Selasa, 29 Januari 2013

bendrio sibarani: khotbah

bendrio sibarani: khotbah: Bacaan Alkitab: 2 Petrus 1: 3-10 Proses Dalam Memenuhi Panggilan dan Pilihan Sebagai Pelayan Kristus Saudara-saudara, Mahasiswa Ya...

khotbah

Bacaan Alkitab: 2 Petrus 1: 3-10
Proses Dalam Memenuhi Panggilan dan Pilihan
Sebagai Pelayan Kristus
Saudara-saudara, Mahasiswa Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Di zaman modern seperti yang kita sedang jalani saat ini, gaya hidup sangat mengalami pergeseran yang amat cepat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Gaya hidup tersebut hampir mempengaruhi kehidupan orang-orang secara menyeluruh. Apakah itu pola konsumerisme (makan), atau pola berdandan atau berpakaian, gaya hidup untuk meraih sukses, termasuk dalam pola/gaya belajar bahkan juga dalam hal beriman. Tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang tersebut menginginkan segala sesuatu dalam kehidupan ini tercapai dengan serba instan atau tercapai dengan praktis tanpa berlama-lama, atau berlelah-lelah melalui proses demi proses. Setiap generasi dengan generasi sebelum dan sesudahnya selalu saja terdapat perbedaan dalam hal gaya atau pola hidup. Persoalannya adalah, bahwa seringkali pola atau gaya hidup pada generasi muda membingungkan pendahulunya karena tidak sesuai dengan yang mereka harapkan terjadi pada generasi setelah mereka. Di sisi yang lain, generasi muda juga seringkali bingung dalam menentukan pola hidup mereka karena pendahulu mereka tidak memberikan contoh gaya hidup yang tepat sesuai dengan kerinduan mereka. Di sinilah letak persoalan antara senior dan junior sehingga lahir kebingungan di antara angkatan dalam sebuah kelompok komunitas. Pertanyaannya adalah apa yang mengakibatkan hal seperti ini terjadi?
Saudara-saudara,
            Memang zaman terus berubah, tetapi sebagai orang percaya, orang yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan, kita perlu bertanya, apakah benar zaman yang terus menerus berubah itu harus mengubah hidup kita dari identitas kita sebagai orang percaya?
Firman Tuhan saat ini perlu mendapat perhatian dari kita sebagai orang percaya dalam mencapai apa yang kita perjuangkan sebagai orang yang mengaku diri dipanggil dan dipilih Tuhan untuk menjadi saksi-saksiNya memberitakan Syalom kerajaanNya kepada dunia ini. dengan tegas dikatakan bahwa kuasa Illahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia. Namun perlu diketahui bahwa hidup saleh bukanlah tujuan akhir dari perjuangan kita sebagai orang beriman. Akan tetapi kepada iman  tersebut harus ditambahkan kebajikan (beramal, dermawan, bermurah hati, memberkati dengan cara berbagi, dll). Kepada kebajikan itu juga harus ditambahkan pengetahuan. Dalam Alkitab pengetahuan bukanlah sekadar pemahaman intelektual. Pengetahuan mencakup emosi dan hubungan-hubungan personal. Israel mempunyai pengetahuan tentang Allah atau pengenalan akan Allah, yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain.
Berbicara tentang pengetahuan sesuai PB, akan cukup menarik kalau kita berhadapan dengan orang-orang yg secara formal percaya bahwa Tuhan ada, kendati mereka tidak peduli pada tuntutan-tuntutan-Nya. Semua orang wajib menanggapi penyataan dalam Kristus yg memungkinkan pengetahuan yang lengkap tentang Allah, yang tidak hanya merupakan pengertian intelektual tapi juga merupakan ketaatan kepada maksud Allah yang telah dinyatakan, penerimaan kasih-Nya yang telah dinyatakan dan persekutuan dengan Allah sendiri. Selanjutnya kepada pengetahuan tersebut harus ditambahkan penguasaan diri. Jujur harus diakui bahwa tanpa penguasaan diri, pengetahuan terlebih pengetahuan inteletual bisa membuat seseorang lupa diri dan akhirnya lupa Tuhannya, itulah sebabnya penguasaan diri itu penting dalam hubungannya dengan pengetahuan. Kepada penguasaan diri harus ditambahkan ketekunan, ketekunan dalam hal ini dapat dipahami sebagai sikap yang penuh perhatian dan keuletan dalam hal apa yang dilakukan seseorang. Kemudian menambahkan kesalehan dan kepada kesalehan ditambahkan lagi kasih akan saudara-saudara, kemudian kasih akan semua orang. Jika kita menarik kesimpulan awal, maka supaya panggilan dan pilihan kita makin teguh iman harus diaplikasikan lewat kasih kepada semua orang. Dan untuk mengasihi, kita ternyata perlu dan harus melengkapi diri dengan berbagai hal yang merupakan proses hidup yang harus dijalani dan ditempuh. Dalam arti tidak ada sesuatu yang instan bagi seorang yang beriman dalam mencapai tujuan akhir dalam perjalanan hidupnya.
Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Firman Tuhan saat ini, kembali mengingatkan kita, khususnya yang adalah kaum intelektual, para teolog yang sedang dibentuk Tuhan di lembaga ini, bahwa bagi kita sekalian hidup serba instan terlebih dalam memenuhi panggilan Tuhan tidaklah berlaku. Untuk memenuhi panggilan dan pilihan Tuhan belumlah final jika hanya pada titik beriman. Tetapi kepada iman yang kita miliki  harus ditambahkan kebajikan, kemudian ditambahkan lagi pengetahuan, kemudian kepada pengetahuan ditambahkan lagi penguasaan diri, kepada penguasaan diri ditambahkan lagi ketekunan dan kesalehan kemudian kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Dengan demikian, menjadi orang yang dipanggil dan dipilih Tuhan, apa yang diuraikan Petrus dalam suratnya ini menjadi hal yang mutlak dijalani, dialami dan dimiliki oleh kita sekalian. Mulai dari iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, kesalehan, dan kasih merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam proses meneguhkan panggilan dan pilihan setiap orang percaya, termasuk kita sekalian saat ini. untuk itu dari kita sekalian dituntut usaha yang sungguh-sungguh, sehingga panggilan dan pilihan kita semakin diteguhkan. Ingat saudara-saudara, jika melakukannya, maka kita tidak akan pernah tersandung, itu jaminan bagi kita sekalian melalui Firman Tuhan saat ini.
Perjuangan kita memang tidak mudah, sebab tidak ada perjuangan yang berhasil jika tak disertai dengan pengorbanan. Dan` tidak ada pengorbanan yang sia-sia dalam hidup seseorang dalam perjuangannya untuk mewujudkan setiap impiannya jika berkorban di dalam Tuhannya. untuk itu, saatnya bagi kita sekalian merenungkan kembali hakikat keterpanggilan kita untuk diproses di lembaga ini.  Masihkah terbesit dibenak kita untuk menempuh cara instan dalam perjuangan kita untuk tiba pada tujuan dan cita-cita dalam hidup kita? Terpujilah Kristus. Amin.

