Kamis, 07 Mei 2015

Khotbah Ibadah Minggu GPID



Bacaan Alkitab: Mazmur 78: 32- 55; Matius 6: 25- 34; 1 Petrus 5: 5- 11
KETEGUHAN IMAN YANG SEMPURNA
Saudara-saudara, Sidang Jemaat Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Kehidupan umat Tuhan tidak dapat terpisahkan dalam tiga dimensi waktu, yakni masa silam, kini dan nanti. Tiga dimensi waktu tersebut juga mempengaruhi keimanan umat Tuhan. Di tiga dimensi waktu itu Tuhan berkenan hadir menyertai umat-Nya. Tuhan rela hadir dalam sejarah umat-Nya, hadir di masa kini dan memberi pengharapan di masa yang akan datang. Dan memang benar, Tuhan mengatasi segala waktu sehingga Dia dapat hadir kapanpun dalam perjalanan hidup manusia. Inilah yang pertama-tama yang harus diimani oleh kita sekalian, sehingga kita menyadari bahwa Tuhan Allah ada disetiap dimensi waktu dalam kehidupan kita. Itu berarti, dimensi waktu manapun menjadi waktu yang berharga bagi kita umat yang percaya dalam rangka mengintrospeksi keimanan kita kepada Tuhan. Kehidupan kita di masa silam menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan kita di masa kini dan nanti. Masa yang telah berlalu itu penting bagi kita untuk merenungkan seluruh pengalaman hidup kita, bagaimana Tuhan Allah hadir di dalamnya sehingga memungkinkan kita ada kini di sini meniti hari-hari hidup untuk masa depan kita nanti. Pengalaman berdasarkan sejarah itu penting, sehingga apa yang tidak berkenan kepada Allah yang pernah terjadi tidak lagi terulang kini dan nanti. Pengalamana hidup di dalam sejarah itu penting, sehingga karya Tuhan terus terngiang dan menjadi dasar kita melangkah ke masa yang akan datang. Intinya adalah bahwa kehadiran Allah di masa silam itu menjadi pegangan hidup kita bahwa kesetiaan Allah tidak akan pernah berubah sampai kapanpun, sehingga iman kita tetap teguh hanya kepada Dia. Kegagalan seseorang dalam kesetiaannya beriman, sangat dipengaruhi kesadarannya merenungkan karya Tuhan disepanjang kehidupannya termasuk kehidupannya dimasa silam. Orang yang tidak menyadari bagaimana Tuhan terlibat dalam seluruh perjalanan hidupnya tidak akan pernah hidup teguh dalam keimanannya. Akibatnya, orang seperti ini akan selalu dihantui oleh kekuatiran yang besar yang kemudian dapat berakibat pada kehilangan pengharapan atau putus asa. Kekuatiran hidup, sebenarnya bukanlah melulu disebabkan ketakutan akan apa yang terjadi di masa depan, tetapi juga dipengaruhi oleh ketidaksadaran merenungkan hidup dimasa lampau. Jika seorang beriman sadar dan mampu merenungkan karya kasih Tuhan Allah dalam hidupnya di masa silam niscaya tidak akan dihantui kekuatiran akan hidup di masa depan. Kenapa? Karena Tuhan itu hadir kapanpun dalam hidup umat-Nya. Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.
  Saudara-saudara, Sidang Jemaat Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Dalam kitab Mazmur yang menjadi bagian bacaan Alkitab saat ini dapat disimpulkan bahwa umat Israel diajak untuk belajar dari sejarah bangsa mereka. Tuhan Allah rela dijangkau oleh sejarah, Dia hadir dengan karya-Nya yang ajaib, Dia hadir dengan hati-Nya yang penuh belaskasihan, Dia hadir dengan pengampunan, Dia hadir memberi kelepasan dan kemenangan. Artinya bahwa Umat Israel harusnya menyadari bahwa di masa pelik sekalipun, Tuhan Allah telah membuktikan kesetiaan-Nya, walaupun umat itu sendiri sering memberontak kepada-Nya. Untuk itu, harusnya tidak alasan bagi umat Tuhan untuk hidup dalam kekuatiran dimasa kini dan nanti. Sekalipun umat Israel berulangkali mencobai dan memberontak kepada Allah, sekalipun Allah sendiri telah berulangkali melakukan mujizat di hadapan mereka, mereka selalu saja kehilangan kepercayaan kepada Allah, akan tetapi Tuhan Allah tetap konsisten pada janji-Nya. Dia sendiri menuntun umat itu dengan tenteram dan menghalau segala musuh mereka serta memberikan kepada mereka tanah yang dijanjikan itu. Ini menjadi bukti yang harus diimani oleh semua umat Tuhan, bahwa kasih setia itu nyata sampai kapanpun. Maka jika Tuhan Yesus menegaskan umat-Nya seperti yang terdapat dalam bagian bacaan Alkitab saat ini untuk tidak kuatir dalam hidup ini, itu berarti di mata Tuhan setiap orang yang percaya kepada-Nya sangatlah berharga dan dikasihi-Nya. Kekuatiran di mata Tuhan Yesus adalah bentuk ketegaran hati manusia yang tidak mengakui dan menyadari dengan sungguh-sungguh kasih setia Tuhannya. Itu berarti kekuatiran merupakan bentuk pengingkaran akan kemahakuasaan dan kasih setia Tuhan. Maka jelas, mengapa Tuhan Yesus dengan tegas melarang umat-Nya untuk kuatir, yaitu agar umat-Nya teguh beriman kepada-Nya. Kekuatiran umat Tuhan akan hidupnya akan menjadi pintu masuk bagi iblis, sehingga seseorang itu pada akhirnya akan kehilangan imannya dan pada akhirnya ia jatuh ke tangan iblis yang akan membinasakannya.
