lebih tinggi gap laki-laki dengan perempuan semakin nampak. Demikian juga dalam kesehatan. Perempuan telah memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih baik, tetapi dalam keselamatan ibu  melahirkan  masih nampak jumlah kematian yang cukup tinggi demikian juga aborsi yang dilakukan masih banyak menghilangkan nyawa perempuan. Di ranah publik kelihatan bahwa perempuan telah banyak berkarya, namun jika dibandingkan dengan laki-laki tetap saja masih ada ketimpangan yang menyolok. Demikian juga menyangkut upah kerja, perempuan masih menerima diskriminasi dimana upah kerja laki-laki tetap lebih tinggi dari upah kerja perempuan.

Tanggapan

A. Mengenai ajaran agama yang bisa menjadi faktor yang meminggirkan perempuan berdasarkan ajaran agama menurut isi kitab-kitab klasik pada dasarnya adalah hal yang perlu diluruskan. Pertanyaannya adalah benarkah ajaran agama bermaksud demikian ataukah penganut-penganut agama tersebut yang menafsirkannya demikian ataukah pula penganut-penganut (laki-laki) agama yang menjadikan ayat-ayat kitab sucinya melegalkan tindakannya untuk mendiskriminasikan perempuan demi kepentingannya? Sebab ajaran agama perlu ditafsirkan sedemikian rupa baik berdasarkan teks kitab suci maupun konteksnya. Demikian juga halnya dengan tradisi. Tradisi terbangun dalam budaya (patriarkhi) yang dipengaruhi oleh berbagai sistem nilai yang di dalamnya juga agama berada. Jadi ketika ajaran agama diyakini melegalkan pendiskriminasian perempuan, maka pada tradisipun demikian.

B. Pemosisian perempuan yang nampak di dalam masyarakat berdasarkan simbolisasi yang makna sebenarnya hendak menjelaskan posisi perempuan yang yang terhormat, memang sangat dipengaruhi oleh pemaknaan simbol. Kenapa hal ini terjadi, menurut kami adalah bahwa simbolisasi perempuan seperti yang diuraikan malah dianggap kalimat perumpamaan yang mengandung makna yang lain dan ditafsirkan menurut kepentingan masig-masing orang. Di sini lagi-lagi terjadi interpretasi yang keliru atau mungkin disengaja. Kalaupun simbolisasi tersebut diakui, tetapi kerapkali itu di lakukan hanya sekedar lips service untuk menenangkan perempuan.

C. Mengenai strategi perjuangan perempuan pada dasarnya terletak pada bagaimana kesungguhan perempuan melakukannya. Perempuan sebenarnya berjuang untuk merobah sistem dan menghancuran interpretasi yang keliru dari laki-laki terhadap posisi mereka. Gerakan perempuan dalam pembangunan pada akhir dekade 1960-an dan di sepanjang 1970-an yang merupakan strategi mereka dianggap kurang berhasil, terutama dalam keberdayaan. Kenapa ini terjadi, sebab perempuan kelihatannya dalam perjuangannya melupakan konsep kesetaraan atau dengan kalimat lain bisa dikatakan bahwa perempuan kurang memikirkan posisi mereka dengan laki-laki dalam strategi pembangunan tersebut. Selanjutnya, gerakan gender dan pembangunan yang dilakukan perempuan patut diacungkan jempol tetapi harus diakui bahwa gerakan ini perlu dipahami dengan seksama baik oleh perempuan sendiri terlebih oleh laki-laki sehingga gender tidak diartikan sebagai sebuah gerakan yang hendak memposisikan diri di atas laki-laki melainkan untuk mensejajarkan diri dengan laki-laki tanpa merubah hakikat sebagai perempuan.

D. Kepedulian negara terhadap perempuan sejak masa pemerintahan Sukarno hingga pada masa kini walaupun ada peningkatan yang menggembirakan, namun terus terang harus diakui bahwa negara masih memperlakukan perempuan warga kelas dua sesudah laki-laki baik dalam pemerintahan, legislatif, politik, dan lain sebagainya. Perempuan masih seringkali dijadikan objek baik dalam pembangunan maupun dalam hukum. Misalnya : Perempuan dianggap masih belum mampu melindungi diri mereka sendiri, sehingga perlu membuat UU perlindungan terhadap mereka oleh negara, demikian juga dengan kuota bagi perempuan dalam legislatif masih ditentukan oleh kebijakan partai politik maupun pemerintah. Jadi perempuan masih harus melanjutkan perjuangan mereka untuk menggapai apa yang diharapkan.
                 

bendrio sibarani: renungan

bendrio sibarani: renungan: Bacaan Alkitab: Kej. 11: 1- 9 “Demokrasi Versus Theokrasi” Pengantar             Sinear atau Babel, merupakan kota tertua dan perta...