Minggu, 30 Desember 2012

Sabtu, 29 Desember 2012

bendrio sibarani: Babtisan Bagi Mereka SUku Terasing

bendrio sibarani: Babtisan Bagi Mereka SUku Terasing

Babtisan Bagi Mereka SUku Terasing












bendrio sibarani: renungan Malam Akhir Tahun Keluarga

bendrio sibarani: renungan Malam Akhir Tahun Keluarga: Bacaan Alkitab: Wahyu 22: 1- 5 Hidup Baru Yang Dibaharui Ditahun Yang Baru Keluarga dan Kita sekalian Yang Dikasihi dan Diberkati...

renungan Malam Akhir Tahun Keluarga


Bacaan Alkitab: Wahyu 22: 1- 5
Hidup Baru Yang Dibaharui Ditahun Yang Baru

Keluarga dan Kita sekalian Yang Dikasihi dan Diberkati Tuhan Yesus Kristus,
            Dalam perjalanan sejarah hidup manusia, ada tiga ruang waktu yang mewarnai langkah hidup tersebut, yakni masa lalu, masa kini dan masa nanti. Tiga ruang waktu tersebut wajib untuk dilalui dan tidak mungkin bisa dilewati salah satu dari bagian waktu tersebut. Kehidupan umat Tuhanpun demikian halnya. Kita wajib melalui tiga ruang waktu tersebut, dan Tuhan sendiri ada di tiga ruang waktu tersebut (Ibrani 13:8) yang senantiasa menyertai langkah perjalanan hidup umatNya. Kita harus mengaminkan, bahwa di ruang waktu, “masa lalu” kita telah lewati dengan penyertaan Tuhan, sehingga kita dapat tiba di ruang waktu “”masa kini” atau di penghujung tahun ini. Kemudian dalam pengharapan, kita sedang dan akan menyambut serta memasuki satu ruang waktu lagi, yakni “masa nanti” atau tahun yang baru yang kita percaya adalah Tahun Rahmat Tuhan, Tahun yang penuh Berkat dan Damai sejahtera. Merenungkan seluruh perjalanan hidup yang telah kita lewati, adalah wajib bagi kita sekalian dalam keluarga ini untuk bersyukur kepada Tuhan, sebab Hanya karena pertolonganNyalah kita masih diperkenankan mengakhiri tahun ini dalam suasana sukacita dan diberkati oleh Dia. Kita akan menyambut serta memasuki tahun yang baru, sebagai manusia biasa, kita tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengetahui akan apa yang akan kita hadapi di waktu yang akan datang ini. Hari esok adalah misteri bagi setiap makhluk di kolong langit ini, akan tetapi sebagai umat Tuhan, dalam keyakinan dan pengharapan, Tahun baru yang akan kita masuki tentulah tahun yang penuh Rahmat bagi kita. Itulah pengharapan kita. Dalam Ibrani 6:19 dijelaskan bahwa: “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir..” Dan Paulus sendiri menegaskan dalam  Roma 8:24 “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Ini hendak menegaskan kepada kita bahwa syarat mutlak menyambut dan memasuki tahun baru bagi setiap orang percaya termasuk kita dalam keluarga ini ialah hidup dalam pengharapan.
Kita Keluarga Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Kitab Wahyu yang menjadi renungan kita saat ini, sebenarnya adalah kitab “masa depan”, atau yang biasa disebut “kitab yang tersembunyi” (apokalipsy), mengandung janji Tuhan yang sangat indah bagi setiap orang percaya dalam memasuki masa depannya. Yohanes yang menerima Wahyu mengaku bahwa Tuhan menunjukkan kepadanya sungai air kehidupan yang jernih bagaikan Kristal dan mengalir keluar dari Takhta Allah dan Takhta Anak Domba itu. Terdapat pula pohon-pohon kehidupan yang berbuah tiap bulan, yang daunnya dipakai menyembuhkan bangsa-bangsa. Dalam kehidupan masa depan tersebut juga dilukiskan suasana hidup yang amat sangat indah, di mana malam tidak ada lagi dan tidak lagi dibutuhkan cahaya lampu dan matahari, sebab Allah sendirilah yang menjadi penerang bagi umatNya. Dan Allah akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya. Suasana yang dilukiskan Rasul Yohanes ini pada dasarnya, tidaklah melulu terjadi setelah kita meninggalkan kehidupan dunia ini, melainkan, Rasul Yohanes sendiri hendak menguatkan hati dan iman orang-orang percaya kala itu yang dilanda kekuatiran hidup akibat penganiayaan dan penindasan yang diterima dari kaisar Romawi yang terkenal sadis dan biadab, yakni Kaisar Nero. Suasana Hidup umat Tuhan tersebut mengakibatkan mereka seakan-akan pesimis dan kuatir akan hari depan. Itulah sebabnya, kitab Wahyu juga disebut dengan Kitab yang berisikan Teologi Ketabahan.