Saudara-saudara, Sidang Jemaat Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Berbicara tentang kekuatiran, itu berarti kita berbicara tentang hilangnya keteguhan iman. “Iman” dalam Perjanjian lama berasal dari kata kerja “aman” yang berarti “memegang teguh”. Kata ini bisa muncul dalam bentuk yang bermacam-macam. Jika diterapkan kepada Tuhan Allah, maka kata iman berarti “bahwa Allah harus dianggap sebagai “Yang Teguh dan Yang Kuat”. Orang harus percaya kepada-Nya dan mengimani bahwa Allah teguh dan Kuat. Oleh karena itu, beriman kepada Allah berarti mengimani bukan hanya dengan akalnya, melainkan juga dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya kepada segala janji Allah yang telah diberikan dengan perantaraan Firman dan Karya-Nya. Demikian juga jika pengertian iman diterapkan pada Perjanjian Baru, maka iman berarti mengamini dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya kepada janji Allah, bahwa di dalam Kristus ia telah memperoleh kemenangan dan keselamatan atas kuasa dosa. Maka umat yang percaya kepada Tuhan Allah, adalah umat yang tidak lagi diliputi kekuatiran hidup. Tidak pula beriman situasional. Artinya bentuk keimanan ditentukan oleh situasi hidup yang kita jalani. Di saat susah ingat Tuhan, setelah senang lupa Tuhan. “iman situasional” bukanlah bentuk keimanan yang benar dimata Tuhan. Akan tetapi kapanpun di manapun dalam situasi apapun, iman kita harus tetap teguh hanya kepada Tuhan. Maka bagaimanapun situasi hidup yang kita jalan baik di masa silam, kini dan nanti, kita tidak akan pernah dikuasai kekuatiran hidup, kita tidak akan kehilangan iman kepada Tuhan. Ada kalimat bijak berkata bagini: “Kekuatiran hidup akan masa silam ditambah kekuatiran hidup akan masa yang akan datang akan membuat hidup dimasa kini kehilangan arah dan harapan”. Kalimat ini hendak menegaskan bahwa hidup dalam kekuatiran tidak akan pernah menghantar seseorang untuk hidup pada kesuksesan dan kebahagiaan serta tidak akan tiba di tujuan. Untuk itu berefleksi dari Bacaan saat ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh setiap kita dalam rangka mewujudkan keteguhan iman yang sempurna, yakni:
1. Renungkanlah selalu Kasih dan kesetiaan Tuhan dalam kehidupan kita di masa lampau.
   Ingatlah...! kasih dan kesetiaan-Nya itu tidak berkesudahan, dulu, kini dan nanti. Pengalaman hidup dimasa silam bersama Tuhan niscaya membawa kita pada keteguhan iman yang  sempurna.
2. Jadikan Allah dan segala pekerjaan-Nya menjadi yang terutama dan pertama dalam seluruh perjuangan hidup. Maka, janji Tuhan jelas, yakni segala sesuatu akan ditambahkan-Nya kepadamu. Artinya bahwa ketika Tuhan Allah menjadi yang terutama dan yang pertama dalam hidup ini, maka segala hal yang kita perlukan telah tersedia di dalam Dia. Dengan demikian jika Tuhan Allah di dalam hidup kita, segala sesuatu yang kita perlukan dalam hidup ini ada dalam Dia. Dialah sumber segala-galanya. Rendahkanlah diri di hadapan-Nya
3. Serahkanlah kekuatiranmu kepada Tuhan. Melalui sikap seperti ini, maka jelas bahwa kita   mengakui dan mengamini kemahakuasaan-Nya dan kesetiaan-Nya yang memelihara kita.
Percayalah saudara-saudaraku, dengan memiliki iman yang teguh kepada Tuhan, maka tidak ada yang mustahil untuk kita raih dalam hidup ini. Tidak mustahil hasil ladang dan sawah kita berlimpah, tidak mustahil keutungan kita bertambah-tambah dalam usaha kita, tidak mustahil karier atau jabatan kita menanjak, tidak mustahil penyakit kita lenyap, tidak mustahil pula kita dapat jodoh dan pekerjaan, tak mustahil rumah tangga kita pulih, tidak mustahil anak-anak kita menjadi baik dan sukses, tak mustahil persekutuan kita menjadi persekutuan yang kuat dan kokoh, semuanya yang tidak mungkin menjadi mungkin jika Tuhan Allah berkenan. Amin


BPS




















Bacaan Alkitab: Mazmur 78: 56-72; Yohanes 11: 17- 27; 2 Timotius 1: 7- 10
KETEGUHAN DAN KETEKUNAN IMAN
Saudara-saudara, Sidang Jemaat Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Jika minggu yang lalu kita juga merenungkan ayat sebelumnya dari bagian Mazmur 78 ini, maka kini, ayat selanjutnya yakni ayat 56-72 atau ayat-ayat terakhir juga menjadi perenungan kita beserta dengan bacaan dari Perjanjian Baru yakni Injil Yohanes dan 2 Timotius. Temanya juga berbicara tentang keteguhan  dan ketekunan iman. Dua kata ini yakni “Teguh” dan “Tekun” memiliki kesamaan, yakni sama-sama menunjuk pada sikap seseorang dalam kesungguhan hatinya. “keteguhan” yang berasal dari “teguh” berarti “kuat berpegang, atau “tetap tidak berubah”. Sedangkan Ketekunan yang berasal dari kata” Tekun” berarti “”rajin, berkeras hati, bersungguh-sungguh”. Maka keteguhan dan ketekunan iman dapat diartikan sebagai sikap seseorang yang kuat berpegang atau tidak berubah dan rajin, bersungguh-sungguh dalam imannya kepada Tuhan. Keteguhan dan ketekunan iman tidak lahir begitu saja dalam kehidupan setiap orang. Akan tetapi keteguhan dan ketekunan iman lahir dari sikap yang mampu merenungkan dan mengambil makna dari setiap pengalaman hidup (baik susah maupun senang) yang dialaminya dalam seluruh kehidupannya dalam persfektif keimanannya kepada Tuhannya. Dengan sikap seperti ini maka jelas dapat disimpulkan bahwa pemaknaan dalam iman atas pengalaman hidup bersama Tuhan akan melahirkan keteguhan dan ketekunan iman. Persoalannya sekarang adalah apakah benar seluruh kehidupan kita, terlebih berbagai bentuk pemberontakan kita kepada Allah terutama di masa silam akan melahirkan keteguhan dan ketekunan kita dalam beriman? Saudara-saudara, inilah yang terjadi dalam pengalaman hidup umat Israel. Mazmur 78 pada dasarnya hendak mengajak semua orang agar jujur terhadap sejarahnya, mengaku dengan jujur bahwa dalam sejarah tersebut terdapat perbuatan yang menyakiti hati Tuhan. Tetapi di sisi yang lain juga kita harus sungguh-sungguh jujur dan mengaku bahwa ternyata Tuhan Allah sangat mengasihani kita. kesaksian tentang kesetiaan Tuhan dan pemberontakan umat kepada Tuhannya. Melalui kesaksian Pemazmur dalam bacaan kita yang pertama tadi, jelas bahwa Tuhan Allah akhirnya memberi pembebasan kepada umat-Nya Israel dengan cara-Nya sendiri. Cara yang tidak terpikirkan oleh umat. Ia mengambil seorang Daud, seorang yang tidak diperhitungkan dalam keluarganya. Bahkan Alkitab katakan (ay. 70-71)  “dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, milik-Nya sendiri”. Tuhan Allah tidak mengambil seseorang dari medan perang, Tuhan Allah malah tidak memilih seorang pejuang atau kesatria yang gagah perkasa, tetapi malah seorang Daud yang parasnya elok, kemerah-merahan, yang latarbelakangnya gembala kambing dombalah yang dipilih-Nya. Inilah cara Tuhan yang tak terpikirkan manusia. Daudlah kemudian yang dipakai Tuhan Allah untuk menggembalakan umat-Nya itu dengan ketulusan hati dan kecakapan tangannya. Kesaksian pemazmur ini, menjadi bukti bagaimana Tuhan Allah sangat mengasihi dan menyayangi umat-Nya dengan cara dan waktu Tuhan sendiri. Kesaksian ini harusnya meneguhkan dan membuat kita tekun dalam iman, bahwasannya kasih setia Tuhan sangatlah terbukti.

Saudara-saudara, Sidang Jemaat Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Dalam bacaan kita yang kedua, Yohanes menyampaikan sebuah peristiwa yang sulit dicernah oleh akal manusia. Maka kisah ini sering digolongkan sebagai peristiwa mujizat yang Tuhan Yesus lakukan, yakni membangkitkan orang mati. Dalam kisah ini, Tuhan Yesus terlibat lagi berdialog dengan Maria dan Marta. Dari apa yang diucapkannya, tersirat jelas bahwa ia memiliki kepercayaan yang besar kepada Tuhan Yesus, : "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." (ay. 21-22). Walaupun Marta percaya kepada Tuhan Yesus, tapi jika disimak dari percakapan ini jelas bahwa Marta percaya apa yang dikatakan Tuhan Yesus itu akan terjadi di kehidupan berikutnya (ay. 24), bukan saat itu, saat mereka merindukan saudara mereka hidup dari kematian. Apa yang terjadi? Tuhan Yesus dengan cara dan waktu-Nya sendiri membuktikan kuasa dan kasih-Nya. Lazarus saudara Maria dan Marta dibangkitkan. Memang jika dibaca sampai pada ayat-ayat selanjutnya jelas bahwa keteguhan dan ketekunan iman Marta sedikit berbeda dengan Maria. Maria lebih proaktif, ia malah menangis, tersungkur di kaki Yesus, sedang Marta kelihatannya tidak demikian. Ini membuktikan bahwa keteguhan dan ketekunan iman merupakan sikap yang sangat penting dalam rangka memperoleh kasih karunia Tuhan. Dari kisah yang disaksikan Yohanes ini jelas bagi kita, bahwa Tuhan Yesus, Tuhan yang kita sembah dan percayai itu adalah Tuhan yang berkuasa mengatasi kematian sekalipun. Dia penghibur yang sejati, yang mengganti duka menjadi suka, yang merobah derai air mata menjadi kegirangan yang luar biasa. Kesaksian Yohanes ini juga menjadi bukti bagi kita sekalian bahwa cara dan waktu Tuhan untuk menolong kita sungguh adalah cara dan waktu yang tak terselami oleh kita. Dalam hal ini dari kita dituntut keteguhan dan ketekunan iman. Sebab apa yang Tuhan lakukan dan hendak lakukan kepada kita, adalah semata-mata hanya karena kasih karunia-Nya, bukan karena perbuatan kita.