Keluarga Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Seperti yang dikatakan tadi di atas, bahwa sebagai manusia biasa, kita tidak mengetahui akan dan bagaimana kehidupan kita di hari esok, di Tahun yang baru 2013. Namun syukur kepada Tuhan, kita mempunyai pengharapan, bahwa Tahun 2013 adalah Tahun Rahmat Tuhan, sebagaimana yang dilukiskan Yohanes dalam kitab Wahyu ini, kita patut bersyukur dan memuliakan Tuhan sebab kepada kita keluarga, apa yang ditunjukkan Tuhan kepada Yohanes, yakni sungai air kehidupan yang jernih bagiakan Kristal, yang besertanya juga tumbuh pohon kehidupan, di mana kekelaman hidup tak’kan terjadi sebab Tuhan sendiri yang menerangi hidup, juga menjadi bagian hidup kita dalam keyakinan dan pengharapan kita kepada Tuhan yang Maha mulia. Karena itu, dari kita dituntut kesetiaan dan ketabahan menjalani kehidupan ini dengan tetap berpegang pada janji Tuhan serta melakukan apa yang dikehendakiNya. Sebagai Keluarga Kristen, maka wajib bagi kita untuk terus hidup dalam pengharapan, dan dengan tegas kita harus mencamkan bahwa, Masa lalu adalah Pembelajaran, Masa Kini adalah Tindakan, dan Masa Depan adalah Pengharapan. Kendatipun Tuhan Tak pernah menjanjikan hidup ini mudah, akan tetapi Ia berjanji setia menyertai kita. Untuk mari kita hidup dalam Iman, sebab Iman membuat segala sesuatu menjadi mungkin, kita juga harus hidup dalam Kasih, sebab Kasih membuat segala sesuatu menjadi mudah, serta kita juga harus hidup terus dan setia dalam pengharapan, sebab pengharapan membuat segala sesuatu berjalan dengan baik. Kiranya suangai air kehidupan yang jernih bagaikan Kristal mengalir dalam kehidupan keluarga kita ini, pohon kehidupan berbuah dan Tuhan Allah sendiri akan menyinari kita dengan wajahNya, sehingga Damai sejahtera senantiasa mewarnai langkah hidup kita. Terpujilah Kristus Tuhan. AMIN.

Rabu, 14 November 2012

bendrio sibarani: perempuan dan teologi

bendrio sibarani: perempuan dan teologi: NEKSUS NEGARA DAN PEREMPUAN Oleh Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Teol             Persoalan bagaimana perempuan menempatkan diri terce...

perempuan dan teologi


NEKSUS NEGARA DAN PEREMPUAN
Oleh Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Teol

            Persoalan bagaimana perempuan menempatkan diri tercermin dari penerimaan atau penolakan perempuan terhadap citra yang dilekatkan oleh pihak eksternal terhadap dirinya atau posisi yang diberikan terhadap dirinya, baik di ranah domestik maupun di ranah publik. Dalam hal ini ada dua macam sikap perempuan, yakni :
1. Perempuan yang pasrah dan bahkan menikmati pembatasan-pembatasan
                struktural atau kultural terhadap mereka.
            2. Perempuan menolak dan memberontak kemudian berjuang untuk
                memperoleh hak-haknya sebagai manusia yang utuh.
Penempatan atau pemosisian perempuan oleh Negara tercermin dari pikiran dan perilaku para negarawan dan birokrat politik dan juga kebijakan - kebijakan negara atau dengan kata lain politisi, birokrat dalam negara menentukan dan sangat mempengaruhi posisi perempuan dalam Negara.

Agama dan Tradisi
            Agama ( karena di dalam kitab – kitab suci klasik perempuan dituntut untuk tunduk kepada laki – laki ) dan tradisi sangat mempengaruhi pemosisian perempuan, Perempuan bisa terkontruksi menjadi makhluk yang tunduk yang pada akhirnya posisinya hanya di ranah domestik. Tetapi agama dan tradisi juga dapat merekontruksi posisi tersebut dengan cara rekontruksi pemikiran keagamaan atau redefinisi nilai – nilai sosial di masyarakat sehingga terbangun sistem nilai yang adil antara perempuan dan laki – laki.
    