Saudara-saudara, Sidang Jemaat Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Berefleksi dari dua bagian bacaan Alkitab di atas, maka sungguh jelas bagi kita bahwa kasih karunia Tuhan itu sungguhlah luar biasa. Ia tidak mungkin bagi manusia, telah dibuat-Nya mungkin terjadi. Israel diampuni dari pemberontakan mereka, dibebaskan-Nya dari musuh-musuh mereka dan kemudian dipelihara-Nya. Demikian pula Maria dan Marta dihiburkan-Nya dari duka nestapa mereka. Kesaksian ini haruslah menjadi bukti bagi kita untuk terus berupaya menjadi umat yang memiliki keteguhan dan ketekunan iman kepada Tuhan Yesus. Dalam suratnya kepada Timotius Rasul Paulus juga menyaksikan hal ini, supaya kita jangan malu bersaksi tentang Tuhan kita, Dialah yang menyelamatkan kita, memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan dengan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri ( 2 Tim1: 9). Ini menunjukkan bahwa syarat untuk memperoleh kasih karunia Tuhan itu dari kita dituntut keteguhan dan ketekunan iman. Tidak ada upaya lain yang dapat kita lakukan untuk memperoleh kasih karunia Tuhan selain kita teguh dan tekun beriman kepada-Nya.
Saudara-saudara, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam sejarah perjalanan kehidupan ini, kita sudah dan mungkin akan mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan, mungkin saja kita memberontak kepada Allah, kita berduka amat dalam karena peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, bahkan kita menderita, terancam, dan diperhadapkan pada persoalan pelik dan genting, tetapi ingatlah selalu bahwa Tuhan Allah sungguh setia, Dia mengampuni kita jikalau kita berbalik kepada-Nya, Dia menghibur kita, menolong kita dan merobah derita menjadi suka jika kita memiliki keteguhan dan ketekunan iman kepada-Nya. Teruslah teguh dan tekun beriman kepada-Nya, sebab Tuhan Allah kita itu sungguh luar biasa kuasa-Nya, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Dia berkarya dengan cara dan waktu-Nya sendiri yang bahkan tak terselami oleh kita. Percayalah saudara-saudaraku, pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya, Dia tidak pernah lalai dan terlambat menepati janji-Nya kepada kita yang teguh dan tekun beriman kepada-Nya. Segala sesuatu pasti indah pada waktunya, pada waktu Tuhan Allah menganugerahkan Kasih dan karunia-Nya. Amin.

Khotbah Rumah Tangga Kristen



Bacaan Alkitab Matius 19: 1-12
Menjadi Satu Untuk Dibaharui
Keluarga, saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Persoalan perkawinan dan perceraian merupakan persoalan yang terus hangat di sepanjang waktu, jika kita mau jujur mengakuinya. Setiap zaman dalam perjalanan hidup manusia, persoalan yang satu ini selalu saja hadir dengan berbagai bentuk kasus. Lahirnya penafsiran yang berbeda-beda antara seorang dengan yang lain juga sering memperkeruh persoalan perkawinan dan perceraian. Demikian juga konteks dan budaya, turut pula meramaikan persoalan. Artinya bahwa, baik perkawinan maupun perceraian telah mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak, sehingga melahirkan berbagai bentuk pemberian nilai yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Dalam hidup kekristenanpun persoalan ini sepertinya terus menjadi persoalan yang hangat, sebab di dalamnya orang-orang kristenpun juga turut terlibat, baik menjadi pelaku maupun pemberi nilai yang seringkali dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Padahal dalam ajaran kristen telah jelas terurai apa dan bagaimana sebenarnya perkawinan dan perceraian itu. Ternyata mengenai persoalan yang satu ini, juga merupakan persoalan yang dibuat tidak tuntas oleh orang-orang Farisi di zaman Yesus. Sehingga persoalan tentang hal ini menjadi bahan yang dipakai oleh orang-orang Farisi untuk menjerat Yesus. Masalah perkawinan sendiri bukanlah masalah sepele bagi umat Tuhan. Tuhan Allah memberi perhatian serius tentang hal ini sejak mula penciptaan. Yesus mengutip kitab Kej 1:27; Kej 2: 24 yang menegaskan bahwa perkawinan itu melibatkan seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang keduanya menjadi satu. Kemudian mengenai perceraian, menurut Yesus konsep ini sebenarnya tidak ada di mata Allah, karena ketegaran hati manusialah, maka Musa mengizinkannya terjadi dengan berbagai alasan. Jadi dapat disimpulkan bahwa perceraian tidak ada dalam konsep iman Kristen. Sehingga benarlah jika Yesus menyatakan bahwa “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah”.
Keluarga, Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Dari pernyataan tegas Yesus ini, jelas bagi kita sekalian bahwa pernikahan sangat berharga di mata Tuhan karena Dia memakai pernikahan sebagai sebuah sarana untuk mengaplikasikan karya kasih Allah dalam hidup manusia. Sehingga benar, jika tujuan pernikahan itu sendiri bukanlah hanya untuk melanjutkan keturunan, tetapi lebih dari itu, yakni untuk mewujudkan Kasih Allah dalam kehidupan suami isteri. Sehingga seperti yang terdapat dalam konsep pernikahan di dalam tata ibadah kita di GPID, bahwa kalau sebuah pernikahan tidak dikarunia anak, maka hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk melegalkan perceraian. Kemudian, di dalam tata ibadah tersebut juga dijelaskan tentang konsep kesetiaan antara suami dan isteri yakni dalam situasi dan kondisi hidup yang bagaimanapun. Maka dengan demikian, bagi kitapun di Gereja ini tidak ada ajaran yang melegalkan perceraian. “Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak dapat diceraikan manusia”, kalimat ini hendak menegaskan kepada kita bahwa pernikahan adalah karya kasih Tuhan dan kehendak Tuhanlah yang berlaku di dalamnya. Intinya ialah bahwa pernikahan adalah respon dari umat Tuhan atas cinta kasih Tuhan untuk diwujudkan dalam kehidupan bersama dalam rumah tangga. Pernikahan tidak melulu hanya akan sebatas hubungan antara suami dan isteri, melainkan di dalamnya akan berlaku hubungan cinta kasih yang lebih besar, baik dengan anak-anak maupun dengan keluarga lainnya. Maka dalam pernikahan, semua menjadi satu, dan didasarkan atas satu kasih yakni kasih Kristus. Karena dalam pernikahan semua menjadi satu, maka dengan demikian tidak ada lagi tempat bagi pementingan diri sendiri dalam pernikahan. Juga semua menjadi satu untuk dibaharui di dalam Kristus.
Keluarga, Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, ketika kita membicarakan persoalan tentang pernikahan. Selalu saja ada begitu banyak hal yang dapat mengancam, merongrong, bahkan menghancurkan pernikahan. Kenapa demikian? Sebab tidaklah mudah untuk menyatukan karakter dan pribadi yang berbeda, tidaklah muda untuk menyatukan gaya hidup dan keimanan dalam kehidupan ini. Satu ciri manusia yang selalu menjadi penyebab hancurnya keutuhan dalam pernikahan ialah egoisme yang berlebihan dan ini selalu melekat dalam diri setiap orang. Maka benarlah jika dikatakan bahwa peperangan terhadap perceraian adalah peperangan melawan egoisme diri sendiri. Seseorang yang telah berhasil menaklukkan egonya, maka ia pasti dapat menaklukkan ancaman perceraian dalam pernikahannya, sehingga rumah tangga yang terbentuk akan pula terhindar dari kehancuran. Setiap orang yang berhasil menaklukkan egonya dalam hidup pernikahan, berarti orang tersebut telah berhasil memberi dirinya dikendalikan dan dipimpin oleh Tuhan, sehingga di sana Kasih Tuhan akan benar-benar nyata dan bersinar. Suami, isteri, anak-anak telah menjadi satu dalam kehidupan sebagai rumah tangga yang dipersatukan Tuhan. Karena itu semua menjadi satu untuk dibaharui oleh Tuhan dalam rangka saling mengasihi dan bersama-sama mengasihi. Di dalam semangat hidup seperti inilah semua yang telah menjadi satu di dalam Tuhan dibaharui oleh Tuhan sehingga semakin hari  kehidupannya semakin sempurna adanya. Kesempurnaan dalam mewujudakn Kasih inilah yang sebenarnya dirindukan oleh Tuhan Allah melalui pernikahan dalam kehidupan umat-Nya. Sekali lagi, hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan, sebab kita telah mendengar, menyaksikan bahwa tidak sedikit pernikahan yang hancur. Bukannya cinta kasih yang mewarnai, tetapi malah benci dan pertikaian yang terjadi. Sangat jarang yang mengakui kesalahan, tetapi malah saling menyudutkan dan saling melempar tanggung jawab, saling mengkambinghitamkan orang lain. Semua ini menantang kita sekalian sebagai keluarga yang telah dipersatukan oleh Tuhan, untuk tidak dapat dihancurkan oleh apapun dan oleh siapapun dengan catatan kita mesti memaknai bahwa pernikahan adalah suci di hadapan Tuhan.
Keluarga, Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Walaupun tantangan terhadap pernikahan semakin zaman semakin kompleks, akan tetapi ketika pemaknaan kita terhadap pernikahan tetap teguh seperti yang Tuhan Yesus kehendaki, maka semua tantangan, ancaman tersebut tidak akan pernah mampu menghancurkan keutuhan hidup kita. Karena itu, semua kita dalam rumah tangga kita, mesti menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa Tuhan Allah menghendaki kita semua agar menjadi satu di dalam kasih-Nya, untuk sama-sama saling mengasihi dan bersama-sama mengasihi. Ingatlah bahwa tidak ada kasih jika kita tidak memberi, memberi diri seorang dengan yang lain, memberi diri kepada Tuhan. Percayalah keluargaku, saudara-saudaraku .., bahwa tidak ada kuasa apapun juga yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Karena itu mari, beri diri..,kita semua menjadi satu untuk dibaharui. Amin.