Simbolisasi Perempuan
            Simbol-simbol yang terbangun di dalam masyarakat juga mempengaruhi pemosisian perempuan. Namun simbolisasi tersebut seringkali dimanfaatkan oleh laki-laki hanya sekedar pemanis untuk menenangkan perempuan atau sebagai pembungkus nilai-nilai patriarki. Secara simbolik sebenarnya perempuan mendapat posisi yang terhormat dalam imajinasi orang Indonesia, yakni sebutan persada nusantara dengan “ ibu pertiwi “  demikian juga di jawa yang meyakini Dewi Sri sebagai lambang kesuburan tanah pertanian. Dalam hal ini tanah dimaknai sebagai entitas yang bersifat feminis. Pengakuan dan penghargaan yang tercermin di dalam simbolisasi perempuan seringkali dibelokkan untuk memberi penegasan bahwa tempat yang cocok bagi perempuan adalah rumah. Konsekuensi ekstrim dari pembelokan seperti ini adalah perempuan tidak layak masuk ke ranah publik sebab itu adalah dunianya laki – laki. Kalaupun perempuan mau masuk ke ranah publik, ranah domestik haruslah tetap menjadi peran primernya. Di situlah perempuan menerima beban ganda selain pencari nafkah rumah tangga ia juga tetap ibu rumah tangga. Pengotakan perempuan di ranah domestik ini diperkuat dengan munculnya idiom tentang perempuan yang bersifat denotative (merendahkan derajat). Perempuan juga kadangkala dijadikan property dan simbol kekayaan laki-laki seperti halnya yang terjadi di dalam kebudayaan jawa. Demikian juga halnya ketika perempuan dijadikan objek pemuasan hedonisme seks laki-laki (contohnya yang terjadi di dalam kerajaan jawa tempo dulu).

Kartini: Simbol Emansipasi Perempuan
             Sosok Kartini pantas dibicarakan dalam rangka berbicara tentang gerakan perempuan di negeri ini. Walaupun sebenarnya Kartini tidak membuat gerakan emansipasi secara langsung, tetapi dari surat menyurat yang dilakukannya kepada sahabat-sahabatnya di Belanda telah melahirkan inspirasi yang sangat berharga bagi gerakan emansipasi perempuan dikemudian hari. Di dalam surat-suratnya tersebut tersirat gagasan progresif dan revolusioner tentang emansipasi. Kartini terobsesi mengeluarkan perempuan dari penjara domestik dan menjadikan perempuan sebagai manusia utuh sama dengan laki-laki. Untuk itu perempuan harus belajar menjadi manusia produktif, menjadi subjek bukan objek. Lahirnya gerakan perempuan-perempuan (poetri mardiko, wanita oetomo, aisyia, dll, terutama dengan kongres perempuan I 1928 di Yogyakarta) merupakan pengejawantahan dari perjuangan Kartini sebelumnya.

Strategi Perjuangan Perempuan
            Perjuangan perempuan dimulai dengan apa yang dinamakan sebagai gerakan perempuan dalam pembangunan ( women in development ) yang dominan pada akhir dekade 1960-an dan sepanjang dekade 1970-an. Gerakan ini menawarkan strategi pembangunan yang meletakkan perempuan sebagai aset dan sasaran, bukan beban pembangunan. Dengan meningkatkan produktivitas, pendapatan perempuan dan kemampuannya dalam mengatur rumah tangga serta mengintegrasikan perempuan dalam proyek dan hal lainnya telah meningkatkan angka partisipasi perempuan dalam proses pembangunan, akan tetapi tidak dalam tingkat keberdayaan mereka. Dengan kata lain konsep kesetaraan gender belum ditonjolkan dan gerakan ini belum diarahkan terhadap struktur dan kultur sosial yang bias gender.
            Perjuangan selanjutnya diwujudkan dalam strategi Gender dan pembangunan (Gender and development). Gerakan ini populer pada dekade 1980-an yang didasarkan pada anggapan bahwa persoalan dalam pembangunan adalah adanya hubungan gender yang tidak adil. Untuk itu isu-isu gender sangat perlu untuk di kedepankan dalam memerangi ketidakadilan. Gerakan ini menghasilkan hal penting yakni diterimanya konvensi global anti segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Pengesahan undang-undang no. 8 tahun 1978 oleh pemerintah merupakan  langkah maju yang menunjukkan diterimanya konvensi tersebut. Lahirnya platform for action  tahun 1985 dalam konferensi PBB di Beijing memperkuat strategi ini. Sehingga gender diharapkan menjadi arus utama dalam pembangunan.

Kepedulian Negara Terhadap Perempuan
       Kepedulian negara terhadap perempuan sudah nampak sejak dari pemerintahan Sukarno yakni diberinya hak-hak termasuk dalam politik bukan hanya memilih tetapi juga untuk duduk di parlemen. Demikian juga dalam masa pemerintahan Suharto, perempuan mengalami kemajuan yang berarti dengan dibentuknya  satu lembaga dalam pemerintahan dengan nama kementerian muda urusan wanita yang kemudian beberapa kali mengalami perubahan nama dan peningkatan perannya. Perubahan ini lebih nyata ketika dibentuknya menteri negara pemberdayaan perempuan pada tahun 2000. Selanjutnya atas kinerja kementerian ini lahirlah inpres no. 9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender yang tercermin melalui kebijakan-kebijakan negara (salah satunya dalam strategi nasional penanggulangan kemiskinan).

Peran Masyarakat Sipil
            Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mewakili masyarakat sipil juga turut memperjuangkan kesetaraan dan mengatasi persoalan tentang perempuan. Banyaknya LSM yang berkecimpung dalam perjuangan perempuan membuktikan bahwa masyrakat sipil pada dasarnya telah memainkan peran penting dalam memperjuangkan perempuan.

Kemajuan Perempuan
            Harus diakui bahwa perempuan Indonesia sudah banyak mengalami kemajuan, akan tetapi pada tingkat tertentu masih terdapat banyak ketimpangan gender. Dalam bidang pendidikan misalnya, partisipasi perempuan dan laki – laki  telah sama dalam pendidikan dasar, tetapi pada pendidikan yang lebih tinggi gap laki-laki dengan perempuan semakin nampak. Demikian juga dalam kesehatan. Perempuan telah memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih baik, tetapi dalam keselamatan ibu  melahirkan  masih nampak jumlah kematian yang cukup tinggi demikian juga aborsi yang dilakukan masih banyak menghilangkan nyawa perempuan. Di ranah publik kelihatan bahwa perempuan telah banyak berkarya, namun jika dibandingkan dengan laki-laki tetap saja masih ada ketimpangan yang menyolok. Demikian juga menyangkut upah kerja, perempuan masih menerima diskriminasi dimana upah kerja laki-laki tetap lebih tinggi dari upah kerja perempuan.

Tanggapan

A. Mengenai ajaran agama yang bisa menjadi faktor yang meminggirkan perempuan berdasarkan ajaran agama menurut isi kitab-kitab klasik pada dasarnya adalah hal yang perlu diluruskan. Pertanyaannya adalah benarkah ajaran agama bermaksud demikian ataukah penganut-penganut agama tersebut yang menafsirkannya demikian ataukah pula penganut-penganut (laki-laki) agama yang menjadikan ayat-ayat kitab sucinya melegalkan tindakannya untuk mendiskriminasikan perempuan demi kepentingannya? Sebab ajaran agama perlu ditafsirkan sedemikian rupa baik berdasarkan teks kitab suci maupun konteksnya. Demikian juga halnya dengan tradisi. Tradisi terbangun dalam budaya (patriarkhi) yang dipengaruhi oleh berbagai sistem nilai yang di dalamnya juga agama berada. Jadi ketika ajaran agama diyakini melegalkan pendiskriminasian perempuan, maka pada tradisipun demikian.

B. Pemosisian perempuan yang nampak di dalam masyarakat berdasarkan simbolisasi yang makna sebenarnya hendak menjelaskan posisi perempuan yang yang terhormat, memang sangat dipengaruhi oleh pemaknaan simbol. Kenapa hal ini terjadi, menurut kami adalah bahwa simbolisasi perempuan seperti yang diuraikan malah dianggap kalimat perumpamaan yang mengandung makna yang lain dan ditafsirkan menurut kepentingan masig-masing orang. Di sini lagi-lagi terjadi interpretasi yang keliru atau mungkin disengaja. Kalaupun simbolisasi tersebut diakui, tetapi kerapkali itu di lakukan hanya sekedar lips service untuk menenangkan perempuan.

C. Mengenai strategi perjuangan perempuan pada dasarnya terletak pada bagaimana kesungguhan perempuan melakukannya. Perempuan sebenarnya berjuang untuk merobah sistem dan menghancuran interpretasi yang keliru dari laki-laki terhadap posisi mereka. Gerakan perempuan dalam pembangunan pada akhir dekade 1960-an dan di sepanjang 1970-an yang merupakan strategi mereka dianggap kurang berhasil, terutama dalam keberdayaan. Kenapa ini terjadi, sebab perempuan kelihatannya dalam perjuangannya melupakan konsep kesetaraan atau dengan kalimat lain bisa dikatakan bahwa perempuan kurang memikirkan posisi mereka dengan laki-laki dalam strategi pembangunan tersebut. Selanjutnya, gerakan gender dan pembangunan yang dilakukan perempuan patut diacungkan jempol tetapi harus diakui bahwa gerakan ini perlu dipahami dengan seksama baik oleh perempuan sendiri terlebih oleh laki-laki sehingga gender tidak diartikan sebagai sebuah gerakan yang hendak memposisikan diri di atas laki-laki melainkan untuk mensejajarkan diri dengan laki-laki tanpa merubah hakikat sebagai perempuan.

D. Kepedulian negara terhadap perempuan sejak masa pemerintahan Sukarno hingga pada masa kini walaupun ada peningkatan yang menggembirakan, namun terus terang harus diakui bahwa negara masih memperlakukan perempuan warga kelas dua sesudah laki-laki baik dalam pemerintahan, legislatif, politik, dan lain sebagainya. Perempuan masih seringkali dijadikan objek baik dalam pembangunan maupun dalam hukum. Misalnya : Perempuan dianggap masih belum mampu melindungi diri mereka sendiri, sehingga perlu membuat UU perlindungan terhadap mereka oleh negara, demikian juga dengan kuota bagi perempuan dalam legislatif masih ditentukan oleh kebijakan partai politik maupun pemerintah. Jadi perempuan masih harus melanjutkan perjuangan mereka untuk menggapai apa yang diharapkan.
                 

bendrio sibarani: renungan

bendrio sibarani: renungan: Bacaan Alkitab: Kej. 11: 1- 9 “Demokrasi Versus Theokrasi” Pengantar             Sinear atau Babel, merupakan kota tertua dan perta...

Kamis, 02 Agustus 2012

bendrio sibarani: MOTIVASI....Pendidikan red.

bendrio sibarani: MOTIVASI....Pendidikan red.: MOTIVASI Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Th Istilah “ M otivasi” ( M otivation ) barasal dari bahasa latin, yakni M overe, yang berart...