Bacaan Alkitab: Matius 19: 13- 15
SAMBUT YESUS DALAM KEMULIAANNYA
Keluarga, Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Anak-anak kecil sering dianggap sepele oleh orang-orang dewasa terutama apabila sedang berlangsung kegiatan yang melibatkan orang-orang dewasa di dalamnya. Misalnya, kita terjadi percakapan antar orang tua, atau pembicaraan resmi di sebuah keluarga, anak-anak kecil malah disuruh untuk keluar bermain, bahkan diusir. Memang, anak-anak kecil dapat mengganggu pembicaraan yang sedang berlangsung, itulah sebabnya mereka biasanya dilarang untuk ada di dalamnya. Anak-anak kecil juga sering memancing perhatian apakah dengan tangisannya, merengek-rengek, mengganggu temannya, bahkan lebih fatal lagi jika anak kecil berontak karena yang ia mau tidak kita berikan. Karena itu, berbagai upaya dilakukan oleh kita orangtua agar di tempat ibadah misalnya anak kita tidak sampai membuat gangguan, apakah dengan cara menitipkan mereka kepada orang lain, atau ketika anak-anak kita menangis pas sementara ibadah kita membawa mereka keluar, sampai-sampai kita orang tua tidak dapat mengikuti ibadah sepenuhnya. Bahkan ada gereja yang sengaja melaksanakan ibadah sekolah minggu untuk anak-anak yang waktunya disamakan dengan ibadah minggu orang dewasa dengan tempat yang berbeda dengan maksud agar  anak-anak tidak mengganggu peribadatan yang sedang berlangsung. Mungkin akan muncul pendapat yang berbeda di antara kita tentang hal ini, namun yang pasti adalah ini menunjukkan kepada kita bahwa sikap para murid-murid Yesus yang memarahi orang-orang yang membawa anak-anak kecil kepada Yesus dapat kita mengerti. Persoalannya ialah, penulis Matius tidak menyebutkan dengan jelas apa sebenarnya alasan murid-murid Yesus memarahi orang-orang yang membawa anak-anak kecil kepada Yesus. Apakah karena murid-murid Yesus menganggap rendah anak-anak kecil?ataukah mereka menganggap bahwa anak-anak kecil tidak penting bagi Yesus? Ataukah mereka berpikir bahwa kehadiran anak-anak kecil tersebut akan menggangu pelayanan Yesus?. Jawaban tentang hal ini tidak dijelaskan kepada kita.  Yang jelas bahwa melalui kisah ini, kepada kita diberitahukan bahwa ketika orang-orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, Yesus tidak menolak mereka, tidak memarahi orang-orang yang membawa anak-anak kecil itu, Yesus malah memberkati anak-anak kecil itu dan mengeluarkan perkataan yang luar biasa tentang Kerajaan Sorga di mana anak-anak kecil sebagai analoginya.
Keluarga, Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Perkataan Yesus ini memberikan jawaban kepada kita sekalian bahwa ternyata ada sikap yang sangat berharga yang dapat diteladani dari anak-anak kecil, yakni kepoloson hati mereka. Kendatipun anak-anak sering menurut kita, mengganggu, berulah yang tidak baik, rewel, dll, akan tetapi perlu kita sadari bahwa perilaku yang demikian itu bukanlah perilaku yang disadarinya baik atau tidak untuk dilakukannya. Mereka belum mengerti, mereka melakukannya karena ketidaktahuan mereka. Maka Yesus melihat bahwa  orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan Sorga. Maksud Yesus bukanlah karena mereka masih kecil-kecil, akan tetapi lebih pada sikap dan perilaku hidup mereka. Ada beberapa perilaku anak kecil yang perlu kita renungkan dalam rangka memahami maksud Yesus ini, antara lain; bahwa anak kecil selalu menggantungkan hidupnya kepada orangtuanya, maka kitapun mestinya demikian, harus selalu menggantungkan hidup kita kepada  Tuhan Allah sebagai Tuhan atas kehidupan ini. Sehingga kita tidak akan pernah mengandalkan kekuatan kita sendiri dan tidak akan pernah menjalani kehidupan ini dengan keinginan sendiri, melainkan senantiasa menyerahkan hidup kepada Tuhan yang hidup. Yang berikut, bahwa anak-anak kecil melakukan sesuatu yang walaupun itu menurut kita tidak baik, tetapi mereka melakukannya karena ketidaktahuan mereka. Mereka belum mengetahui atau belum menyadari tindakan mereka. Maka kitapun mestinya mampu untuk tidak melakukan yang Tuhan tidak kehendaki dalam hidup ini, sebab kita sudah mengerti, sudah mengetahui bahwa hal itu tidak berkenan bagi Tuhan.  
Keluarga, Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Menyambut anak-anak kecil, itulah yang dilakukan Yesus sesuai dengan kesaksian Alkitab saat ini. Yang sekaligus mengajar kita sekalian untuk menghargai anak-anak yang Tuhan karuniakan kepada kita dalam keluarga kita masing-masing. Bahwa ternyata anak-anak itu sangat berharga di mata Tuhan, menjadi peringatan bagi kita sekalian untuk tidak sekali-kali menganggap sepele mereka terutama dalam rangka memahami konsep Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga adalah kerajaan Damai Sejahtera Allah, di mana kehendak Allah berlaku di dalamnya. Maka siapa yang menyambut anak-anak kecil seperti kehendak Yesus, maka ia menyambut Kerajaan Sorga, dalam artian bahwa siapa yang sikap hidupnya mencontohkan anak-anak kecil maka ialah yang empunya Kerajaan Sorga. Baginya Damai Sejahtera Allah terjadi. Karena itu, jika selama ini kita mungkin pernah menganggap sepele anak-anak kecil di tengah persekutuan kita, baik dalam keluarga, persekutuan jemaat, maka saatnya kita sekalian mengubah persepsi yang demikian. Mari kita sekalian menyambut anak-anak kecil dengan penuh kasih dan ketulusan, dengan demikian kita sebenarnya menyambut Tuhan Yesus yang adalah pemilik Kerajaan Sorga itu. Kita harus berkomitmen dalam hidup ini, untuk tidak sekali-kali menghalang-halangi anak-anak kita datang kepada Tuhan Yesus, sebaliknya kita haruslah menjadi orang-orang yang membawa anak-anak kita kepada Tuhan Yesus, sebab Yesus menyediakan berkat bagi kita dan bagi anak-anak kita.
Keluarga, Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
            Tidak lama lagi kita akan memasuki minggu-minggu Adven tahun ini, maka melalui Firman Tuhan saat ini, kita sekalian keluarga-keluarga Kristus diingatkan kembali untuk mempersiapkan diri kita menyambut kedatanganNya kali kedua. Maka karena itu, penting dan wajib bagi kita untuk berbenah diri, mengintrospeksi diri, dan hidup kita untuk layak menjadi orang-orang yang turut serta menikmati Kerajaan Sorga, Kerajaan Damai sejahtera Allah. Caranya ialah mari kita sambut Yesus dalam kemuliaan-Nya dengan sikap dan perilaku kita yang suci sesuai dengan kehendak-Nya. Marilah kita senantiasa menggantungkan hidup ini hanya ke dalam Tangan Kasih Tuhan, marilah kita menyudahi segala sikap dan perilaku yang tidak berkenan kepada Allah. Percayalah bapak, ibu, saudara-saudara sekalian bahwa dengan menyambut Yesus dalam kemuliaan-Nya, kitapun akan turut bersama-sama dengan Dia di dalam Kerajaan-Nya, menikmati damai sejahtera kekal selamanya. Tuhan Yesus Dimuliakan. Amin.