MOTIVASI....Pendidikan red.


MOTIVASI
Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Th
Istilah “Motivasi” (Motivation) barasal dari bahasa latin, yakni Movere, yang berarti “menggerakkan”[1].
Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia, motivasi adalah alasan; bergerak; membuat alasan; menggerakkan.[2] Kata “motivasi” juga diadopsi dari bahasa Inggris  motivation” yang berarti alasan, daya batin, dorongan.[3] Ada dua bentuk motivasi yaitu: motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsik adalah sesuatu yang ada dan yang menjadi ciri dari kepribadian
                                          seseorang, atau dengan kata lain, sesuatu mengenai apa
                                          yang ada dan dibawa dari lahir.
 Motivasi ekstrinsik adalah sesuatu yang ditumbuhkan, dikembangkan serta hasil
                                          dari mempelajari sesuatu melalui interaksi dengan
                                           lingkungan.[4]
 Pada hakikatnya, motivasi mewakili proses-proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya, dan terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke arah tujuan tertentu.[5] Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Jerry L. Gray, dkk, bahwa motivasi pada hakekatnya merupakan hasil sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seseorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).
Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan[6]. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Motivasi dapat bersifat positif dan negatif. Motivasi positif yang kadang-kadang dinamakan orang “motivasi yang mengurangi perasaan cemas”, yakni di mana orang ditawari sesuatu yang bernilai, seperti pujian, hadiah dan lain-lain. Sedangkan motivasi negatif yang biasa dinamakan orang pendekatan tongkat pemukul, menggunakan ancaman, hukuman dan lain-lain.
Apapun sifatnya, pada hahekatnya motivasi bertujuan tidak lain adalah untuk mendorong siswa belajar demi keberhasilannya dengan prestasi yang memuaskan. Dengan kata lain tujuan dari motivasi tidak lain adalah untuk prestasi siswa baik di bidang pendidikan yang ditempuhnya maupun demi kepribadiannya. Motivasi dapat mempengaruhi tingkat kognitif, afektif dan psikomotorik dari siswa. Dalam arti, motivasi dapat memampukan siswa untuk mengembangkan pengetahuannya secara mandiri, menambah pengalaman dari orang yang memberi motivasi kepadanya dan memberi wacana yang dapat dikajinya berdasarkan alam berpikirnya. Motivasi yang baik pun dapat mengarahkan perilaku siswa ke arah yang baik, sesuai dengan tata nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Motivasi juga dapat mempengaruhi tindakan siswa, di mana ia dapat menentukan pilihan bertindak untuk hal-hal yang baik dan berguna bagi dirinya dan bagi orang lain.
Menurut beberapa defenisi, motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu; menggerakkan, mengarahkan dan menopang tingkah laku manusia[7].
-                            Menggerakkan, Berarti menimbulkan kekuatan pada individu; memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Misalnya kekuatan dalam hal ingatan, respons-respons efektif, dan kecenderungan mendapat kesenangan.
-                            Mengarahkan, atau menyalurkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan. Tingkah laku tersebut diarahkan terhadap sesuatu.
-                            Menjaga dan Menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan.
Demikianlah pengertian motivasi dalam hubungannya dengan pendidikan.










Guru Sebagai Motivator
            Mendidik, mengajar dan melatih siswa merupakan tugas pokok yang harus dilaksanakan oleh seorang guru. Namun tanggung jawab itu tidak sampai di sini, guru juga memiliki tugas dan tanggung jawab yang lebih luas, yakni bahwa guru juga dituntut sebagai motivator terutama dalam hal belajar siswa. Siswa membutuhkan motivasi dari guru dalam rangka usahanya belajar dan juga dalam pembentukan kepribadiannya sebagai seorang yang sementara belajar.
            Peran guru sebagai motivator berarti guru bertanggung jawab memberi dorongan kepada siswa agar lebih giat dan semangat dalam belajar. Sebagai seorang motivator, maka seorang guru harus mengenal siswa atau anak didiknya dengan baik sehingga dia dapat memilih jenis motivasi yang tepat bagi siswa tersebut. Pengenalan ini tidak terbatas pada tinggi rendahnya IQ siswa tetapi juga tentang karakteristik siswa dan juga lingkungan di mana siswa bersangkutan berdomisili. Hal ini penting, karena 75% baik kepribadian siswa maupun kondisi belajarnya dipengaruhi oleh lingkungan tempat di mana dia tinggal. Dengan demikian, berperan sebagai motivator, guru juga dituntut untuk memberi diri dan waktu kepada siswa bukan hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di luar sekolah. 






Strategi-Strategi Yang Bisa Digunakan Oleh Guru Untuk Menumbuhkan
Motivasi Belajar Siswa.
      Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yakni:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai kompetensi khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar. Demikian juga halnya dengan kompetensi umum, sehingga guru mampu menyusun rencana pembelajaran bagi siswa-siswanya.
2. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hadiah, biasanya menjadi sesuatu yang membuat seseorang untuk lebih menghargai apa yang telah dilakukannya sehingga ia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Demikian juga halnya dengan siswa yang sedang berkompetisi dalam ruang kelasnya dalam berbagai mata pelajaran yang diterimanya dari sang guru. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. Hadiah juga dapat dimengerti sebagai sebuah penghargaan bagi seseorang yang layak untuk memperoleh hadiah tersebut karena hadiah tersebut bukanlah pemberian belaka akibat iba ada rasa kasihan, melainkan karena memamng seseorang tersebut layak menerimanya sesuai dengan prestasi yang diraihnya. Hadiah tersebut tidak perlu harus muluk-muluk atau menelan biaya yang tinggi cukup misalnya dengan menghadiahkan sebuah buku atau alat tulis dan hadiah tersebut diberikan di hadapan semua siswa.
3. Saingan/kompetisi
Di samping pemberian hadiah bagi siswa, Guru juga perlu berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. Melalui usaha seperti ini, siswa diharapkan akan termotivasi untuk belajar demi keberhasilannya dalam kompetisi tersebut. Kompetisi tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penyelenggaraan kuis di kelas yang melibatkan siswa secara keseluruhannya.

4. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun dalam arti bukan sekedar pujian yang membuat siswa hanya bangga tanpa termotivasi dengan keberhasilannya. Sebuah pujian yang diberikan kepada siswa akan memotivasi siswa tersebut untuk semakin meningkatkan semangatnya belajar. Tetapi bukan hanya siswa yang berprestasi saja yang diberi pujian, yang tidak berprestasipun juga perlu mendapat pujian dari guru. Pujian tersebut diberi pada kemampuan siswa tersebut dalam hal tertentu dengan catatan bahwa pujian tersebut harus berisi nasihat dan motivasi agar siswa yang kurang atau tidak berprestasi tersebut merasa bahwa dia juga mendapat perhatian dari sang guru yang mengajarnya. Pujian dari sang guru bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk di antaranya dengan menyampaikan kata-kata pujian baik di hadapan siswa lainnya maupun secara pribadi, akni dari sang guru kepada siswanya.

5. Sanksi/Ganjaran
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Hukuman ini tidak dimaksud agar siswa yang berbuat kesalahan gagal atau digagalkan dalam perjuangannya di bangku pendidikan, melainkan hukuman ini hanyalah bagian dari penegakan disiplin dalam keberlangsungan proses belajar mengajar.
            Dalam memberikan hukuman, guru perlu memperhatikan keadaan psikologis siswanya sehingga tidak terjadi kesalahan yang lebih fatal akibat huuman tersebut, misalnya, siswa jadi enggan masuk dan mengikuti pelajaran yang diajarkan guru tersebut.

6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seorang guru. Waktu yang serba terbatas di sekolah juga menjadi faktor yang mengakibatkan sulitnya memotivasi siswa untuk belajar. Sebenarnya yang paling berkompeten dan mempunyai banyak waktu untuk memotivasi siswa belajar adalah orang tua atau keluarga. Walaupun demikian, bukan berarti guru tidak dapat melakukan hal ini. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik.
Selain dengan perhatian yang maksimal di sekolah, guru juga perlu berinteraksi dengan siswa di luar sekolah atau di rumah siswa. Dengan perhatian seperti ini akan terjalin hubungan yang erat antara siswa dengan guru dan akibatnya sang guru akan mengetahui lebih banyak tentang siswa tersebut. Akhirnya, berkat pengenalan ini, guru dapat memilih cara atau metode yang tepat untuk memotivasi siswanya untuk belajar.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
            Kebiasaan belajar yang baik yang diajarkan seorang guru kapada siswa merupakan cara yang tepat untuk membiasakan siswa belajar dan akan menjadi sebuah tradisi belajar baginya ke waktu selanjatnya. Kebiasaan belajar yang baik menjadi sangat penting demi kesuksesan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah dan juga di luar sekolah.
            Terbentuknya kebiasaan belajar yang baik, akan memotivasi siswa untuk semakin meningkatkan belajarnya tanpa harus selalu menyesuaikan diri dengan metode dan pola belajar yang selalu berubah-ubah.

8. Membantu kesulitan belajar Siswa secara individual maupun kelompok
            Guru tidak saja hanya menstranfer ilmu pengetahuan kepada siswa tanpa memperhatikan out put dari siswa tersebut. Ketika siswa mengalami kesulitan belajar, maka guru juga bertanggung jawab membantu mereka. Dengan pembimbingan seperti ini guru berkesempatan lebih dekat dengan siswa dan mengatahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Sehingga guru tersebut bisa merekontruksi pembelajaran, baik itu metode mengajar, ataupun penggunaan alat-alat peraga dan yang lainnya.
            Bantuan yang diberikan guru kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar tidak boleh hanya kepada siswa tertentu semata, tetapi juga kepada siswa secara keseluruhan maupun dalam bentuk berkelompok.

9. Menggunakan metode yang bervariasi
            Dalam rangka memotivasi belajar siswa, guru perlu memikirkan berbagai cara dan mengambil langlah-langkah sehingga usaha tersebut berhasil. Menggunakan metode yang bervarisasi merupakan usaha yang penting dalam rangka menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran. Metode mengajar yang variatif oleh seorang guru sangat berpengaruh pada prestasi siswa.
            Metode mengajar oleh seorang guru sangat mempengaruhi minat siswa untuk mengikuti mata pelajaran yang diajarkan oleh guru mereka. Jika metode yang digunakan guru membosankan bagi siswa maka siswa juga akan malas dan jenuh engikuti pelajaran tersebut dan pada akhirnya akan melemahkan semangat mereka untuk belajar.