Rabu, 06 Mei 2015

bendrio sibarani: KHOTBAH PENGHIBURAN JILID III

bendrio sibarani: KHOTBAH PENGHIBURAN JILID III: KHOTBAH PENGHIBURAN Jilid 3   Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Teol Bacaan Alkitab: Nah um 1...

KHOTBAH PENGHIBURAN JILID III





KHOTBAH PENGHIBURAN

Jilid 3













 Pdt. Bendrio P. Sibarani, M. Teol



Bacaan Alkitab: Nahum 1: 7- 8
Berlindung Kepada Allah

Sidang Penghiburan, Keluarga Yang Berduka Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
  Nahum merupakan salah seorang dari nabi-nabi kecil yang berasal dari Elkosy; ia memaklumkan kehancuran Niniwe antara tahun 664dan 612 sM. Kata “Nahum” sendiri berarti “Yahwe Menghibur”. Yang hendak menegaskan bagaimana sebenarnya hati Allah yang menghendaki pertobatan orang-orang berdosa dan berbalik kepada-Nya. Pada pembukaan Kitab Nahum pasal 1: 1 dijelaskan bahwa kitab ini merupakan kitab penglihatan yang menyampaikan ucapan illahi tentang Niniwe yang bakal dilenyapkan karena perbuatan mereka yang sangat menjijikkan di mata Allah. Dalam hal ini saudara-saudara, Nahum menjelaskan bahwa Tuhan Allah itu pencemburu dan pembalas serta pendendam terhadap musuh-Nya, tetapi Allah itu juga Allah yang panjang sabar dan besar kuasa-Nya. Walaupun Allah itu panjang sabar dan besar kuasa, akan tetapi bahwa umat manusia dapat menjadikan kesabaran-Nya sebagai alibi untuk terus melegalkan perbuatan dosa. Demikian juga dengan Kuasa-Nya yang Maha Besar, membuat siapapun tidak akan mampu bertahan menghadapi geram-Nya seperti yang digambarkan dalam ayat 6. Semua kesaksian ini menjelaskan kepada kita bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan Allah mesti menyadari hidupnya di hadapan Allah, sehingga senantiasa mendengar dan melakukan kehendak Allah. Kejahatan tidak ada tempat dalam konsep penghiburan yang diberikan Allah. Jika kata “Nahum” berarti Allah Yang Menghibur, maka ini menegaskan kepada kita bahwa tidak ada alasan bagi seorangpun untuk menyangka bahwa karena Allah adalah penghibur, maka semaunya dan seenaknya saja berperilaku dalam hidup ini.

Sidang Penghiburan, Keluarga Yang Berduka Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
  Walaupun begitu beratnya hukuman yang akan diterima mereka yang berdosa, akan tetapi Nabi Nahum juga menyampaikan bahwa TUHAN itu baik, Ia menjadi tempat pengungsian pada waktu kesusahan, dengan catatan mesti berlindung kepada-Nya. Benar saudaraku, benar bahwa Allah itu Baik, Ia tidak membalas kepada kita setimpal dengan perbuatan kita, Kasih-Nya amat sangat besar, sehingga bagi setiap orang yang bertobat dari dosa-dosanya, Tuhan menyediakan anugerah yang luar biasa. Demikian pula dikala kesusahan melanda hidup kita, Dia menjadi satu-satunya tempat untuk berlindung bagi kita. Di kala banjir air mata sekalipun, Dia sendiri akan menyelamatkan orang-orang yang berlindung kepada-Nya, sebab Ia mengenal orang-orang yang benar-benar menjadikan-Nya sebagai satu-satunya tempat berlindung dalam menghadapi segala bentuk kesusahan di hidup ini. Semua musuhpun akan dilenyapkan-Nya dan dihalau-Nya ke dalam kegelapan.......
DAPATKAN KHOTBAH PENGHIBURAN JILID III INI, DENGAN MENGHUBUNGI sibaranipdt.bendrio@yahoo.co.id........Tuhan memberkati. terimakasih jika anda sudi berdonasi bagi kemuliaan Tuhan. di rek. 345001000817508 BRI a.n. Bendrio Pandapotan Sibarani

Rabu, 12 November 2014

Kamis, 19 Juni 2014

bendrio sibarani: bendrio sibarani: Renungan Kristen

bendrio sibarani: bendrio sibarani: Renungan Kristen: bendrio sibarani: Renungan Kristen :                                      DAPATKAN KHOTBAH-KHOTBAH INI DENGAN CARA MENGHUBUNGI KAMI DI ALAMA...

bendrio sibarani: KHOTBAH ULANG TAHUN

bendrio sibarani: KHOTBAH ULANG TAHUN:                                                   Bacaan Alkitab:Ulangan 5: 32b-33                                                      Kea...

Selasa, 17 Juni 2014

bendrio sibarani: bendrio sibarani: Renungan Kristen

bendrio sibarani: bendrio sibarani: Renungan Kristen: bendrio sibarani: Renungan Kristen :                                      DAPATKAN KHOTBAH-KHOTBAH INI DENGAN CARA MENGHUBUNGI KAMI DI ALAMA...

KHOTBAH ULANG TAHUN

                                                  Bacaan Alkitab:Ulangan 5: 32b-33
                                                     Keadaan baik, lanjut umur
Saudara-saudara Yang Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
    keadaan hidup yang baik dan Umur panjang pastilah menjadi dambaan setiap orang yang hidup di dunia ini. Manusia akan melakukan berbagai hal untuk dapat menikmati kehidupan seperti ini. Mulai menjaga pola hidup, yakni pola hidup yang sehat, kemudian bekerja sekuat tenaga melalui berbagai macam usaha dan upaya, manusia terus berjuang agar umurnya panjang dan keadaan hidupnya baik. Jadi tidaklah terlalu naif, kalau kita katakan bahwa orang yang tidak menghendaki umurnya panjang di dunia ini, adalah orang yang telah kehilangan pengharapan alias orang yang putus asa. Berikutnya, kita harus akui bahwa salah satu bukti bahwa seseorang itu menghendaki umur yang panjang adalah ketika seseorang juga berupaya mengingat dan mencatat waktu atau hari kelahirannya. Sehingga ketika saat itu tiba setiap tahunnya, maka seseorang itu sadar bahwa usianya semakin bertambah dan nyatalah baginya bahwa ia ternyata masih hidup dan selalu merindukan kehidupan itu selalu menjadi bagiannya. Sehingga atas moment tersebut, seseorang biasanya bersukacita, gembira ria dan wujud sukacita tersebut maka diadakanlah perayaan syukur yang kita kenal dengan perayaan ulang tahun. Sebenarnya perayaan seperti ini bukanlah perayaan yang dilakukan oleh orang-orang Israel maupun umat Yahudi. Perayaan Ulang tahun biasanya dilakukan oleh kaum bangsawan Romawi, termasuk pejabat-pejabat negara seperti halnya Herodes, Pilatus dan yang lainnya. Dan biasanya perayaan ulang tahun tersebut dilaksanakan dalam bentuk pesta pora di kalangan pejabat tinggi dan kaum bangsawan. Kemudian dalam beberapa komunitas mayarakat kita termasuk dalam persekutuan gereja, perayaan ulang tahun menjadi sebuah peryaan sukacita dengan maksud dan tujuan sebagai moment untuk bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan yang diberikan-Nya, sebab Dialah sumber kehidupan.
Saudara-saudara Yang Diberkati dan Dikasihi Tuhan Yesus Kristus,.............................
TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA DI BLOG INI. UNTUK MEMPEROLEH KHOTBAH JADI YAKNI KHOTBAH ULANG TAHUN INI,SILAHKAN MENGHUBUNGI KAMI DI sibaranipdt.bendrio@yahoo.co.id  KAMI AKAN MENGIRIMKAN KHOTBAH INI (KHOTBAH JADI DALAM BENTUK WORD BERJUMLAH 8 KHOTBAH) KE ALAMAT EMAIL ANDA. SEKIRANYA SUDI, SAUDARA DAPAT MEMBANTU PELAYANAN KAMI DENGAN CARA BERDONASI KE REK. BRI 345001000817508 a.n. bendrio pandapotan sibarani. biaya yang anda transfer akan sangat berguna bagi pelayanan Gereja Tuhan. TUHAN MEMBERKATI