10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
            Penggunaan media dalam proses pembelajaran merupakan usaha guru untuk menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar. Dengan menggunakan media yang baik oleh seorang guru pada saat proses pembelajaran akan lebih memudahkan siswa menerima dan mencerna materi pelajaran yang diberikan guru kepada mereka.
            Untuk itu usaha seperti ini penting untuk dipikirkan oleh lembaga pendidikan, dalam arti lembaga pendidikan perlu melengkapi komponen pendidikan sekolah dengan alat-alat/media peraga untuk guru-guru demi keberhasilan siswa ke depan.











Guru Kristen Sang Motivator
            Memotivasi siswa adalah salah satu tanggung jawab penting yang tak dapat dilupakan oleh guru termasuk guru Kristen di dalamnya. Guru Kristen dalam mewujudkan tugas dan tanggung jawabnya tidak dapat dipisahkan dari jati dirinya sebagai pengikut Kristus. Kristus adalah Guru Agung yang menjadi panutan setiap guru, terlebih guru Kristen di dalamnya bukan saja dalam sikap dan perilaku sehari-hari, tetapi juga dalam menunaikan tugas dan panggilan di mana umat-Nya beraktivitas. Guru Kristen yang beraktivitas di sekolah sebagai pengajar juga menjadikan Yesus sebagai teladan yang harus diikuti dan dicontoh sebab Yesus juga adalah seorang Guru.
            Oleh karena itu, guru Kristen juga harus menjadikan Yesus sebagai figur Guru yang sempurna juga dalam hal memberi motivasi kepada murid-murid-Nya. Sebagai sang motivator, Yesus benar-benar mengerti dan menganggap penting memberi motivasi kepada para murid untuk mencapai apa yang menjadi tujuan-Nya. Demikian juga dengan guru Kristen, perlu untuk menghargai tanggung jawabnya sebagai motivator bagi keberhasilan siswanya. Pekerjaan motivator bukanlah pekerjaan yang mudah dan gampang, sebab untuk melakukan tugas ini, guru Kristen harus rela mengobarkan pikiran, daya dan waktunya. Kenapa demikian?, karena dalam rangka memotivasi siswa, guru Kristen bukan hanya melakukannya semata-mata di sekolah saja, melainkan juga di luar sekolah di mana siswa banyak beraktifitas.
            Dalam rangka memotivasi siswa, guru Kristen melakukannya bukan semata-mata karena mengingat tugasnya sebagi guru, melainkan karena keterpanggilan yang tulus dari dalam dirinya berdasarkan kasih kepada sesama. Menyadari hal ini, maka dibutuhkan sebuah pendidikan dengan program yang bukan hanya meningkatkan kognisi dan psikomotorik siswa, tetapi juga mengembangkan afeksi siswa. Di sinilah dibutuhkan program dari guru Kristen yang sifatnya menumbuhkan siswa dan terutama memotivasi siswa agar terus memacu dirinya berkembang ke arah kedewasaan berpikir dan bertindak.
            Sebagai motivator, guru Kristen perlu menumbuhkan cinta kasih dalam menjalankan tugasnya, dengan kata lain, guru Kristen haruslah seorang yang memiliki cinta kasih yang tulus dalam memotivasi siswanya sehingga siswa juga dapat dimotivasi untuk memperbaiki hubungannya dengan orang lain dan menajamkan perasaan untuk saling mengasihi dan saling memperdulikan[8]. Motivasi seperti ini dibutuhkan oleh siswa dalam membentuk kepribadiannya menjadi manusia yang berpikir dewasa dan manusia yang beriman. Dengan demikian sikap dan perilaku siswa tersebut akan sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di mana ia berinteraksi.
            Seorang guru Kristen harus menyadari kebutuhannya akan kasih karunia Allah yang menebus sehingga ia juga akan menyadari kebutuhan siswanya. Karena sebagai guru Kristen, ia telah mengenal iman dan perlu bersukacita dalam menjalani kehidupan Kristen, iapun perlu membagikannya kepada siswa melalui kehadirannya sendiri dan dalam interaksinya dengan siswa. Motivator seperti ini adalah motivator yang benar-benar melakukan tugasnya dengan tulus yang didasarkan pada panggilan iman sebagai orang Kristen. Oeh karena itu, hidup dan dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, guru Kristen memiliki kehidupan Kristen, “meniru Kristus” yakni suatu bentuk kesaksian dan cara mengkomunikasikan iman Kristen kepada orang lain, dalam hal ini terutama kepada para siswa[9]. Dengan meneladani Yesus sebagai sang motivator, guru Kristen akan benar-benar menjadi guru yang yang memiliki kepedulian yang besar terhadap kesuksesan siswa-siswanya.




[1]. J. Winardi, Motivasi Dan Pemotivasian dalam manajemen, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 1.
[2]. Departemen P & K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 133.
[3]. Echols, Kamus Lengkap Inggris - Indonesia
[4]. Band. Roestiyah N.  K . , Didaktik  Metodik, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 89. lihat pula, Moh. User Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 29.
[5]. Terence R. Mitchell yang dikutip oleh J. Winardi, Motivasi dan Pemotivasian Dalam Manajemen, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm.1
[6]. http/www.search.com/pendidikan, diakses tgl. 28 September 2009.
[7] . Terence R. Mitchell yang dikutip oleh J. Winardi, op. cit. Hal. 15
[8]. Band. Andar Ismail (Peny.), Ajarlah Mereka Melakukan, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1999), hlm. 167.
[9]. Band. Iris V. Cully, Dinamika Pendidikan Kristen, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2001), hlm. 162.